JAKARTA, KOMPAS.com - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto menyarankan publik yang mempertanyakan kompetensinya usai dilantik sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI untuk bertanya kepada Gemini, platform kecerdasan buatan (AI).
“Gini saja. Kamu tanya Gemini saja. Untuk pertahanan, defense pertahanan nasional modern, apakah saya qualified? Apakah Sabrang qualified? Gitu saja,” kata Noe, dikutip Kompas.com dari kanal YouTube Sabrang MDP Official, Kamis (22/1/2026).
Noe menekankan bahwa dia bukanlah jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tidak akan berpura-pura mengerti tentang taktik militer atau perang kinetik.
Ia mengatakan, pertahanan negara tidak semata-mata berkaitan dengan senjata atau perang fisik, melainkan mencakup berbagai bentuk ancaman yang dapat menghancurkan negara.
Baca juga: Noe Letto Ungkap Alasan Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional RI
Menurut dia, perang bersenjata seperti roket, peluru, dan tank termasuk dalam kategori perang kinetik, tetapi sebuah negara juga dapat runtuh tanpa konflik fisik, misalnya akibat kehancuran ekonomi atau hilangnya kepercayaan publik.
“Jadi perang tuh bisa macam-macam. Bisa perang ekonomi, bisa perang kinetik, dan yang paling modern ada yang namanya perang kognitif,” ujar dia.
Anak budayawan sekaligus cendekiawan muslim Emha Ainun Najib atau Cak Nun itu menuturkan, perang kognitif dapat memengaruhi cara berpikir dan kesadaran masyarakat.
Ia menilai, perang kognitif dapat berdampak serius karena berpotensi memecah belah masyarakat dan mengikis rasa saling percaya.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi alasan perlunya dilakukan sebuah eksperimen untuk membangun kembali parameter kepercayaan di tengah masyarakat.
“Jadi kompetensi saya di mana? Mungkin kalau Anda nge-track pendidikan, nge-track video yang sudah saya lakukan, mungkin nge-track dari saya dipercaya oleh orang untuk menjadi pembicara, (dan) itu lebih banyak dari manggung saya dari Letto, pembicara dari pelosok desa sampai Moskow,” ujar dia.
Baca juga: Noe Letto Buka Suara Usai Dilantik Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional
Namun, dia menyadari bahwa sepak terjang ini akan hanya dianggap pembualan.
Oleh karena itu, dia menyarankan publik bertanya kepada mesin Artificial Intelligence (AI).
“Anda sudah percaya Grok kok. Tanya Grok sudah percaya, tanya Gemini yang bisa riset, deep research. Apakah saya kompeten di situ?” ucap dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



