KOTA TANGERANG, KOMPAS.com - Kampung Pink, julukan yang melekat bagi warga RW 09 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Pasalnya, warna merah muda terlihat mendominasi dinding-dinding kawasan pemukiman warga tersebut.
Begitu pula dengan gang-gang sempit yang sempat identik dengan kesan kumuh, kini tampil lebih cerah, dihiasi mural warna-warni yang menjadi latar swafoto warga maupun pengunjung yang datang.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, Rabu (21/1/2026), suasana Kampung Pink tampak tenang.
Baca juga: Senangnya Warga Kampung Gabus Didatangi Gibran Saat Banjir, Ditanya soal Kaki Memerah
Meskipun kondisi cuaca gerimis, anak-anak masih terlihat bermain di depan rumah, sementara sejumlah warga duduk bercengkerama di teras.
Di sana, tak terlihat lagi kesan mencekam yang dahulu melekat di kawasan ini.
KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Salah satu tempat kuliner di Kampung Pink yang diisi dengan UMKM warga setempat tanpa dipungut biaya.
Maklum, karena kawasan tersebut masuk zona merah polisi hingga saat ini.
Sebelum dikenal sebagai kampung tematik, Kampung Pink pernah memiliki stigma kurang baik.
Kawasan tersebut sempat dikenal sebagai “Kampung Bandit”. Julukan itu merujuk pada maraknya tindak kriminalitas, seperti narkoba, judi, minuman keras, bahkan hingga sabung ayam juga terjadi di kampung tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kampung yang dikenal tinggi tingkat kriminalitasnya itu berubah.
Ibnu Jandi (65), inisiator sekaligus konseptor Kampung Pink, menceritakan awal mula Kampung Bandit berubah.
Baca juga: BRIN: Ledakan Ikan Sapu-sapu Tanda Sungai Ciliwung Kian Tercemar
Bermula pada 2020, di tengah pandemi Covid-19, sebuah gagasan lahir dari keinginan sembilan orang warga yang dikenal sebagai preman.
Mereka mendatangi Ibnu Jandi, orang yang dihormati oleh warga setempat.
KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Mural Covid-19 yang sebelumnya sempat viral saat awal Kampung Pink berdiri.
Mereka mengatakan bahwa ingin berubah dan bekerja secara positif.
“Awalnya sembilan orang datang ke saya. Mereka bilang ingin berubah, ingin bekerja. Saya sempat tolak karena saya masih belum percaya," ujar Ibnu saat ditemui Kompas.com di Kampung Pink.