Klaten, Jawa Tengah (ANTARA) - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan pengembangan atau penataan lanskap Situs Candi Plaosan di Prambanan, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Rabu malam.
Peresmian ini merupakan tahap pertama pengembangan kawasan Candi Plaosan perupa pembangunan pintu masuk kawasan Candi Plasosan (Entrance) dan pembangunan serta penataan area parkir kendaraan pengunjung.
Fadli Zon mengatakan penataan kawasan situs Candi Plaosan ini merupakan upaya pemerintah untuk melestarikan peninggalan sejarah budaya serta menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata yang dapat menarik minat wisatawan.
Fadli Zon juga mendorong pemugaran cagar budaya terutama candi dapat memanfaatkan teknologi terbaru yang dapat mempercepat proses pemugaran.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan tunjuk tokoh-tokoh senior sebagai penasihat
"Seperti pemugaran perwara Candi Pramanan, satu perwara (candi pendamping) membutuhkan waktu 11 bulan, sedangkan di Candi Prambanan terdapat ratusan perwara, bisa-bisa untuk memugar seluruh perwara Candi Prambanan membutuhkan waktu lebih dari lima puluh tahun," katanya.
Kepala Museum dan Cagar Budaya MCB atau "Indonesian Heritage Agency" (IHA) Kementerian Kebudayaan Indira Esti Nurjadin mengatakan pengembangan dan pemanfaatan Candi Plaosan dilaksanakan MCB dengan sistem manajemen Badan Layanan Umum (BLU MCB).
"Sistem pengelolaan keuangan berbentuk badan layanan umum ini diharapkan dapat mewujudkan MCB yang mandiri secara finansial, sehingga pembiayaan pelestarian museum dan cagar budaya tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," katanya.
Menurut dia, MCB pada 2025 memulai pengembangan Candi Plaosan melalui penataan lanskap sebagai upaya untuk meningkatkan layanan publik, sehingga dapat mewujudkan visi dan misi MCB.
Baca juga: Pembangunan rumah budaya di Afrika Selatan butuh waktu setahun
"Pengembangan Candi Plaosan ini berpijak pada branding 'Harmony in Diversity' dengan pesan-pesan yang luar biasa dari Candi Plaosan," katanya.
Ia mengatakan, pesan-pesan tersebut meliputi harmonis dalam kemajemukan berdasarkan dharma, kebijaksanaan, dan cinta, pengetahuan, teknologi dan kearifan mengolah lingkungan,.etos kerja dan keselarasan jiwa.
"Upaya pengembangan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi pemanfaatan Candi Plaosan berdasarkan narasi dan "branding" yang telah disusun oleh Museum dan Cagar Budaya, berupa layanan kepada masyarakat," katanya.
Pengembangan Candi Plaosan untuk mendukung potensi pemanfaatan tersebut, di antaranya dilakukan dengan penataan lanskap berupa, area inti Candi Plaosan (Mandapa), penataan area Religius (Yoga dan Meditasi), penataan area "Relax and Selfie", penataan Entrance Area (Pintu Masuk) Candi Plaosan.
Baca juga: Indonesian Cultural Outlook jadi langkah bangun kemitraan global
Kemudian penataan area publik sebagai tempat "gala dinner", "wedding", "event" dan penataan pinggiran sungai.
"Kemudian penataan area parkir mobil dan sepeda motor penataan area parkir bus, penataan Kantor "Werkeet", dan penataan pintu keluar (Exit)," katanya.
Indira mengatakan, berhubung penataan Candi Palosan membutuhkan waktu dan biaya yang relatif besar, maka MCB melaksanakannya secara bertahap. Pada 2025, penataan tahap I dibiayai dengan anggaran belanja tambahan (ABT) dari Pemerintah RI untuk membangun pintu masuk, area parkir bus dan area parkir mobil/motor.
"Penataan Lanskap Candi Plaosan Tahap I ini merupakan MCB dalam Reimajinasi Warisan Budaya melalui pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan," katanya.
Baca juga: Menbud yakin KGPH Tedjowulan mampu emban amanat dan kolaboratif
Ia mengatakan, hal tersebut diwujudkan melalui tiga pilar strategis, yaitu Pemrograman Ulang, Perancangan Ulang, dan Penyegaran Kembali.
"Ketiga pilar tersebut bertujuan untuk memperkuat peran museum dan cagar budaya sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan interaksi budaya yang relevan dengan tantangan zaman," katanya.
MCB sebagai badan layanan umum terus mendorong keterlibatan aktif berbagai pihak untuk bersama-sama melestarikan dan memajukan warisan budaya Indonesia. Kolaborasi ini mencakup kemitraan strategis, inisiatif bersama, peluang kontribusi bagi individu dan organisasi, serta kesempatan bagi relawan untuk turut berperan dalam upaya pelestarian budaya.
"Keterlibatan berbagai pihak untuk berkontribusi dalam pelestarian cagar budaya, telah berlangsung sejak lama. Bersama MCB, 'Public Private Partnership' semakin terbuka. Sebagai contoh, pada Desember 2025 MCB mendapatkan hibah/pendanaan dari Djarum Foundation untuk pemugaran llima Perwara Candi Plaosan," katanya.
Baca juga: Menbud perkuat kolaborasi swasta dalam revitalisasi warisan budaya
Peresmian ini merupakan tahap pertama pengembangan kawasan Candi Plaosan perupa pembangunan pintu masuk kawasan Candi Plasosan (Entrance) dan pembangunan serta penataan area parkir kendaraan pengunjung.
Fadli Zon mengatakan penataan kawasan situs Candi Plaosan ini merupakan upaya pemerintah untuk melestarikan peninggalan sejarah budaya serta menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata yang dapat menarik minat wisatawan.
Fadli Zon juga mendorong pemugaran cagar budaya terutama candi dapat memanfaatkan teknologi terbaru yang dapat mempercepat proses pemugaran.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan tunjuk tokoh-tokoh senior sebagai penasihat
"Seperti pemugaran perwara Candi Pramanan, satu perwara (candi pendamping) membutuhkan waktu 11 bulan, sedangkan di Candi Prambanan terdapat ratusan perwara, bisa-bisa untuk memugar seluruh perwara Candi Prambanan membutuhkan waktu lebih dari lima puluh tahun," katanya.
Kepala Museum dan Cagar Budaya MCB atau "Indonesian Heritage Agency" (IHA) Kementerian Kebudayaan Indira Esti Nurjadin mengatakan pengembangan dan pemanfaatan Candi Plaosan dilaksanakan MCB dengan sistem manajemen Badan Layanan Umum (BLU MCB).
"Sistem pengelolaan keuangan berbentuk badan layanan umum ini diharapkan dapat mewujudkan MCB yang mandiri secara finansial, sehingga pembiayaan pelestarian museum dan cagar budaya tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," katanya.
Menurut dia, MCB pada 2025 memulai pengembangan Candi Plaosan melalui penataan lanskap sebagai upaya untuk meningkatkan layanan publik, sehingga dapat mewujudkan visi dan misi MCB.
Baca juga: Pembangunan rumah budaya di Afrika Selatan butuh waktu setahun
"Pengembangan Candi Plaosan ini berpijak pada branding 'Harmony in Diversity' dengan pesan-pesan yang luar biasa dari Candi Plaosan," katanya.
Ia mengatakan, pesan-pesan tersebut meliputi harmonis dalam kemajemukan berdasarkan dharma, kebijaksanaan, dan cinta, pengetahuan, teknologi dan kearifan mengolah lingkungan,.etos kerja dan keselarasan jiwa.
"Upaya pengembangan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi pemanfaatan Candi Plaosan berdasarkan narasi dan "branding" yang telah disusun oleh Museum dan Cagar Budaya, berupa layanan kepada masyarakat," katanya.
Pengembangan Candi Plaosan untuk mendukung potensi pemanfaatan tersebut, di antaranya dilakukan dengan penataan lanskap berupa, area inti Candi Plaosan (Mandapa), penataan area Religius (Yoga dan Meditasi), penataan area "Relax and Selfie", penataan Entrance Area (Pintu Masuk) Candi Plaosan.
Baca juga: Indonesian Cultural Outlook jadi langkah bangun kemitraan global
Kemudian penataan area publik sebagai tempat "gala dinner", "wedding", "event" dan penataan pinggiran sungai.
"Kemudian penataan area parkir mobil dan sepeda motor penataan area parkir bus, penataan Kantor "Werkeet", dan penataan pintu keluar (Exit)," katanya.
Indira mengatakan, berhubung penataan Candi Palosan membutuhkan waktu dan biaya yang relatif besar, maka MCB melaksanakannya secara bertahap. Pada 2025, penataan tahap I dibiayai dengan anggaran belanja tambahan (ABT) dari Pemerintah RI untuk membangun pintu masuk, area parkir bus dan area parkir mobil/motor.
"Penataan Lanskap Candi Plaosan Tahap I ini merupakan MCB dalam Reimajinasi Warisan Budaya melalui pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan," katanya.
Baca juga: Menbud yakin KGPH Tedjowulan mampu emban amanat dan kolaboratif
Ia mengatakan, hal tersebut diwujudkan melalui tiga pilar strategis, yaitu Pemrograman Ulang, Perancangan Ulang, dan Penyegaran Kembali.
"Ketiga pilar tersebut bertujuan untuk memperkuat peran museum dan cagar budaya sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan interaksi budaya yang relevan dengan tantangan zaman," katanya.
MCB sebagai badan layanan umum terus mendorong keterlibatan aktif berbagai pihak untuk bersama-sama melestarikan dan memajukan warisan budaya Indonesia. Kolaborasi ini mencakup kemitraan strategis, inisiatif bersama, peluang kontribusi bagi individu dan organisasi, serta kesempatan bagi relawan untuk turut berperan dalam upaya pelestarian budaya.
"Keterlibatan berbagai pihak untuk berkontribusi dalam pelestarian cagar budaya, telah berlangsung sejak lama. Bersama MCB, 'Public Private Partnership' semakin terbuka. Sebagai contoh, pada Desember 2025 MCB mendapatkan hibah/pendanaan dari Djarum Foundation untuk pemugaran llima Perwara Candi Plaosan," katanya.
Baca juga: Menbud perkuat kolaborasi swasta dalam revitalisasi warisan budaya





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5383964/original/082146600_1760706112-Mensesneg_Prasetyo_Hadi.jpg)