Fajar.co.id, Jakarta — Ponakan Presiden Prabowo yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Thomas Djiwandono, telah mengundurkan diri sebagai kader Partai Gerindra karena menjadi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Menanggapi hal itu, penulis kondang Indonesia, Tere Liye, menyampaikan kritikan tajam terhadap pemerintahan Prabowo saat ini. Dia menilai permainan elite politik saat ini sangat licin. “Licin sekali permainan kalian, Kawan,” tulis Tere Liye, dikutip dari unggahan di akun Media sosialnya, Kamis (22/1/2026).
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini kemudian memberikan penggambaran bagaimana elite berupaya bermain “licin” seolah semua permainannya alamiah.
“Sudah mundur 31 Desember.” Kata elit Gerindra.
“Saya yang mengajukan dia jadi deputi Gubernur.” Kata Gubernur BI.
Tinggal DPR yang menyetujui dengan cepat. Ketuk palu. Sempurna sudah, seseorang yg baru muncul hitungan jari, menduduki posisi2 penting di negeri ini. “Licin sekali. Jadi terserah kalian sajalah,” sindir Tere Liye.
Menurut pria yang juga diketahui sebagai akuntan ini, sistem merit yang dulu digembar-gemborkan Prabowo hanya ilusi.
“Indonesia itu sistem merit cuma ilusi. Pejabat-pejabat yang tidak nyambung latar belakang pendidikannya, tidak jelas pengalaman kerjanya, dengan mudah mengangkangi jabatan-jabagan strategis,” urai pria bernama asli Darwis ini.
Sementara, sambung Tere Liye, posisi receh paling bawah, ditest habis-habisan. Harus punya SKCK, harus tembus passing grade, ditempatkan nun jauh di manalah. Tapi lucunya, yang bawah-bawah ini mau kok disuruh-suruh, bahkan ada yang membungkuk-bungkuk ketemu atasan hasil nepotisme.
“20 tahun Indonesia itu stuck. Begini-begini saja. Nilai rupiah tiada harganya, pendapatan per kapita rendah dibanding negara sebelah, sementara utang meroket 3x lebih,” ungkap penulis novel-novel best seller ini.
Upah ril buruh begitu-begitu saja. Kualitas pendidikan, biaya sekolah kuliah meroket, rangking kampus-kampus terjun bebas, kualitas layanan kesehatan, berobat mahal, Orang-orang yang mampu kabur berobat ke Malaysia.
“Jangan tanya soal lingkungan hidup. Hutan hancur lebur, polusi udara di mana-mana, di sini tuh, orang bebas saja bahkan menyebar racun di udara, pesta pora mengirim polusi di sekitarnya, di sungai-sungai,” kritik Tere Liye.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan DPP Partai Gerindra, Prasetyo Hadi, membeberkan bahwa Thomas Djiwandono telah mengundurkan diri dari partai.
“Iya artinya sudah mengundurkan diri lah dari keanggotaan partai,” katanya, di Istana, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Dia mengklaim bahwa Thomas sudah memenuhi syarat ketika dicalonkan sebagai salah satu kandidat Deputi Gubernur BI.
“Ya kalau pada saat dicalonkan ya sudah memenuhi persyaratan-persyaratan,” ujarnya. (bs-sam/fajar)


