Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sampai saat ini terus memperkuat peran pendidikan tinggi vokasi sebagai bagian penting dalam ekosistem pendidikan nasional. Melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemdiktisaintek mendorong pendidikan vokasi untuk melahirkan tenaga profesional yang memiliki daya saing global.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menilai pendidikan vokasi ini menjadi ujung tombak penyediaan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan pasar industri.
“Karena itu, peningkatan kualitas pembelajaran berbasis praktik, penguasaan bahasa asing, sertifikasi kompetensi yang kredibel, serta penguatan jejaring dengan industri dan pemangku kepentingan menjadi fokus utama kebijakan pengembangan vokasi,” ungkapnya kutip Rabu, 21 Januari 2025.
Sebagai upaya konkret memperluas jejaring internasional lanjutnya, Kemdiktisaintek menginisiasi penandatanganan nota kesepahaman antara Asosiasi Pendidikan Guangdong untuk Pertukaran Internasional (Guangdong Education Association for International Exchange/GEAIE) dengan Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI).
“Salah satu poin utama kerja sama ini adalah penerapan skema 1+10+100+1000+10.000,” katanya
Dimana, terusnya skema tersebut mencakup pembentukan satu pusat kerja sama dan mekanisme aliansi, penguatan sepuluh sektor industri utama, penyelenggaraan lebih dari seratus kegiatan pertukaran dan pembelajaran, mobilitas seribu mahasiswa Indonesia–Tiongkok, serta pelatihan bagi sepuluh ribu talenta lokal Indonesia.
Ia mengatakan, jika kerja sama ini membuka peluang strategis bagi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia untuk berkembang secara berkelanjutan.
“Nota kesepahaman ini merupakan peluang yang sangat strategis bagi pendidikan tinggi vokasi. Harapannya, kerja sama ini tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dilaksanakan secara konkret dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Beny.
Kerja sama ini dilaksanakan melalui proyek kolaborasi Lingnan Artisan Polytechnic yang berfokus pada integrasi pendidikan, industri, riset, serta pengembangan talenta. Program tersebut mencakup pertukaran mahasiswa dan tenaga pendidik, pendidikan bersama, pelatihan keterampilan, hingga peningkatan kapasitas dosen vokasi di Indonesia.
Proyek kolaborasi Lingnan Artisan Polytechnic sebelumnya telah menggelar pameran pendidikan di Padang, Sumatera Barat, yang diikuti lebih dari sebelas politeknik dari Provinsi Guangdong. Kegiatan tersebut dinilai berhasil dan akan dilanjutkan di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Selain pembelajaran berbasis praktik, kerja sama ini juga mencakup program sertifikasi kompetensi dan pelatihan bahasa.
Melalui skema kolaborasi tersebut, diharapkan lulusan politeknik Indonesia mampu bersaing di pasar kerja global sekaligus membawa kembali pengalaman dan pengetahuan untuk pengembangan nasional.
Ketua Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia, Muhammad Restu, menilai nota kesepahaman ini menjadi pintu masuk penting bagi politeknik Indonesia untuk berkiprah di tingkat internasional.
“Menjadi tugas kami untuk mengakselerasi kerja sama ini agar segera terwujud. Mahasiswa vokasi yang mendapatkan kesempatan pelatihan atau magang di Guangdong akan memiliki pijakan kuat untuk memasuki pasar kerja global,” kata Restu.
Penandatanganan nota kesepahaman ini turut dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK Ojat Darojat, Presiden GEAIE Zhao Pengfei, serta Ketua Forum Komunikasi Direktur Vokasi Indonesia Ahyar Muhammad Diah.
Editor: Redaktur TVRINews




