Apindo Khawatirkan Nilai Tukar Rupiah yang terus Melemah

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengaku sangat khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang semakin dalam pada akhir-akhir ini. Beberapa hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir mencapai Rp17.000.

“Kondisi ini sangat memprohatinkan dan memicu kekhawatiran bagi pelaku usaha karena pelemahan yang terjadi sudah berlarut-larut dan jauh lebih dalam dari yang kami perkirakan sebelumnya sehingga bisa menciptakan beban yang berlebihan terhadap kinerja usaha,” ujar Shinta saat dihubungi, Rabu (21/1).

Shinta membeberkan, dalam skenario terburuk, bila pelemahan rupiah terus berlanjut dan tidak segera dikoreksi, dunia usaha mengkhawatirkan kelancaran cash flow yang berpotensi terganggu.

Baca juga : Rupiah Ditutup Perkasa Imbas Pelemahan Dolar AS

Khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki struktur impor besar, sambung Shinta, kontraksi kinerja usaha, dan cost-push inflation di pasar akan membebani pertumbuhan ekonomi jangka pendek-menengah.

“Karena itu, kami berharap pemerintah lebih giat melakukan upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar, baik melalui intervensi moneter maupun intervensi non-moneter seperti penguatan fundamental ekonomi nasional melalui deregulasi, debirokratisasi dan reformasi struktural thd iklim usaha/investasi untuk menstimulasi penerimaan FDI & pertumbuhan ekspor,” ungkap dia.

Di sisi lain, Shinta juga meminta pemerintah melakukan perbaikan disiplin fiskal untuk memulihkan kepercayaan dan demand pasar terhadap bond pemerintah Indonesia dalam mata uang asing.

Ia menambahkan, meskipun instrumen moneter seperti suku bunga acuan dan ketentuan pergerakan modal bisa dikerahkan untuk menciptakan penguatan nilai tukar secara relatif instan, Apindo berharap kedua instrumen ini tidak kembali diperketat dalam jangka pendek-menengah. Sebab itu, kata dia, dapat menciptakan efek yang semakin negatif terhadap pertumbuhan ekonomi sektor riil (memperlambat laju pertumbuhan berbagai seltor ekonomi dan konsumsi pasar). 

“Karena itu, kami berharap instrumen-instrumen intervensi lain, khususnya yang bersifat penguatan terhadap fundamental ekonomi nasional dapat diprioritaskan dan memberikan efek konkret di lapangan,” tandasnya. (H-4)
Published By Indriyani Astuti (21/1/2026, 17.43.13)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BPOM Cek SPPG Polri, Begini Hasilnya
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Video: Kini Beli Beras SPHP Bisa 5 Pack - Ekonomi China Terancam
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Viral! Perkelahian Brutal 2 Lawan 2 Pelajar SMP-SMA di Cianjur, 1 Luka Parah Ditabrak Motor
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Bupati Pati Sudewo Jadi Tersangka KPK, Gerindra Proses Status Keanggotaan
• 5 jam lalumerahputih.com
thumb
Detik-detik Tim SAR Gabungan Angkat Jenazah Florencia Lolita Wibisono dari Lereng Bulusaraung
• 8 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.