Bank Indonesia memastikan ketersediaan uang rupiah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Kepastian ini menjadi bagian dari langkah menjaga kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial, seiring meningkatnya kebutuhan uang tunai khususnya pecahan kecil pada periode tersebut.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali mengatakan BI menaruh perhatian besar pada kesiapan rupiah baik dari sisi jumlah, waktu distribusi, hingga kualitas uang yang beredar di masyarakat.
“Bank Indonesia terus memastikan bahwa penyediaan ruang rupiah kepada masyarakat dalam jumlah yang cukup, kemudian waktunya tepat, kemudian pecahannya sesuai dengan kualitas yang terjaga kepada masyarakat. Ini juga dilakukan dalam periode Ramadan dan Idul Fitri yang akan kita hadapi,” kata Ricky dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Menurut Ricky, BI telah menyiapkan stok rupiah dalam jumlah memadai untuk menopang aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri. Ketersediaan uang tunai diharapkan mampu mengakomodasi peningkatan transaksi masyarakat, baik untuk konsumsi, tradisi berbagi, maupun kebutuhan penukaran uang baru.
“Bank Indonesia telah menyiapkan ruang rupiah dalam stok jumlah yang memadai untuk memenuhi kegiatan ekonomi yang terjadi nanti di Ramadan dan Idul Fitri,” ungkapnya.
Selain memastikan pasokan, BI juga kembali menggelar program khusus penukaran uang yang rutin dilakukan setiap tahun. Program ini difokuskan untuk memudahkan masyarakat memperoleh uang pecahan kecil yang lazim digunakan saat Lebaran.
“Terus untuk khusus bulan Ramadan dan Idul Fitri untuk menghuni kebutuhan penukaran uang, uang kecil biasanya dilakukan oleh masyarakat. Bank Indonesia melaksanakan suatu event kegiatan yang kami sebut dengan Serambi. Serambi ini adalah semarak rupiah Ramadan dan berkah Idul Fitri,” tutur dia.
Pada tahun ini, layanan penukaran uang diperkirakan akan meningkat sejalan dengan kondisi ekonomi dan sosial yang dinilai cukup baik. BI pun memperluas jangkauan layanan, termasuk hingga wilayah terluar, terdepan, dan terpencil (3T), agar akses masyarakat terhadap penukaran uang semakin merata.
“Nah penukaran ini juga kita lakukan menyambut atau mencapai ke daerah 3T yaitu terluar, terdepan, dan terpencil. Pada tahun ini penukaran kita perkirakan akan mengalami peningkatan karena pertumbuhan ekonomi dan kondisi sosial yang baik,” tutur dia.
Untuk mendukung hal tersebut, BI menggandeng 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia serta bekerja sama dengan perbankan. Tahun ini, layanan penukaran uang disebut akan ditingkatkan secara khusus, baik dari sisi jumlah uang yang disediakan maupun kemudahan akses bagi masyarakat.
Langkah-langkah tersebut, menurut Ricky, bertujuan agar masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan merayakan Idul Fitri dengan nyaman.
“Ini semua kita lakukan agar masyarakat dapat melaksanakan ibadah Ramadan dengan baik dan merayakan Idul Fitri dengan indah,” kata Ricky.
Dari sisi kondisi moneter, latar belakang kebijakan ini juga ditopang oleh meningkatnya jumlah uang beredar. Pada Desember 2025, pertumbuhan uang primer (M0) tercatat sebesar 11,4 persen secara tahunan (yoy), melonjak dibandingkan bulan sebelumnya 6,5 persen (yoy). Bahkan, M0 adjusted tumbuh lebih tinggi hingga 16,8 persen (yoy), mencerminkan kuatnya ekspansi likuiditas moneter.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya uang kartal dan giro bank di Bank Indonesia, sejalan dengan menguatnya aktivitas ekonomi dan koordinasi kebijakan fiskal–moneter di akhir tahun. Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2025 tumbuh 8,3 persen (yoy), lebih tinggi dari Oktober 2025 sebesar 7,7 persen (yoy), didorong oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit.
Ke depan, Bank Indonesia menegaskan pertumbuhan uang beredar akan terus dimonitor dan dikelola secara hati-hati melalui sinergi dengan pemerintah, agar tetap mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas moneter.



