JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah langit yang mendung, para petani terlihat sibuk beraktivitas di sawahnya yang membentang sepanjang Banjir Kanal Timur (BKT) Rorotan, Jakarta Utara.
Aktivitas bertani itu dilakukan 100 meter dari pabrik pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara.
Sambil memegang arit di tangannya, salah satu petani bernama Jumanto (bukan nama sebenarnya, 46) memandang bangunan RDF dengan luas 7,87 hektar itu dengan wajah yang cemas.
Ia takut, apabila pabrik pengolahan sampah itu terus berkembang dan diperluas, sehingga menggerus lahan pertanian yang selama ini menjadi mata pencahariannya itu.
Baca juga: Warga Perumahan JGC Demo, Protes Dampak RDF Rorotan dan Jalan Rusak
Sebab, pembangunan RDF Rorotan membuat sebagian lahan pertanian di lokasi ini berkurang.
"Banyak petani kehilangan mata pencaharian, cuma ini memang milik mereka sawahnya jadi kalau mau dipakai silakan, mau gimana lagi," kata Jumanto saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (21/1/2026).
Jumanto mengatakan, warga sempat menolak pembangunan pabrik pengolahan sampah tersebut, karena takut mencemari lingkungan.
Namun, di tahun 2019 ketika Pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, pembangunan pabrik pengolahan sampah ini dilakukan.
Awalnya, warga tak tahu, bahwa bangunan tersebut akan dijadikan sebagai pabrik pengolahan sampah.
Baca juga: Bertahan di Tengah Beton Jakarta, Sawah Berdampingan dengan Pabrik Sampah Rorotan
Mereka tahu fungsi gedung itu, setelah RDF Rorotan hendak diuji coba pertama kali di tahun 2025.
Khawatir kualitas padi menurunSelain takut lahan sawahnya tergerus, para petani juga khawatir kualitas padinya menurun karena keberadaan RDF Rorotan.
"Jelas khawatir kualitas padi terpengaruh, lingkungan tempat tinggal saya kan di sana juga takutnya air tercemar, udara juga kan, walaupun kata mereka enggak," tutur Jumanto.
Sebab dalam satu bulan terakhir, pengolahan sampah yang dilakukan di RDF Rorotan kerap menimbulkan bau menyengat.
Ia takut, jika polusi udara dari sampah bisa membuat padinya tak tumbuh subur.
Baca juga: Banjir Rendam Perumahan Jatimulya Bekasi, Ketinggian Air Capai 80 Cm
Kemudian, ia juga takut apabila harga jual rumahnya ikut menurun, karena jaraknya yang sangat dekat dengan pabrik pengolahan sampah.
Meski merasa khawatir, Jumanto mengaku tak bisa melakukan banyak hal untuk persoalan ini, karena lahan sawahnya bukan milik pribadi.
"Tapi, namanya pemerintah kita tidak bisa buat apa-apa sebagai petani," jelas dia.
Petani lain Kasturi (bukan nama sebenarnya, 45) juga mengaku khawatir jika kualitas hasil padinya nanti menurun drastis, karena dekat pabrik pengolahan sampah.
"Petani berpikir ke situ khawatir juga, cuma kita enggak bisa langsung menuduh tanpa bukti," ungkap Kasturi.
Sebab, selama RDF Rorotan mulai beroperasi, sawahnya belum panen, sehingga ia belum mengetahui hasil padinya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3938377/original/044594100_1645165608-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-8.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480126/original/052038900_1769043330-PHOTO-2026-01-21-23-03-35.jpg)