Bisnis.com, JAKARTA – Sederet dana pensiun di Eropa melepas kepemilikan obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury.
Terbaru, dana pensiun Swedia, Alecta, mendivestasikan sebagian besar kepemilikannya atas obligasi pemerintah Amerika Serikat sejak awal 2025, didorong meningkatnya risiko makroekonomi di AS.
Hal itu disampaikan Chief Investment Officer Alecta, Pablo Bernengo. Sebagai dana pensiun swasta terbesar di kawasan Nordik, Alecta menerapkan apa yang disebutnya “pendekatan bertahap” dalam memangkas portofolio obligasi pemerintah AS.
“Keputusan tersebut berkaitan dengan berkurangnya prediktabilitas kebijakan AS, defisit anggaran yang membengkak, serta lonjakan utang nasional,” ungkap Bernengo seperti dikutip Bloomberg, Kamis (22/1/2026).
Divestasi tersebut mencakup “mayoritas” dari total kepemilikan, seiring meningkatnya risiko pada obligasi pemerintah dan nilai tukar dolar.
Berdasarkan laporan harian Dagens Industri, Alecta mengantongi sekitar 100 miliar krona (sekitar US$11 miliar) US Treasuries pada awal 2025.
Baca Juga
- Sorak Sorai Rusia saat Trump Peras Uni Eropa soal Greenland
- Begini Cara Trump Rebut Greenland yang Konon Tak Akan Pakai Kekerasan
- Forum Davos Dibayangi Ketegangan Trump, Greenland, dan Eropa
Bernengo menambahkan Alecta memantau perkembangan di Greenland “sangat dekat”, meski belum melihat alasan untuk merevisi pandangan risiko terhadap AS.
Langkah Alecta ini menyusul langkah serupa oleh dana pensiun asal Denmark, AkademikerPension, yang menyatakan akan keluar dari US Treasuries paling lambat akhir bulan ini karena meningkatnya risiko kredit.
AkademikerPension menilai kebijakan Presiden Donald Trump telah memunculkan risiko kredit yang terlalu besar untuk diabaikan.
“Pada dasarnya AS bukan kredit yang baik, dan dalam jangka panjang keuangan pemerintah AS tidak berkelanjutan,” ujar CIO AkademikerPension, Anders Schelde.
AkademikerPension, yang mengelola sekitar US$25 miliar dana tabungan akademisi, memegang sekitar US$100 juta US Treasuries pada akhir 2025. Meski kecil dalam konteks pasar Treasury AS, rencana divestasi ini dipandang sebagai langkah simbolis penting ketika investor institusional meninjau ulang status aset aman.
Schelde menyebut wacana Trump untuk mengambil alih Greenland, kekhawatiran atas disiplin fiskal, serta prospek pelemahan dolar sebagai alasan penarikan eksposur terhadap AS.
Ketegangan meningkat seiring ancaman Trump terhadap Greenland yang merupakan wilayah dalam Kerajaan Denmark, yang berulang kali menegaskan pulau tersebut tidak untuk dijual.
“Jin itu sudah keluar dari botol,” kata Schelde.
Ia mengakui situasi bisa mereda dalam beberapa bulan, namun mempertanyakan risiko jangka menengah hingga panjang. Menurutnya, di Eropa kian menguat kesadaran untuk berdiri di atas kaki sendiri.





