Masyarakat kini bisa membeli beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 5 pack mulai Februari 2026. Bulog menyiapkan stok beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton.
Direktur Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan skema penyaluran beras SPHP pada tahun 2026 ini bakal dilakukan sepanjang tahun.
“Jadi sekarang tidak dibatasi 2 pack lagi, tapi boleh jadi 5 pack seperti itu. Ya karena banyak animo dari masyarakat pengennya belinya banyak gitu loh, nggak sedikit itu yang pertama. Kemudian yang kedua juga stok kita kan banyak, jadi biar cepat habis lah,” katanya di Gedung MPR/DPR, Jakarta pada Rabu (21/1).
Bulog memastikan keputusan penyaluran beras SPHP itu tidak akan menyebabkan harga beras anjlok karena skema penyaluran beras SPHP di daerah-daerah sentra produksi pangan akan diperkecil volumenya saat musim panen tiba.
“Jadi kan sentra produksi pangan itu kan Jawa, Sumatera, Lampung, kemudian Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.
Untuk skema penyaluran SPHP yang diperbolehkan hingga 5 pack, Rizal juga menjelaskan bahwa ia juga sudah berkoordinasi agar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bisa memiliki kecukupan modal untuk ikut menjual SPHP tersebut.
“Ya mungkin dalam waktu dekat Februari ini sudah ada kepastian, udah ada turun dukungan anggaran maupun undang-undangnya dan lain sebagainya. Itu kita dukung supaya KDMP sekiranya bisa operasional,” kata Rizal.
Saat ini, KDMP memang menjadi salah satu gerai yang ikut menjual berbagai macam produk Bulog khususnya beras SPHP sebagai Rumah Pangan Kita (RPK). Meski begitu, Rizal menyebut jumlah KDMP yang aktif bertransaksi dengan Bulog masih sedikit disebabkan oleh beberapa tantangan termasuk keterbatasan modal.
“Untuk tahun 2026, terus mendorong agar lebih koperasi yang aktif bertransaksi mengingat saat ini baru sekitar 464 yang aktif melakukan pemesanan dengan Bulog," lanjut dia.
Ia menjelaskan Bulog memang memiliki dua peran yakni sebagai off-taker di hulu yang menyerap hasil panen dan di hilir sebagai mitra kerja KDMP yang mendistribusikan cadangan pangan.
Untuk tahun 2025 sejak KDMP diresmikan sampai Desember, transaksi penjualan Bulog kepada KDMP tercatat mencapai Rp 61,3 miliar. Hal itu terdiri dari penjualan beras SPHP sebanyak 4.577 ton sebesar Rp 50,92 miliar, beras premium 98 ton sebesar Rp 1,43 miliar, gula 70 ton sebesar Rp 1,18 miliar, minyak goreng 521 kiloliter sebesar Rp 7,74 miliar, dan komoditi lainnya sebesar Rp 26 juta
Sementara untuk 2026, sampai 19 Januari total penjualan Bulog terhadap KDMP mencapai Rp 7,2 miliar.
Adapun rinciannya adalah penjualan beras SPHP 499 ton sebesar Rp 5,54 miliar, beras premium 11 ton sebesar Rp 154 juta, gula 4,9 ton sebesar Rp 83 juta, minyak goreng 100 kiloliter sebesar Rp 1,46 miliar dan komoditi lainnya senilai Rp 5,6 juta.




