1. Keberagaman
Di Amerika Serikat, seorang wanita kulit putih bepergian jauh bersama putranya yang berusia 6 tahun. Mereka memanggil taksi, dan sopirnya adalah seorang pria kulit hitam.
Anak itu belum pernah melihat orang kulit hitam sebelumnya. Dia merasa takut, lalu bertanya kepada ibunya, “Ibu, apakah orang ini orang jahat? Kenapa kulitnya hitam sekali?”
Sopir taksi itu mendengarnya, dan hatinya terasa perih.
Sang ibu lalu berkata kepada anaknya dengan lembut : “Paman sopir ini bukan orang jahat. Dia orang yang sangat baik.”
Anak itu terdiam sejenak, lalu bertanya lagi : “Kalau dia bukan orang jahat, apakah dia pernah melakukan hal buruk sehingga Tuhan menghukumnya?”
Air mata hampir menggenang di mata sopir itu. Dia sangat ingin tahu bagaimana wanita ini akan menjawab pertanyaan anaknya.
Sang ibu tersenyum dan berkata : “Dia orang baik, dan tidak melakukan hal buruk apa pun.
Di taman rumah kita, ada bunga merah, putih, kuning, dan bermacam-macam warna, bukan?”
“Iya! Iya!” jawab anak itu.
“Kalau begitu, biji bunga itu warnanya apa?”
Anak itu berpikir sejenak, lalu menjawab : “Hitam… semuanya hitam.”
“Benar,” kata sang ibu. “Biji yang hitam itu bisa tumbuh menjadi bunga yang berwarna-warni dan membuat dunia ini menjadi indah dan penuh warna, bukan?”
“Iya!” kata anak itu sambil tersenyum, seolah baru mengerti sesuatu. “Berarti paman sopir bukan orang jahat! Terima kasih, Paman, karena sudah membuat dunia ini menjadi lebih indah. Aku mau berdoa untukmu.”
Anak polos itu pun berdoa dengan sungguh-sungguh.
Air mata sopir itu akhirnya jatuh. Dalam hatinya dia berkata : “Sebagai orang kulit hitam, aku sering dipandang rendah oleh dunia. Tapi hari ini, seorang wanita kulit putih dengan begitu lembut mengajarkan anaknya, menghapus rasa takutnya terhadapku, bahkan mendoakanku dan memberkatiku. Aku sungguh harus berterima kasih kepadanya.”
Tak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Sopir itu segera turun untuk membukakan pintu, lalu berkata dengan penuh haru : “Nyonya, terima kasih. Kata-kata Anda telah membawa terang dan harapan dalam hidup saya. Terima kasih.”
Bukankah wanita itu sangat indah?
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di Amerika Serikat.
Saat pertama kali mendengarnya, kisah ini sungguh membangunkan hati yang tertidur— dan menghangatkan hati yang telah lama terluka.
2. Diskriminasi Rasial
Di sebuah penerbangan maskapai nasional Inggris dari Johannesburg menuju London, pernah terjadi sebuah peristiwa.
Seorang wanita kulit putih berusia sekitar 50 tahun ditempatkan duduk di sebelah seorang pria keturunan Afrika.
Dia merasa sangat tidak nyaman, lalu memanggil seorang pramugari.
Pramugari itu dengan sopan bertanya apa yang bisa dibantu.
Wanita itu berkata dengan nada kesal : “Tidakkah Anda melihat? Anda menempatkan saya duduk di sebelah orang kulit hitam. Saya tidak mau duduk di samping orang dari ras yang menjijikkan seperti ini. Saya minta dipindahkan!”
Pramugari itu menjawab dengan tenang : “Mohon tenang sebentar. Hari ini kabin hampir penuh, tetapi saya akan mencoba mencari apakah masih ada kursi kosong.”
Pramugari pun pergi, dan beberapa menit kemudian kembali.
Dia berkata : “Nyonya, seperti dugaan saya, seluruh kursi kelas ekonomi telah penuh. Saya sudah bertanya kepada kapten, dan beliau mengatakan kelas bisnis juga penuh. Namun… masih ada satu kursi kosong di kelas satu.”
Sebelum wanita itu sempat bereaksi, pramugari melanjutkan : “Perusahaan kami jarang sekali menaikkan penumpang dari kelas ekonomi ke kelas satu. Namun, dalam situasi ini, kapten kami menilai bahwa memaksa seseorang duduk di samping penumpang yang dianggap menjijikkan oleh orang lain adalah sebuah aib besar bagi maskapai kami.”
Pramugari itu lalu menoleh kepada penumpang kulit hitam dan berkata : “Jadi, Tuan, jika Anda berkenan, silakan membawa barang bawaan Anda. Kursi kelas satu telah kami siapkan untuk Anda.”
Sejenak, seluruh penumpang di sekitar terdiam.
Lalu… mereka semua berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.
Renungan Redaksi
Halo para pembaca, semoga kisah hari ini berkenan di hati Anda.
Dua cerita di atas menggambarkan situasi yang mirip, tetapi hasilnya sangat berbeda—semata-mata karena perbedaan sikap dan cara memperlakukan sesama manusia.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa saat kita menghormati orang lain, orang lain pun akan menghormati kita. Saat kita menyambut dunia dengan senyuman, dunia pun cenderung membalas dengan senyuman.
Tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Keberadaan setiap orang adalah setara.
Ketika seseorang merasa dirinya lebih unggul dari orang lain, sesungguhnya yang dia perlihatkan hanyalah ketidaktahuannya sendiri—dan hal itu hanya akan mendatangkan ketidaksukaan dari orang lain. (jhn/yn)



