Davos: Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan peringatan keras dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026. Uni Eropa tidak boleh ragu untuk mengerahkan mekanisme anti-paksaannya sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif tambahan Amerika Serikat (AS) terkait Greenland.
Dalam pidatonya, Macron menyatakan Eropa harus beralih ke pendekatan yang lebih realistis dalam melindungi kepentingan ekonomi di tengah melemahnya aturan hukum internasional dan meningkatnya persaingan global.
Macron mengatakan, kebijakan tarif AS di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Ia menilai, penggunaan ekonomi sebagai senjata politik untuk menekan kedaulatan wilayah adalah pelanggaran serius.
"Terlebih lagi ketika hal itu digunakan sebagai alat tawar-menawar terhadap kedaulatan wilayah," tegas Macron dalam WEF 2026 di Davos, Swiss, mengutip Xinhua, Kamis, 22 Januari 2026.
Macron mendesak agar komitmen terhadap multilateralisme yang efektif diperbarui, dengan mengatakan hukum internasional sedang 'diinjak-injak' dan tata kelola kolektif dilemahkan. Kondisi ini menciptakan dunia dimana 'hukum yang terkuat' semakin berlaku.
Sebagai pemegang presidensi G7 tahun ini, Prancis berkomitmen untuk mendorong solusi praktis dan menghindari perang dagang yang meluas. Macron memperingatkan eskalasi proteksionisme hanya akan menghasilkan pihak yang kalah di kedua sisi Samudra Atlantik.
Baca juga: Trump Tirukan Aksen Macron, Ancam Tarif 25 Persen untuk Prancis
(Ilustrasi, Presiden AS Donald Trump menunjukan daftar negara-negara dengan besar tarif yang dikenakan. Foto: EPA-EFE/KENT NISHIMURA/POOL)
Ambisi AS menguasai Greenland
Trump sebelumnya mengatakan, AS akan mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10 persen pada semua barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia terkait Greenland mulai 1 Februari 2026.
Tarif tersebut akan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni dan akan berlanjut hingga tercapai kesepakatan bagi AS untuk membeli Greenland.




