Kronologi Mbak Rara Diusir saat Ritual Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Sang Pawang Hujan Langgar Aturan?

grid.id
9 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Mbak Rara kepergok diusir saat ritual Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo. Sang pawang hujan tampaknya dianggap langgar aturan.

Viral video di media sosial terkait aksi pengusiran pawang hujan, Rara Istiati Wulandari atau Mbak Rara saat prosesi Labuhan di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pihak Keraton Yogyakarta pun memberikan penjelasan terkait peristiwa itu.

Berikut kronologi Mbak Rara diusir saat ritual Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo. Sang pawang hujan tampaknya dianggap langgar aturan.

Keraton Yogyakarta memberikan klarifikasi terkait beredarnya video di media sosial yang menampilkan pawang hujan Rara Istiati Wulandari, atau yang dikenal sebagai Mbak Rara, yang diduga diminta meninggalkan lokasi saat prosesi Labuhan di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Senin (19/1/2026).

Sebagai informasi, upacara adat Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kenaikan Takhta ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Rangkaian prosesi diawali dengan serah terima ubarampe di Kantor Kapanewon Kretek, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama di Cepuri Parangkusumo. Setelah itu, ubarampe kembali didoakan sebelum akhirnya dilarung ke Samudra Hindia sebagai bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi keraton, masyarakat, serta negara.

Pihak di Luar Keraton Wajib Mengantongi Izin

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta, GKR Condrokirono, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian pelaksanaan Hajad Dalem Labuhan di Pantai Parangkusumo pada Senin (19/1/2026) sepenuhnya dilaksanakan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.

"Jadi pada dasarnya semua pelaksanaan Hajad Dalem kemarin adalah dari Abdi Dalem Keraton Yogyakarta," ujarnya dilansir dari Antara.

Ia menambahkan, agenda keraton yang bersifat terbuka memungkinkan masyarakat untuk hadir menyaksikan jalannya prosesi, dengan catatan tetap menjaga ketenangan serta ketertiban sesuai dengan tata aturan yang berlaku.

"Untuk agenda yang memang terbuka untuk umum, ini berarti masyarakat diperbolehkan untuk hadir menyaksikan dengan menjaga ketenangan dan ketertiban demi kelancaran acara, sesuai tata aturan yang berlaku pada agenda tersebut," terangnya.

 

GKR Condrokirono juga menegaskan bahwa setiap individu maupun lembaga di luar struktur keraton yang ingin terlibat dalam agenda keraton wajib menempuh prosedur perizinan resmi.

"Jika ada pihak luar baik perorangan maupun lembaga akan terlibat dalam agenda keraton, harus ada izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura," pungkas Putri kedua Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X itu.

Sebelumnya, sebuah video beredar luas di media sosial yang menampilkan pawang hujan Rara Istiati Wulandari, atau yang dikenal sebagai Mbak Rara, berada di lokasi prosesi Labuhan di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, disertai narasi yang menyebutkan adanya dugaan bahwa ia diminta meninggalkan rangkaian upacara adat tersebut.

Dikutip dari akun Instagram @kompascom, Mbak Rara tampak mengenakan kebaya berwarna hitam dengan konde di kapalanya. Ia tampak sibuk menelepon saat didatangi oleh sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Sang pawang hujan itu mengaku sedang menunggu mobil yang akan menjemputnya di Pantai Parangkusumo. Mbak Rara bahkan tampak panik saat berhadapan dengan para abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, upacara adat Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kenaikan Takhta ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Rangkaian prosesi dimulai dengan serah terima ubarampe di Kantor Kapanewon Kretek, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama di Cepuri Parangkusumo. Selanjutnya, ubarampe kembali didoakan sebelum akhirnya dilarung ke Samudra Hindia sebagai simbol rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi keraton, masyarakat, serta negara. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Anak-anak Aceh Tamiang Ikuti Pemulihan Mental dengan Bermain Bersama
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Guru PPPK Berada di Persimpangan, Honorer Muda jadi CPNS, Aliansi R2 R3 Bereaksi
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Black Box Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh Sudah Diserahkan ke KNKT
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Penulis Beby Salsabila Ungkap Cerita Nyata Film Tolong Saya! (Dowajuseyo)
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menpar Ungkap 5 Program Unggulan Kemenpar 2026, Fokus Kualitas dan Digitalisasi
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.