800 Siswa di Grobogan Keracunan Makanan MBG, SPPG Bertanggung Jawab

fajar.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kasus keracunan akibat Makanan Bergizi Gratis (MBG) kian mengkhawatirkan masyarakat. Seperti yang terjadi di Grobogan, Jawa Tengah baru-baru ini. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 803 siswa mengeluh pusing, mual, muntah, hingga diare.

Hal ini diduga merupakan gejala keracunan yang muncul setelah mengkonsumsi makanan-makanan yang disajikan dalam piring Makan Bergizi Gratis.

Ahli Gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, menguraikan sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya keracunan pada sebuah makanan. Salah satunya akibat adanya bakteri yang terdapat di bahan makanan, yang kemudian tidak dikelola sesuai prosedur.

Sri Raharjo mengungkapkan, bahan pangan hewani memiliki risiko tinggi keracunan apabila diolah dengan cara yang salah, karena bakteri secara alami terdapat di saluran pencernaan hewan.

Menurut dia, sejatinya ada beberapa cara pengolahan makanan dapat dilakukan untuk mengantisipasi kasus keracunan ini, seperti dengan memastikan fasilitas yang digunakan untuk mengolah makanan benar-benar terjaga kebersihannya. Selain itu, cara pengolahan makanan juga harus dilakukan dengan tepat.

“Pengolahan makanan paling aman dilakukan dengan suhu panas yang merata,” ujarnya dikutip dari situs resmi UGM, Kamis (22/1/2026).

Kedepannya, ia menyarankan untuk memastikan target yang diolah memang sudah sesuai dengan kapasitas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas makanan agar tetap terjaga dengan baik, sehingga aman untuk dikonsumsi. Dalam hal ini, SPPG dan mitra terkait memiliki tanggung jawabnya masing-masing untuk menjaga makanan tetap memenuhi standar keamanan pangan.

Sri Raharjo juga menyayangkan selama ini lebih banyak dipublikasi tentang peristiwa kasus keracunan MBG, dimana sampel makanan masih diuji di laboratorium.

Tapi Hasil dari pengujian tersebut kerap belum ditindaklanjuti secara jelas dan tegas. Ia menyarankan juga media menyampaikan hasil dari uji laboratorium sehingga SPPG memiliki kepastian dari hasil pemeriksaan, baik mengenai penyebab keracunan maupun langkah pencegahan yang mesti dilakukan.

“Media selalu memberitakan jika sampel pangan “sedang diuji,” namun belum pernah diberitahukan hasilnya kepada publik. Hal tersebut perlu ditindaklanjuti lagi, supaya SPPG bisa mengetahui penyebab dan tindakan pencegahannya,” tegasnya. (Pram/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pastikan Pemenuhan Huntara dan Infrastruktur Pelayanan Dasar Pascabencana, Hari Ini Menko AHY Kembali ke Aceh Tamiang
• 1 jam laludisway.id
thumb
Balap Lari Liar Pakai Taruhan, Polisi Amankan 8 Pelajar di Jaksel
• 11 menit laludisway.id
thumb
Kejagung Selidiki Dugaan Pidana Terkait HGU 6 Perusahaan Milik SGC di Lampung
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Suami Prof. Stella Christie Kecelakaan Ski di Colorado, Istana Pastikan Koordinasi dengan KBRI
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Enzy Storia Cantik Bersinar, Brand Primer Wajah Andalan untuk Hasil Flawless
• 17 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.