CEO Microsoft AI: 5 Tahun Lagi, Semua Orang Punya Asisten AI yang Bantu Kerjaan

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

AI sekarang ini telah dijalankan untuk melengkapi fungsi pada mesin pencari, smartphone, alat navigasi, dan software produktivitas. Setelah ini semua, CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, memprediksi dalam lima tahun ke depan, sebagian besar orang akan memiliki asisten AI pribadi yang mengenal mereka dengan baik dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari.

Sistem yang dimaksud Mustafa ini, tidak seperti chatbot AI yang melakukan sesuatu setelah diberi perintah. Sistem AI di masa depan, akan belajar dari apa yang dilakukan pengguna, di mana mereka berada, apa yang disukai, dan apa yang diinginkan.

Menurut laporan Times of India, Mustafa juga menjelaskan, sistem AI masa depan akan mampu melihat dan mendengar penggunanya, serta memahami situasi, preferensi, dan alasan mereka melakukan sesuatu

Pengalaman ini seperti memiliki teman atau asisten yang selalu siap membantu dalam pengambilan keputusan, dan mangatasi masalah yang muncul.

Mustafa Suleyman dikenal sebagai pengusaha AI asal Inggris. Ia adalah salah satu pendiri perusahaan AI DeepMind, yang kemudian diakuisisi Google. Dia kemudian mendirikan perusahaan Inflection AI, yang mengembangkan machine learning dan generative AI. Pada Maret 2024, Microsoft menunjuk Mustafa sebagai EVP sekaligus CEO Microsoft AI, unit baru yang dibentuk untuk mengembangkan teknologi AI Microsoft. Salah satu pendiri Inflection AI, Karen Simonyan, juga bergabung sebagai Chief Scientist di Microsoft AI.

Pernyataan Mustafa telah mendorong diskusi panjang di komunitas teknologi, tentang seberapa cepat AI berkembang dalam kehidupan manusia. Gagasan ini juga bikin orang khawatir tentang privasi, kontrol, dan ketergantungan manusia pada teknologi untuk jangka panjang.

Di sisi lain, ini menunjukkan bagaimana industri AI bergerak menuju sistem yang lebih personal dan sadar dengan lingkungannya. Semata dilakukan untuk membantu pengguna dari sekadar mengotomatiskan tugas.

Dengan cara kerja yang selalu aktif, artificial intelligence juga menarik perhatian industri tentang seberapa besar sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Konsumen juga mempertimbangkan soal pemanfaatan daya perangkat keras yang terus disedot. Di level yang lebih tinggi, para pembuat kebijakan ditantang dalam menyusun etika dan hukum untuk memagari dampak AI dalam keamanan dan keselamatan pengguna.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waka MPR Apresiasi Ketegasan Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Buntut Bencana Sumatra
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Komisi VII DPR RI minta KPI Desa Wisata fokus naik kelas
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Video: Dinosaur National Monument Park - Kemacetan Jakarta Naik
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hujan Semalaman Catatkan Rekor, Banjir Menggila-Korban Jiwa Berjatuhan
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Belajar dari David Beckham: Menghadapi Kritik Anak dengan Kepala Dingin
• 19 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.