Jakarta, CNBC Indonesia- Perjalanan Merlot, pinot noir, hingga letupan rosé yang bubbly mendadak tak lagi romantis.
Di rak-rak wine Amerika Serikat (AS), botol asal Prancis kini berada di persimpangan yang tak biasa, terancam tarif imbas tantrum Presiden AS Donald Trump.
Ancaman Trump untuk mengenakan tarif 200% atas wine dan champagne Prancis datang setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak bergabung dalam "Peace Board" versi Washington.
Bagi industri wine, ini alarm keras yang menyentuh titik paling sensitif, akses ke pasar terbesar mereka.
Amerika Serikat adalah pasar nomor satu bagi wine dan spirits Prancis.
Dalam struktur perdagangan global, AS berfungsi sebagai pasar premium, bukan pasar volume.
Melansir Ken Research pasar minuman beralkohol Eropa bernilai sekitar US$430 miliar pada 2019 dan diproyeksikan melampaui US$620 miliar pada 2030.
Hampir 40% dari nilai tersebut berasal dari segmen wine, dengan Prancis sebagai jangkar utamanya. Pertumbuhan pasar ini ditopang oleh premiumisasi atau menaikan nilai jual, bukan lonjakan konsumsi.
Di titik inilah mekanisme tarif menjadi sangat destruktif. Wine dan champagne Eropa dijual ke AS bukan sebagai barang substitusi murah, melainkan produk dengan identitas asal, appellation, dan reputasi. Sesuatu yang prestigious dan bernilai.
Ketika tarif melonjak hingga 200%, harga ritel ikut melonjak tanpa ruang kompromi. Champagne yang sebelumnya masih berada di kisaran konsumsi kelas menengah atas langsung terdorong ke kategori ultra-luxury, menyusutkan basis pembeli secara drastis.
Efeknya menjalar cepat ke seluruh rantai pasok. Champagne hanya diproduksi di sekitar 34 ribu hektare lahan yang dilindungi regulasi ketat. Produksi tak bisa dipindahkan, volume tak bisa ditambah, dan harga anggur sangat bergantung pada stabilitas ekspor. Begitu pasar AS terganggu, tekanan langsung terasa di tingkat kebun, rumah produksi, hingga logistik.
Tekanan ini datang di saat yang paling rapuh. Sepanjang 2024, pengiriman champagne global tercatat menurun lebih dari 9%. Di pasar Amerika sendiri, harga rata-rata champagne justru turun, mencerminkan sensitivitas konsumen terhadap harga dan meningkatnya persaingan dari sparkling wine non-Champagne.
Prosecco Italia menjadi contoh paling nyata, dengan ekspor global yang terus mencetak rekor dan mengisi ruang yang ditinggalkan produk premium Prancis.
Ancaman tarif Trump memperbesar risiko struktural itu. Pertumbuhan jangka panjang bertumpu pada ekspor bernilai tinggi, terutama ke Amerika Serikat.
Ketika jalur ini terganggu, produsen dipaksa mendiversifikasi pasar ke Asia dan negara berkembang. Langkah ini rasional, tetapi mahal dan lambat. Dalam jangka pendek, arus kas tertekan. Dalam jangka panjang, pangsa pasar AS bisa hilang permanen.
Bagi Washington, wine dan champagne adalah target yang efektif. Produk ini bersifat simbolik, terkonsentrasi secara geografis, dan bernilai politik tinggi di Prancis. Tekanan ekonomi terasa cepat dan mudah diterjemahkan menjadi tekanan domestik. Bagi Eropa, ini menjadi pengingat bahwa sektor dengan nilai budaya tinggi justru paling rentan ketika perdagangan dipersenjatai.
Namun risiko juga mengintai dari sisi Amerika. Distributor, restoran, dan pengecer akan ikut terdampak. Champagne dan wine Prancis adalah produk jangkar dalam segmen premium AS.
Ketika harga melonjak ekstrem, penjualan turun, tenaga kerja tertekan, dan konsumen beralih. Karena itu, di Brussel, ancaman tarif ini mulai dibaca sebagai alat koersif, bukan kebijakan dagang yang sepenuhnya rasional.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

