Aku sering mendengar kalimat-kalimat yang terdengar begitu benar. Terlalu benar, bahkan. Kalimat yang diucapkan dengan suara teduh, disalin berulang-ulang di buku, poster, dan ceramah.
“Jika ingin menuntut ilmu, jadilah gelas kosong.”
Indah, rapi, dan tampak bijak. Namun di kepalaku, kalimat itu tidak pernah benar-benar tenang. Ia duduk seperti catatan kaki yang terus berkedip, menyimpan logika retak dan sebuah bom waktu bernama dogma.
Jika kalimat itu dimaknai sebagai adab—sikap rendah hati murid kepada guru—aku mengangguk. Sopan santun memang perlu. Ego memang kadang harus diparkir.
Namun, ketika kalimat itu berubah dari etika menjadi cara berpikir, di situlah pikiranku mulai berdiri dan menatap curiga.
Karena sejak kapan manusia diciptakan sebagai wadah pasif? Sejak kapan pikiran dirancang seperti gelas kaca? Diam, kosong, menunggu siapa pun datang menuangkan apa saja?
Gelas kosong tidak memilih air. Tidak bertanya dari mana asalnya. Tidak peduli apakah air itu jernih atau keruh. Ia hanya menerima dan diam.
Di situlah dogma bekerja paling rapi. Tidak dengan teriakan, tetapi dengan metafora yang tampak sopan.
Bagiku, pikiran manusia bukan gelas. Ia lebih mirip mata air. Ia sudah ada sejak awal. Ia mengalir. Ia bisa keruh jika diracuni dan jernih jika dijaga. Tugas pendidikan bukan mengisinya, melainkan memastikan alirannya tetap hidup.
Lalu biasanya muncul sang penengah bijak, sambil mengangkat alis: “Itu kan untuk anak-anak. Mereka belum bisa berpikir kritis.”
Kalimat ini juga terdengar masuk akal, bahkan sampai dipikirkan lebih lama dari tiga detik.
Justru karena mereka anak-anaklah, kebiasaan berpikir itu harus dilatih. Bukan kelak. Bukan nanti setelah dewasa. Namun, sejak mereka mulai bertanya “kenapa?” Karena apa yang dilatih sejak kecil bukan isi pikirannya, melainkan cara berpikirnya.
Di rumah, aku kadang melakukan eksperimen kecil yang mungkin terdengar sesat bagi kurikulum. Anak bertanya sesuatu. Aku jawab "ngawur".
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya, tetapi karena aku ingin melihat satu hal penting:
Apakah mereka menelan jawabanku bulat-bulat, atau berhenti sejenak dan berkata, “Kayaknya itu nggak masuk akal deh.”
Jika mereka mengangguk saja, aku tahu: masih perlu dilatih. Jika mereka membantahku dengan logika sederhana, aku tersenyum diam-diam. Karena di momen itu, yang tumbuh bukan pengetahuan, melainkan keberanian berpikir.
Inilah yang bagiku disebut kemandirian intelektual. Bukan melawan guru dan menuhankan akal, melainkan tidak menyerahkan pikiran kepada siapa pun secara cuma-cuma.
Aku tidak ingin melahirkan manusia “Kata si A” atau “Kata si B”, apalagi “Katanya.”
Aku ingin manusia yang berkata, “Menurut pikiranku setelah kupahami, kupikirkan, dan kupertanggungjawabkan.”
Itulah manusia yang merdeka berpikir. Bukan bebas tanpa batas, melainkan tahu di mana batas berada. Dan jika perlu, tahu mengapa batas itu layak dilewati.
Karena dogma tidak selalu datang membawa cambuk. Kadang ia datang membawa gelas. Kosong. Kemudian, ia memintamu percaya bahwa kosong adalah kebajikan tertinggi.
Padahal, yang kita butuhkan bukan pikiran yang kosong, melainkan pikiran yang hidup.




