Energi Angin dan Surya Dominasi Pasokan Listrik Uni Eropa pada 2025, Geser Fosil

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pasokan listrik di negara-negara Uni Eropa untuk pertama kalinya didominasi oleh sumber energi terbarukan berbasis angin dan surya pada 2025, dengan kontribusi energi fosil lebih rendah.

Data yang dirilis lembaga think tank energi Ember pada Kamis (22/1/2026) mengungkap bahwa kontribusi pasokan listrik dari pembangkit bertenaga angin dan surya di 27 negara UE mencapai 30% tahun lalu. Sementara itu, pasokan listrik dari pembangkit berbasis fosil berkontribusi 29%.

Energi surya sendiri menyumbang 13% dari total pembangkitan listrik dan tumbuh lebih dari 20% untuk tahun keempat berturut-turut, melampaui kontribusi batu bara dan tenaga air.

“Ketergantungan pada bahan bakar fosil terus memicu ketidakstabilan global. Karena itu, urgensi transisi menuju energi bersih kini semakin jelas,” ujar Analis Energi Senior Ember sekaligus penulis utama laporan tersebut, Beatrice Petrovich, dikutip dari Reuters.

Produksi listrik tenaga surya meningkat di seluruh negara UE seiring dengan masifnya pemasangan panel surya. Pada 2025, energi surya menyuplai lebih dari seperlima kebutuhan listrik di Hungaria, Siprus, Yunani, Spanyol, dan Belanda.

Secara keseluruhan, sumber energi terbarukan menyumbang hampir separuh bauran listrik UE, yakni sebesar 48%. Capaian ini terjadi meskipun kondisi cuaca ekstrem menekan produksi listrik tenaga air hingga turun 12% dan angin 2%. Kendati demikian, tenaga angin tetap berkontribusi 17% terhadap pasokan listrik UE, lebih tinggi dibandingkan dengan pembangkit gas.

Baca Juga

  • Pencabutan Izin EBT di Sumatra, IESR Soroti Risiko Investor Kabur
  • Profil Pemilik PLTA Batang Toru yang Izinnya Dicabut Prabowo
  • Danantara Utamakan Tata Kelola Proyek PSEL

Petrovich menjelaskan awal 2025 ditandai cuaca cerah dengan kecepatan angin dan curah hujan yang rendah. Namun, lonjakan produksi listrik surya membantu menjaga stabilitas porsi energi terbarukan secara keseluruhan.

Sebanyak 14 negara UE tercatat menghasilkan listrik dari angin dan surya lebih besar dibandingkan total pembangkit berbasis fosil. Hal ini menandai pergeseran struktural sistem ketenagalistrikan kawasan tersebut, termasuk agenda penghentian bertahap pembangkit batu bara.

“Pembangkit listrik tenaga batu bara berada dalam fase penurunan terminal. Bisa dikatakan, batu bara mulai menjadi sejarah bagi Uni Eropa,” kata Petrovich. Pangsa batu bara dalam bauran listrik UE tercatat mencapai rekor terendah sebesar 9,2%.

Meski demikian, Ember menilai tantangan berikutnya bagi UE adalah mengurangi ketergantungan pada gas impor yang mahal. Produksi listrik berbasis gas di UE meningkat 8% akibat berkurangnya pasokan tenaga air, yang mendorong kenaikan biaya impor gas untuk sektor kelistrikan sebesar 16% menjadi 32 miliar euro atau sekitar US$37 miliar. Ini merupakan kenaikan pertama sejak krisis energi 2022.

Peningkatan penggunaan gas turut mendongkrak harga listrik grosir. Selama jam-jam dengan dominasi pembangkit gas, harga listrik tercatat 11% lebih tinggi dibandingkan 2024.

Di sisi lain, pertumbuhan pesat kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai, terutama di Jerman, Italia, dan Polandia, dinilai berpotensi membantu mengalihkan pasokan listrik surya dan angin untuk memenuhi lonjakan permintaan pada malam hari serta menstabilkan harga listrik ke depan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gubernur BI Akui Persepsi Pasar Terkait Pencalonan Ponakan Prabowo Seret Rupiah, Analis Mata Uang Bilang Begini
• 4 jam lalufajar.co.id
thumb
Genangan 40 cm di Jalan DI Panjaitan Jaktim, Lajur Kanan Masih Bisa Dilalui
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Lubang Jalan Bertambah, Satker Lakukan Penanganan Darurat
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Saham BIPI dan SOCI Masuk Papan Pemantauan Khusus
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Prakiraan Cuaca di Jabodetabek Hari Ini: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
• 14 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.