Coba tengok deretan poster yang menghiasi lobi bioskop atau aplikasi pemesanan tiket zaman sekarang. Apa yang mendominasi pandangan mata? Wajah perempuan berambut panjang yang menyeringai, kain kafan yang melotot, atau adegan ritual pemujaan setan yang mencekam.
Layar lebar tanah air sedang mengalami kerasukan massal. Hampir setiap minggu, judul film baru bermunculan dengan premis yang nyaris seragam, seperti mengeksploitasi ketakutan purba manusia terhadap hal gaib. Fenomena tersebut bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah obsesi industri yang kebablasan. Sineas dan rumah produksi seakan berlomba memeras cerita mistis lokal sampai kering demi mendulang angka penonton, tanpa mempedulikan degradasi nilai budaya yang terjadi di dalamnya.
Komodifikasi Rasa Takut dan Matinya KreativitasPublik perlu menyadari bahwa industri perfilman masa sekarang sedang terjangkit penyakit komodifikasi akut. Mahrita dan Surawan dalam tulisannya menyoroti bagaimana selera penonton dan dinamika sosial telah membentuk warna baru dalam sinema. Horor bukan lagi soal seni menakut-nakuti dengan elegan, melainkan mesin pencetak uang. Genre tersebut dianggap sebagai jalan pintas paling aman untuk meraup keuntungan komersial atau cuan dalam bahasa gaulnya. Produser paham betul bahwa masyarakat Indonesia memiliki kedekatan kultural dengan hal mistis, sehingga genre horor selalu punya pasar yang setia.
Akibatnya, kualitas cerita sering kali dikesampingkan. Banyak film horor yang hanya menjual kaget-kagetan atau jumpscare murahan dengan volume suara yang memekakkan telinga. Esensi cerita yang kuat dan pembangunan atmosfer yang mencekam justru hilang. Penonton disuguhi teror visual yang dangkal tanpa kedalaman makna. Hantu yang muncul di layar tidak lebih dari sekadar boneka yang dimainkan untuk memuaskan hasrat adrenalin sesaat. Hal tersebut merupakan bentuk kemalasan kreatif yang nyata. Ketika sineas enggan menggali filosofi dibalik sebuah mitos dan hanya mengambil kulit luarnya saja untuk dijual, maka yang terjadi yaitu pendangkalan budaya secara sistematis.
Desakralisasi Nilai Mistis NusantaraDahulu, masyarakat Nusantara menempatkan entitas tidak kasat mata dalam posisi yang penuh rasa hormat, atau setidaknya, penuh kehati-hatian. Ada tata krama yang harus dijaga antara dunia manusia dan dunia lain. Namun, layar perak telah mengubah persepsi tersebut secara drastis. Sebuah ulasan tajam dari Netralnews tahun lalu pernah menyebut bahwa industri film horor Indonesia seolah sedang menistakan budaya Jawa. Pernyataan tersebut terdengar keras, namun memiliki dasar yang kuat. Budaya Jawa dengan kekayaan mitos dan tradisinya sering kali dijadikan objek eksploitasi tanpa riset yang memadai.
Contoh nyata dapat dilihat pada representasi ritual seperti ruwatan. Dalam tradisi aslinya, ruwatan merupakan proses penyucian diri yang sakral, sebuah upaya membuang sial atau dosa agar manusia kembali suci. Sayangnya, sinema horor sering memelintir makna luhur tersebut. Ruwatan digambarkan sebagai ritual pengundang setan atau praktik ilmu hitam yang menyeramkan. Distorsi tersebut sangat berbahaya karena dapat menyesatkan pemahaman generasi muda terhadap warisan leluhurnya sendiri. Remaja yang tumbuh dengan asupan film tersebut menganggap budaya tradisional sebagai sesuatu yang syirik atau menakutkan, bukan sebagai identitas bangsa yang harus dilestarikan.
Sosok hantu lokal pun mengalami nasib serupa. Kuntilanak atau sundel bolong dalam banyak cerita rakyat sebenarnya merepresentasikan tragedi perempuan korban kekerasan, kini kehilangan sisi kemanusiaannya. Sosok tersebut direduksi menjadi monster haus darah yang hanya ingin membunuh. Nilai tragis dan pesan moral dibalik kemunculan hantu tersebut hilang tidak berbekas sehingga digantikan oleh visualisasi menyeramkan yang bertujuan murni untuk hiburan. Hal tersebut yang menjadi sebagai desakralisasi. Sesuatu yang dulunya punya nilai spiritual, kini tidak lebih dari badut penakut di pasar hiburan.
Eksploitasi Simbol Agama Demi SensasiPersoalan lain yang tidak kalah meresahkan yaitu penggunaan simbol agama secara sembarangan. Masa sekarang banyak film horor yang menggunakan atribut keagamaan seperti ibadah sholat, ayat suci, atau sosok pemuka agama hanya sebagai bumbu penyedap rasa takut. Adegan orang yang sedang sholat lalu diganggu oleh makhluk halus seolah menjadi template wajib. Tujuannya yaitu menciptakan ironi bahwa bahkan saat beribadah pun kau tidak aman. Narasi semacam itu, jika terus-menerus diproduksi, berpotensi mendegradasi kesakralan ibadah tersebut.
Simbol agama seharusnya menjadi sumber ketenangan dan kekuatan spiritual. Namun dalam logika film horor komersial, simbol tersebut justru dibenturkan dengan kekuatan jahat demi efek dramatis. Sering kali digambarkan bahwa doa-doa tidak mempan mengusir setan, atau pemuka agama justru kalah sakti dibandingkan iblis. Eksploitasi tersebut sangat tidak etis. Agama dan kepercayaan masyarakat dijadikan alat untuk memanipulasi emosi penonton demi tiket bioskop. Produser seakan tidak peduli pada dampak psikologis jangka panjang yang dapat timbul, asalkan filmnya viral dan menjadi perbincangan di media sosial.
Dampak Psikologis pada Generasi MudaDampak dari paparan konten horor tanpa henti ternyata lebih serius daripada sekadar mimpi buruk satu malam. Riset dari Mahrita dan Surawan menyoroti kaitan antara desakralisasi nilai mistis dengan resiliensi psikologis remaja. Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang rentan. Emosi dan cara berpikir anak muda masih berkembang. Ketika remaja terus-menerus disuguhi tontonan yang menampilkan dunia gaib sebagai ancaman teror yang tidak terkendali, tingkat kecemasan akan meningkat.
Banyak remaja yang menjadi takut sendirian, cemas berlebihan saat berada di tempat gelap, atau bahkan paranoid terhadap hal-hal yang sebenarnya wajar. Ketahanan mental atau resiliensi tergerus oleh rasa takut irasional yang ditanamkan oleh film. Hal tersebut diperparah dengan minimnya pendampingan orang tua. Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa tontonan horor yang desakralisasi nilai mistis bisa merusak mental anak. Keluarga seharusnya menjadi benteng yang memberikan pemahaman rasional, namun sering kali justru ikut larut dalam euforia film horor tersebut. Generasi muda akhirnya tumbuh menjadi individu yang mudah cemas dan gagap dalam memaknai realitas, karena alam bawah sadar sudah dipenuhi oleh imajinasi horor buatan industri.
Mengembalikan Marwah Sinema dan Budaya
Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kritik bukan berarti melarang total produksi film horor. Genre horor menjadi bagian sah dari ekspresi seni. Namun, pendekatannya harus diubah. Sineas memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan riset mendalam sebelum mengangkat elemen budaya atau agama ke dalam karyanya. Jangan sampai warisan leluhur yang agung menjadi korban distorsi demi keuntungan sesaat.
Sudah waktunya industri perfilman Indonesia naik kelas. Buatlah film horor yang cerdas sehingga tidak hanya mengandalkan jumpscare, tapi juga membangun narasi yang kuat dan menghormati akar budaya. Kembalikan fungsi folklore sebagai media pendidikan moral, bukan sekadar teror. Hantu dan mitos lokal bisa menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, nilai etika, atau kritik sosial, seperti yang dilakukan oleh beberapa sineas visioner di negara lain.
Penonton juga memegang peran kunci. Publik harus lebih kritis dalam memilih tontonan. Jangan mudah tergiur oleh promosi viral yang sensasional. Apresiasi perlu diberikan pada karya yang berani menawarkan perspektif baru dan menghargai budaya, bukan pada karya yang hanya mengeksploitasi ketakutan. Jika pasar mulai menuntut kualitas, maka produser mau tidak mau harus berbenah.
Pada akhirnya, kuntilanak, pocong, dan segala entitas mistis Nusantara menjadi bagian dari kekayaan cerita bangsa. Jangan biarkan para hantu terus-menerus dikapitalisasi hingga kehilangan makna sejatinya. Mari tempatkan kembali mistisisme Nusantara pada porsinya yang tepat yaitu sebagai warisan budaya yang penuh misteri dan kearifan, bukan sekadar badut penakut penghasil uang bagi segelintir pemodal. Kebanggaan akan budaya sendiri harus dimulai dengan cara memperlakukannya dengan hormat, bahkan di dalam gedung bioskop yang gelap sekalipun.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478815/original/019074800_1768927583-6.jpg)
