Dwi Agus (50 tahun) menunjukkan sebuah pintu kayu yang warnanya memudar. Papan bagian bawah pintu kayu telah hilang.
Ini bukan pintu rumah Dwi, tetapi salah satu contoh sampah yang ditemui di Kali atau Sungai Code, Kota Yogyakarta.
Sejak 2013, Dwi telah bertugas sebagai Satgas Sungai Pemkot Yogyakarta. Dari dahulu Code yang amat kotor hingga kini semakin elok dipandang.
"Sejak 2013. Tugasnya meliputi pemantauan sampah, pembersihan sampah di sungai, terus dulu sama mantau bangunan di bantaran sungai yang milik sungai. Kalau ada jembatan retak, tanggul retak laporan ke pihak terkait," kata Dwi yang menjabat Koordinator Satgas Sungai Kali Code bagian selatan ditemui, Rabu (21/1).
Hari ini, Dwi bersama rekan-rekannya baru saja selesai turun ke Sungai Code. Mereka membersihkan sampah apa saja yang mengotori sungai.
Menurut Dwi, kini kondisi Sungai Code relatif membaik. Sampah memang masih ada tetapi volumenya tak sebanyak ketika dirinya pertama kali bertugas.
"Dulu lebih parah. Sekarang alhamdulilah lebih baik, lebih tertata. Sudah berkurang sampahnya tidak seperti dulu lagi. Walaupun kalau nanti pas musim kemarau kelihatan banget (sampahnya)," katanya.
Dia berkisah 10 tahun lalu, sampah yang dia temui di sungai cukup ekstrem seperti kasur kapuk. Kini, sampah kasur masih ditemui tapi jumlahnya tak lagi banyak. Kasurnya pun dari bahan busa.
"Kasur ada. Pokoknya ada. Pampers paling banyak. Stirofoam elektronik banyak," katanya.
Dwi juga kerap menjumpai kotoran manusia karena dahulu masih ada yang BAB di sungai.
"Itu dulu. Sekarang sudah nggak. Ya dahulu biasa (ketemu tinja). Sekarang lebih terkondisi," katanya.
Selain soal sampah yang beranekaragam, pekerjaan Dwi tak luput dari risiko. Ketika puncak Merapi hujan deras dia memutuskan tak turun sungai karena debit air pasti tinggi.
Biasa Luka Kena Beling
Kaki terluka karena pecahan beling jadi makanan sehari-hari Dwi dan rekan-rekan.
"Beling sama paku biasa. Pakai sepatu pun tembus. Biasanya kalau sudah kena langsung ke rumah sakit, takutnya nanti tetanus," katanya.
Untuk gaji, Dwi mengaku digaji sesuai UMR. Upah itu dia syukuri meski risiko kerjanya tinggi.
"Ya dicukupkan. Ya alhamdulilah disyukuri," katanya.
Sementara Ngadimin (50 tahun) anggota Satgas Sungai Pemkot Yogyakarta lain mengaku baru bergabung dengan satgas di tahun 2023.
Ngadimin selama ini hidup berdampingan dengan Sungai Code. Sehingga tak canggung dengan pekerjaan ini.
"Canggung nggak. Rumah saya dekat bantaran sungai sudah biasa," kata Ngadimin.
Selain membersihkan, Ngadimin juga mensosialisasikan kebersihan sungai ke warga sekitar.
"Saya pancing untuk bersih-bersih sungai. Terutama di lingkup kita masing-masing," ujar Ngadimin.



