Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh China menipu banyak negara melalui kebijakan dan industri energi global. Ia juga melontarkan kritik keras terhadap Eropa yang dinilainya terjebak dalam agenda energi hijau yang justru merugikan perekonomian dan ketahanan energi kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026).
Dalam forum tersebut, Trump membandingkan produksi energi China dan Amerika Serikat serta menekankan lonjakan kebutuhan energi, khususnya untuk pengembangan pabrik kecerdasan buatan (AI).
Ia mengklaim kebijakannya memungkinkan perusahaan besar membangun pembangkit listrik sendiri untuk menghindari krisis energi.
Menurut Trump, pendekatan itu berbeda jauh dengan kebijakan energi hijau yang diterapkan di Eropa. Ia menilai transisi energi yang terlalu agresif telah menyebabkan penurunan produksi listrik dan lonjakan harga energi di berbagai negara Eropa.
Trump secara khusus menyinggung kondisi Jerman dan Inggris. Ia menyebut kedua negara tersebut tidak memaksimalkan potensi cadangan energi yang dimiliki, termasuk di kawasan Laut Utara.
Dalam konteks tersebut, Trump menilai China justru menjadi pihak yang paling diuntungkan. Ia mengatakan China memanfaatkan kebijakan energi negara lain untuk memperkuat dominasinya dalam industri energi global.
“China membuat hampir semua PLT angin, namun saya belum menemukan ladang angin di China. Anda pernah memikirkan hal itu?” kata dia.
Trump menilai China cerdas dalam memanfaatkan situasi tersebut. Menurutnya, negara yang dijuluki Negeri Bambu itu memproduksi teknologi energi terbarukan, lalu menjualnya ke negara lain dengan harga tinggi.
“Mereka pintar. China sangat pintar. Mereka membuatnya, mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Mereka menjualnya kepada orang-orang bodoh yang membelinya,” kata dia.
Pernyataan Trump tersebut kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap China dan kebijakan energi hijau global, sekaligus menjadi sinyal arah kebijakan energi Amerika Serikat yang lebih menekankan pada produksi domestik dan keamanan pasokan energi.




