Pernah Tolak Tawaran Fantastis Tim Arab, Mungkinkah Persib Bandung Jadi Pilihan Terbaik Sergio Ramos?

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, BANDUNG —Sergio Ramos pernah dihadapkan pada pilihan yang bagi banyak pesepak bola terdengar mustahil untuk ditolak: gaji fantastis dari Timur Tengah. Klub-klub Arab Saudi datang dengan angka yang bisa menjamin masa depan beberapa generasi. Namun bek legendaris Spanyol itu memilih jalan lain. Ia pulang ke rumah. Ke Sevilla. Ke tempat segalanya bermula—dan tempat luka lama belum sepenuhnya sembuh.

Ramos lahir di Camas, sebuah kota kecil di Andalusia, pada 30 Maret 1986. Sejak usia enam tahun, ia sudah bermain sepak bola bersama Camas CF. Dari sana, ia menapaki jalur klasik pesepak bola Spanyol: akademi Sevilla. Bersama klub itulah bakat Ramos ditempa, dari tim muda hingga Sevilla Atlético di Segunda División B. Namanya mulai dikenal ketika tampil satu tim dengan Jesús Navas dan mendiang Antonio Puerta.

Debut Ramos di La Liga terjadi pada 1 Februari 2004. Ia masuk sebagai pemain pengganti dalam laga tandang melawan Deportivo La Coruña. Musim 2004/2005 menjadi titik lonjakan. Di usia 19 tahun, Ramos tampil 41 kali di semua kompetisi dan membantu Sevilla finis di posisi keenam—cukup untuk mengantar klub lolos ke Piala UEFA.

Namun kisah indah itu retak pada hari terakhir bursa transfer 2005. Secara mengejutkan, Ramos pindah ke Real Madrid. Presiden Sevilla kala itu, José María del Nido, menuduhnya berbohong. Para pendukung Sevilla merasa dikhianati. Sejak hari itu, Ramos bukan lagi anak kebanggaan, melainkan musuh.

Permusuhan itu berlangsung lama. Setiap kali Ramos kembali ke Ramon Sánchez-Pizjuán, siulan dan caci maki selalu menyambut. Bahkan pada 2018, ketika Ramos mencetak dua gol—termasuk penalti panenka—emosi memuncak. Selebrasinya membuat Sevilla melaporkannya ke Komite Anti-Kekerasan. Luka lama kembali terbuka.

Karena itu, ketika Ramos meninggalkan Paris Saint-Germain dan mencari klub baru, Sevilla sempat menutup pintu rapat-rapat. Tawaran dari Arab Saudi datang bertubi-tubi. Al Ahli dan Al Ittihad siap menjadikannya salah satu pemain bertahan dengan bayaran tertinggi dunia. Karim Benzema, sahabat lamanya di Madrid, bahkan mencoba membujuknya.

Namun Ramos menolak. Ia memilih menebus masa lalu.

Pada September 2023, setelah 18 tahun, “anak hilang” itu pulang. Sevilla menerimanya kembali, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pria yang ingin berdamai. Kontraknya hanya hingga 30 Juni 2024, dengan gaji bersih sekitar satu juta euro—nyaris 15 kali lebih kecil dari tawaran Arab Saudi.

“Hari ini adalah hari yang sangat emosional bagi saya. Saya akhirnya pulang ke rumah,” ujar Ramos. Ia meminta maaf secara terbuka kepada publik Sevilla. Ia mengakui kesalahan, mengakui ego masa mudanya, dan berharap bisa menutup pertikaian panjang.

Kini, di usia senja karier, Ramos lebih dikenal sebagai simbol pengalaman dan kepemimpinan ketimbang sekadar bek keras. Lima gelar La Liga, empat Liga Champions, dua Ligue 1, satu Piala Dunia—daftar prestasinya sudah selesai. Yang tersisa adalah makna.

Dan di sinilah cerita ini berbelok jauh—ke Bandung.

Beberapa hari terakhir, kolom komentar Instagram Sergio Ramos mendadak dipenuhi pesan berbahasa Indonesia. Sebagian besar datang dari Bobotoh, suporter Persib Bandung. Nada pesannya beragam, dari candaan hingga ajakan serius.

“Ayo ke Persib Bandung.”

“Hayu ka Persib, Mos.”

“Apa benar kamu akan ke Bandung?”

Fenomena ini mungkin terdengar lucu. Namun di balik hiruk-pikuk media sosial, ada konteks yang lebih rasional. Persib Bandung memang sedang berburu bek tengah baru di bursa transfer putaran kedua Super League 2025/2026. Federico Barba, palang pintu utama musim ini, secara terbuka ingin kembali ke Eropa karena alasan keluarga. Meski manajemen masih menahannya, situasi tetap menggantung.

Persib membutuhkan sosok berpengalaman, pemimpin, dan tenang di bawah tekanan. Sosok yang bukan hanya menutup ruang, tapi juga mengangkat mental tim. Dalam kebutuhan seperti itu, nama Sergio Ramos—yang kini berstatus bebas dan memiliki nilai pasar sekitar Rp13,91 miliar—tiba-tiba tidak terdengar sepenuhnya mustahil.

Angka itu bahkan lebih rendah dibanding nilai pasar Thom Haye, gelandang Persib dan Timnas Indonesia. Secara finansial, Ramos bukan lagi pemain tak tersentuh. Secara usia, ia memang 39 tahun. Tapi secara aura dan dampak, ia masih berada di kelas berbeda.

Jika Persib benar-benar berani, efeknya bisa melampaui lapangan. Sejarah pernah mencatat bagaimana kedatangan Andrés Iniesta ke Vissel Kobe mengubah wajah sepak bola Jepang. Bukan hanya soal gol dan assist, tapi profesionalisme, eksposur global, dan standar baru.

Ramos berpotensi menghadirkan efek serupa di Bandung.

Ia bukan hanya bek. Ia adalah cerita. Tentang pengkhianatan, penebusan, dan pilihan hidup. Tentang menolak uang demi makna. Dan dalam sepak bola modern yang sering terjebak angka, kisah semacam itu justru terasa langka.

Apakah Persib Bandung benar-benar akan menjadi pelabuhan terakhir Sergio Ramos? Mungkin tidak. Mungkin ini hanya mimpi Bobotoh yang lahir dari bursa transfer yang sunyi. Namun sepak bola selalu bergerak dari keberanian mengambil langkah yang dianggap gila.

Dulu Jepang melakukannya. Kini, Bandung sedang bermimpi.

Dan terkadang, mimpi besar adalah awal dari sejarah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menbud resminan penataan lanskap situs Candi Plaosan Klaten
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Wabup Risma Ardi Candra Ditunjuk Jabat Plt Bupati Pati
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kelabui Negara Rp16,31 M, Ditjen Pajak Sita Aset Pengusaha Ini
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Digugat Cerai Suami Tapi Dicabut Lagi, Della Puspita Beberkan Hubungan Rumah Tangganya dengan Arman Wosi: Tunggu Takdirnya Allah
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Foto Baling-Baling Jadi Pesan Terakhir Teknisi ATR 42-500 ke Istri
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.