Evakuasi ATR 42-500, BMKG Lakukan Operasi OMC

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAROS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ikut berperan aktif dalam upaya evakuasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulsaraung Kabupaten Pangkep.

Salah satu bentuk dukungannya dengan fokus pada penanganan kondisi cuaca ekstrem yang kerap menghambat proses evakuasi dan pencarian korban pesawat ATR 42-500.

Dimana BMKG akan melakukan perpanjangan operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.

Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin Makassar, Kukuh Ribudiyanto saat dikonfirmasi Rabu, 21 Januari 2026.

“Ya, kami mengikuti dari Indonesia Air Transport (IAT) ya, karena yang sementara kemarin itu kan tiga hari sampai hari ini kan (Rabu,red). Cuman kan kondisinya sepertinya dari arahan Pak Wamenhub tadi diperpanjang. Cuman enggak tahu nih sampai kapannya kita enggak tahu. Tentu pasti ada nanti muncul kebijakan sampai kapannya,” jelasnya.

Dari prakiraan kita, hujan yang masif ini sampai tanggal 24 Januari dan 25 Januari baru relatif turun, sambungnya.

Dia mengatakan pihak dari BMKG bekerjasama dengan Indonesia Air Transport (IAT), Basarnas, TNI AU serta pihak terkait.

Diakuinya, kondisi cuaca di Sulawesi Selatan akhir-akhir ini memang sering terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat secara terus-menerus.

“Kondisi tersebut tentunya sangat menguras energi bagi para relawan yang membantu proses evakuasi pesawat ATR 42-500 di area Bulusaraung,” katanya.

​Apalagi jika akan dilakukan proses evakuasi melalui jalur udara.

“Helikopter untuk mengevakuasi para korban juga membutuhkan jarak pandang atau visibility yang sangat memadai agar tidak terhalang oleh awan maupun kabut yang ada di sekitar area kejadian. Oleh karena itu, kami dari BMKG bekerjasama dengan IAT, Basarnas, dan juga TNI AU sedang melakukan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC,” jelasnya.

Strategi operasi modifikasi cuaca yang pertama yakni dengan melakukan penyemaian terhadap kabut-kabut ataupun awan-awan tipis di sekitar area jatuhnya pesawat.

“Jadi penyemaian terhadap kabut dengan menggunakan kapur tohor untuk menyerap uap air, sehingga visibility di lokasi tersebut bisa menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Dan yang kedua, tim kami menghujankan awan-awan masif yang akan melewati area evakuasi di atas lautan, agar tidak mengganggu proses jalannya evakuasi di titik jatuhnya pesawat tersebut, sambungnya.

Selain itu pihaknya juga terus melakukan koordinasi secara intensif melalui WhatsApp Group, dengan memberikan update cuaca secara real-time kepada tim Basarnas yang berada di lokasi.

​”Informasi pergerakan hujan dan potensi awan yang terpantau melalui radar kami bagikan melalui radio komunikasi bagi tim yang berada di atas gunung, dan secara visual bagi tim yang berada di posko,” jelasnya. (rin)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jejak Toba Pulp hingga April di Kasus Pemanfaatan Hutan, Berbuntut Pencabutan Izin
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Indonesia Arena Siap Banget Jadi Venue Piala Asia Futsal 2026
• 4 jam lalubola.com
thumb
Gerindra Pastikan Thomas Djiwandono Keponakan Prabowo Sudah Tidak Pegang KTA Partai
• 9 jam lalumerahputih.com
thumb
TOP 5: Wali Kota Madiun Tersangka hingga TransJakarta Akan Buka Rute Blok M-Soetta
• 14 jam laluidntimes.com
thumb
Menteri Hukum Resmikan Posbankum di Sukoreno Kulon Progo
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.