Konflik Agraria Belum Usai, Legislator Gerindra Minta Pemerintah Buang Ego Sektoral demi Keadilan

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Azis Subekti menyoroti konflik agraria berakar dari benturan peta negara dengan kehadiran masyarakat yang telah lama mendiami kawasan hutan.
  • Penyelesaian konflik kompleks memerlukan kebijakan luas negara, seperti kemitraan, bukan sekadar solusi teknis administrasi sederhana.
  • Keberhasilan reforma agraria diukur dari rasa aman dan akses ekonomi petani, bukan hanya dari penerbitan sertifikat tanah.

Suara.com - Anggota Komisi II DPR RI sekaligus Anggota Panitia Khusus (Pansus) Reforma Agraria dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyoroti akar masalah konflik agraria di Indonesia yang hingga kini masih menjadi tantangan besar, terutama di kawasan hutan.

Menurutnya, konflik agraria sering kali bermula dari benturan antara peta yang dibawa negara dengan kenyataan hidup masyarakat yang sudah lebih dulu ada di lapangan.

"Konflik agraria di kawasan hutan hampir selalu berangkat dari situasi yang sama: negara datang membawa peta, sementara warga telah lebih dulu hadir dengan kehidupan. Garis batas ditetapkan di atas kertas, tetapi sering terlambat atau tidak pernah dikenal oleh mereka yang tinggal di dalamnya," ujar Azis kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).

Azis menjelaskan bahwa persoalan pertanahan saat ini sangat kompleks karena melibatkan berbagai aktor, mulai dari BUMN, perusahaan swasta pemegang konsesi, hingga aset strategis negara.

Hal tersebut, menurutnya, membuktikan bahwa konflik agraria merupakan warisan tata kelola ruang yang terpecah-pecah di masa lalu.

Meski mengapresiasi perubahan pendekatan pemerintah yang kini mulai menggunakan analisis spasial dan penelusuran kronologis, Azis mengingatkan bahwa banyak konflik di kawasan hutan tidak bisa diselesaikan hanya dengan cara-cara teknis sederhana.

Ia menekankan perlunya keberanian negara untuk mengambil jalur kebijakan yang lebih luas, seperti pengaturan pengelolaan atau kemitraan, terutama bagi masyarakat yang sudah menguasai tanah selama puluhan tahun namun terbentur aturan administrasi.

"Negara dipaksa menempuh jalur kebijakan—pengaturan pengelolaan, kemitraan, atau skema pemanfaatan terbatas—yang menuntut kesabaran, koordinasi lintas sektor, dan keberanian keluar dari pola lama," tegasnya.

Azis memberikan contoh keberhasilan penyelesaian konflik di Bali yang mengedepankan dialog, serta di Jawa Timur, di mana redistribusi tanah dibarengi dengan pendampingan ekonomi.

Baca Juga: Stop 'Main Aman', Legislator Gerindra Desak Negara Akhiri Konflik Agraria Permanen

"Tanah yang telah dilegalkan tidak dibiarkan berhenti sebagai simbol hukum, melainkan didorong agar produktif melalui pendampingan usaha. Ketika legalitas bertemu akses, reforma agraria berubah dari dokumen menjadi sumber penghidupan," tambahnya.

Namun, Azis juga memberikan catatan kritis terhadap "sisi gelap" yang masih membayangi, yakni banyaknya desa yang statusnya menggantung akibat ego sektoral antarkementerian.

Ia menyoroti ketidaksambungan antara kebijakan pertanahan, kehutanan, dan penataan ruang yang kerap merugikan masyarakat, termasuk dalam pengakuan wilayah adat.

"Kolaborasi akan kehilangan makna jika berhenti pada rapat dan forum. Ia menuntut keterbukaan data dan keberanian menertibkan ego sektoral yang selama ini justru memperpanjang konflik," katanya.

Azis menekankan bahwa indikator keberhasilan reforma agraria tidak boleh hanya diukur dari jumlah sertifikat yang diterbitkan, melainkan dari rasa aman serta ketersediaan akses modal dan pasar bagi petani.

Ia menganalogikan reforma agraria seperti menata ulang sebuah rumah tua.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BI Catat Transaksi Digital Tembus Rp14,26 miliar, QRIS Melonjak Hampir 140%
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
TNI AU Kerahkan CN-295 Kirim Ransum Dukung Operasi SAR Pesawat ATR 42-500
• 16 jam laluidntimes.com
thumb
KNKT: Pesawat ATR 42-500 Kebablasan Saat akan Landing lalu Tabrak Gunung
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Kementerian PU Percepat Pembersihan RSUD dan Puskesmas Terdampak Bencana di Sumatera
• 15 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Pramono: Investasi Jakarta 2025 Capai Rp270,9 Triliun
• 8 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.