FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Identitas jenazah korban laki-laki dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di gunung Bulusaraung akhirnya terungkap.
Hasil pemeriksaan post mortem dan ante mortem yang dilakukan di Posko DVI Bidokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Makassar, Rabu (21/1/2026) malam, memastikan korban bernama Deden Maulana.
Deden diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang bertugas sebagai pengelola barang milik negara.
Ia menjadi salah satu penumpang dalam pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung.
Usai proses identifikasi selesai, peti jenazah almarhum dibungkus terpal berwarna biru sebelum diserahkan secara resmi oleh Tim Dokpol Bidokkes Polda Sulsel kepada pihak keluarga.
Penyerahan dilakukan melalui istri almarhum yang didampingi oleh iparnya, Asep Hilman Rosadi.
Selanjutnya, jenazah Deden Maulana diangkut menggunakan ambulans milik Dokpol menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros.
Dari sana, jenazah dijadwalkan diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat kargo untuk proses pemakaman.
Istri almarhum tampak mengenakan cadar, ia sangat terpukul dan memilih tidak memberikan keterangan kepada awak media.
Di sisi lain, perwakilan maskapai penerbangan terlihat berupaya membatasi akses jurnalis untuk mendapatkan pernyataan dari pihak keluarga.
Untuk diketahui, Deden Maulana ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 14.20 Wita.
Jenazah berada di lereng Gunung Bulusaraung dengan kedalaman sekitar 300 meter, sehari setelah pesawat nahas tersebut dilaporkan menabrak gunung pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Proses evakuasi jenazah baru dapat dilakukan setelah tim SAR berhasil memindahkan korban ke area terbuka di Dusun Lampeso, Kecamatan Cendrana, Kabupaten Maros.
Evakuasi kemudian dilakukan menggunakan Helikopter Dauphin HR-3601 milik Basarnas dengan metode hoist operator.
Sebelumnya, Asep Hilman Rosadi, adik ipar Deden Maulana, mengaku kedatangannya ke Makassar difasilitasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Ia ingin memastikan langsung perkembangan pencarian korban sekaligus menghindari informasi simpang siur yang beredar di media sosial.
“Saya keluarga dari bapak Deden Maulana, PNS dari Kementerian Kelautan yang ikut di pesawat,” ujar Asep saat ditemui di Posko AJU, Selasa (20/1/2026).
Ia mengatakan, dirinya berangkat dari Bandung dengan satu tujuan, mencari informasi yang valid dan jelas terkait kondisi korban.
Menurutnya, informasi yang beredar di TikTok maupun Instagram justru kerap menambah kegelisahan keluarga.
“Sebagai keluarga, tentunya mencoba mencari informasi di posko ini. Alhamdulillah saya ucapkan terimakasih banyak, Basarnas, TNI, relawan, dan semua, alhamdulilah saya diterima dengan baik,” imbuhnya.
Asep mengaku, penjelasan langsung dari petugas di posko membuat keluarga lebih tenang.
Informasi yang disampaikan petugas posko jauh lebih akurat dibanding kabar yang beredar di media sosial.
“Saya diberikan informasi-informasi yang tentunya lebih jelas. Karena jujur saja kami dari pihak keluarga mendapatkan berita-berita di TikTok, Instagram, simpan siur sekali,” Asep menuturkan.
“Tapi dengan di sini ada penjelasan, itu setidaknya kami mendapatkan informasi yang lebih tepat gitu yah,” sambung Asep.
Ia pun berharap media dapat menyajikan pemberitaan yang berimbang dan akurat, mengingat keluarga korban sedang berada dalam kondisi berduka dan penuh kecemasan.
“Karena kami sebagai keluarga tentunya sangat bersedih, berduka, apalagi yang simpan siur gitu yah. Kami di keluarga ini kan sedang menunggu kabar baik,” katanya.
Meski demikian, Asep menegaskan bahwa keluarga telah berusaha menguatkan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
“Tetapi kami sejujurnya dari keluarga pak Deden Maulana, tentu insyaallah sudah ridho, ikhlas, apapun kondisinya,” ungkapnya.
Di tengah situasi sulit ini, keluarga masih menyimpan harapan besar akan keajaiban. Mereka terus berdoa agar Deden Maulana dan penumpang lain yang belum ditemukan dapat diselamatkan.
“Yang kami harapkan adalah mudah-mudahan bapak Deden dan penumpang yang belum ditemukan bisa diberikan keajaiban oleh Allah agar bisa selamat,” terangnya.
“Walupun sekian persen dengan kondisi seperti ini, tapi kami tetap optimis, berharap, berdoa, agar keluarga kami pak Deden juga yang lain bisa selamat,” lanjut Asep.
Asep juga menjelaskan bahwa Deden Maulana tengah menjalankan tugas kedinasan saat pesawat naas tersebut mengalami kecelakaan. Deden diketahui bertugas di KKP dan kerap menjalankan patroli udara.
“Pak Deden ini bertugas di Kementerian Kelautan sejujurnya kalau tepatnya saya tidak tahu, tapi dalam tugas kedinasan yah. Biasanya beliau melaksanakan patroli udara. Itu dari Jakarta, Jogja, lalu ke Makassar,” jelasnya.
Asep menyampaikan apresiasi kepada pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dinilai sangat memperhatikan keluarga korban, termasuk masa depan anak Deden.
“Tentu dari pihak keluarga memikirkan gitu yah, tapi alhamdulilah dari Kementerian Kelautan kemarin pak Menteri, Dirjen, dan staf, datang ke rumah kami di Jakarta,” ungkapnya.
“Sudah bertemu juga dengan anaknya pak Deden, menyampaikan insyaallah mudah-mudahan pendidikannya akan diperhatikan,” tandasnya.
Asep bilang, harapan terbesar keluarga masih meyakini dapat membawa pulang Deden Maulana dengan selamat.
“Ketika datang ke Makassar ini, kami harap bisa menjemput membawa pulang kakak kami. Sekali lagi kami berharap pak Deden bisa kembali dengan selamat,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5479997/original/027162300_1769003247-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_20.19.54.jpeg)



