Oleh: Budiman,Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah meningkatnya tekanan publik terhadap isu krisis iklim dan keberlanjutan, perubahan logo perusahaan otomotif tak lagi dapat dibaca sekadar strategi estetika atau penyegaran identitas visual. Logo kini menjadi simbol yang sarat muatan moral, ekologis, dan reputasional.
Ketika perusahaan mengganti logo dengan narasi ramah lingkungan, publik tidak hanya melihat bentuk baru, juga membaca klaim tentang komitmen keberlanjutan, tanggung jawab lingkungan, dan arah masa depan perusahaan.
Klaim simbolik semacam ini justru menempatkan perusahaan pada arena kompetisi lebih keras antara penguatan reputasi atau tuduhan greenwashing.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Logo merupakan artefak simbolik yang membawa identitas organisasi ke ruang publik. Ia berfungsi sebagai symbolic shorthand yang menyederhanakan kompleksitas perusahaan menjadi tanda visual yang mudah dikenali.
Namun, justru karena kesederhanaannya, logo membuka ruang tafsir luas dan tak sepenuhnya bisa dikendalikan perusahaan. Karena itu, perubahan logo tak pernah bersifat netral. Ia selalu mengandung risiko reputasi karena publik akan menautkan simbol itu dengan realitas tindakan perusahaan.
Dalam satu dekade terakhir, industri otomotif global menunjukkan kecenderungan relatif seragam yaitu melakukan rebranding logo yang digunakan sebagai bagian dari respons simbolik terhadap transisi teknologi hijau dan mobilitas berkelanjutan.
BMW memperkenalkan logo datar pada 2020 sebagai penanda pergeseran menuju mobilitas listrik dan digital, tetapi dengan kehati-hatian strategis logo baru tidak sepenuhnya menggantikan logo lama pada seluruh lini produk.
Toyota menyederhanakan sistem visualnya seiring penguatan narasi dekarbonisasi, namun tetap menjadikan rekam jejak teknologi hybrid sebagai fondasi utama reputasi. Sementara itu, Subaru mempertahankan identitas visual dengan perubahan minimal, menekankan konsistensi simbolik sebagai bagian dari strategi reputasi berbasis keselamatan dan keandalan.
Praktik-praktik ini menunjukkan, logo digunakan sebagai medium untuk mengajukan klaim keberlanjutan, tetapi dengan tingkat risiko reputasi berbeda.
Sejalan dengan Paul A Argenti, simbol visual harus dipahami sebagai reputational claim pernyataan niat yang nilai reputasinya baru akan terbentuk melalui pengalaman pemangku kepentingan dalam jangka panjang.
Logo bagi sebuah institusi bukan sekadar penanda visual melainkan representasi filosofi perusahaan yang berakar kuat pada gagasan inovasi, keberanian, dan orientasi masa depan.
Honda Motor Co, Ltd, perusahaan otomotif Jepang yang didirikan Soichiro Honda, meyakini teknologi harus mempermudah kehidupan manusia dan berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Prinsip inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam identitas visual Honda sejak dekade 1960-an.
Logo “H” yang dikenal publik bukan hanya singkatan nama perusahaan, tetapi simbol engineering spirit, ketangguhan teknis, presisi, dan keandalan yang menjadikan Honda sebagai salah satu ikon industri otomotif global.
Perubahan logo Honda pada Januari 2026 merupakan perubahan besar pertama setelah lebih dari empat dekade. Logo sebelumnya, yang diperkenalkan pada 1981, lahir dalam konteks kejayaan mesin pembakaran internal dan ekspansi global industri otomotif Jepang.
Desainnya tegas, simetris, dan dibingkai, mencerminkan stabilitas serta dominasi teknologi konvensional. Namun, memasuki dekade 2020-an, konteks strategis Honda berubah secara fundamental.
Krisis iklim, tuntutan dekarbonisasi, disrupsi teknologi kendaraan listrik, serta pergeseran ekspektasi konsumen memaksa Honda meninjau ulang cara mereka merepresentasikan diri.
Dengan demikian, perubahan logo bukan sekadar penyegaran visual, melainkan upaya komunikasi korporat sebagai simbol untuk menandai berakhirnya satu era dan dimulainya fase transformasi baru menuju perusahaan mobilitas berbasis keberlanjutan.
Perubahan simbol korporat tidak pernah sekadar urusan desain. Ia pernyataan strategis, pesan simbolik, sekaligus taruhan reputasi. Hal inilah yang tampak jelas dalam keputusan Honda Motor Co, Ltd untuk mengganti logo “H mark” yang telah digunakan sejak 1981.
Pada 13 Januari 2026, Honda resmi mengumumkan identitas visual baru logo yang lebih sederhana, tanpa bingkai, dan menyerupai dua tangan terbuka.
Keputusan ini signifikan karena dilakukan di tengah transformasi besar industri otomotif global menuju elektrifikasi, dekarbonisasi, dan redefinisi konsep mobilitas. Logo baru Honda bukan sekadar simbol estetika, melainkan artefak komunikasi korporat yang sarat makna strategis.
Saya melihat rebranding ini fenomena penting tentang bagaimana identitas visual digunakan untuk membangun, mempertahankan, dan mempertaruhkan reputasi perusahaan di era disrupsi.
Logo Sebagai Bahasa Strategis Korporasi
Logo merupakan bagian dari corporate identity system. Sebuah sistem simbolik yang berfungsi menerjemahkan nilai, visi, dan karakter perusahaan ke dalam bentuk visual yang mudah dikenali publik. Logo bekerja sebagai bahasa nonverbal korporasi.
Ia menyampaikan pesan bahkan sebelum kata-kata diucapkan. Logo Honda sebelumnya terdapat bingkai tegas dan bentuk solid selama puluhan tahun yang merepresentasikan stabilitas, ketangguhan, dan dominasi Honda sebagai produsen otomotif global.
Namun, zaman berubah industri otomotif tidak lagi hanya bicara mesin pembakaran internal, juga energi bersih, perangkat lunak, dan ekosistem mobilitas. Dalam konteks inilah, perubahan logo Honda dapat menjadi relevan secara strategis atau sebaliknya.
Honda mengeklaim, desain baru yang lebih terbuka dan minimalis dapat dibaca sebagai simbol transisi dari produsen otomotif konvensional menjadi perusahaan mobilitas berkelanjutan.
Ilustrasi dua “tangan terbuka” pada logo baru mencerminkan keterbukaan terhadap inovasi, kolaborasi, dan masa depan yang belum sepenuhnya pasti. Serta siap melayani dengan sepenuh hati dan lebih terbuka. Dengan kata lain, Honda sedang mengkomunikasikan, mereka siap berubah.
Industri otomotif global saat ini dalam tekanan multidimensi seperti regulasi emisi yang semakin ketat, tuntutan konsumen atas kendaraan ramah lingkungan, serta persaingan dengan pemain baru yang sejak awal lahir sebagai produsen kendaraan listrik terutama brand Cina.
Nama-nama seperti Tesla dan Build Your Dream (BYD) telah mengubah cara main dalam kompetisi manufaktur kendaraan. Mereka tak hanya menjual kendaraan, juga narasi masa depan. Tesla, berhasil membangun reputasi sebagai simbol inovasi radikal dan keberanian melawan status quo industri otomotif lama.
BYD, dari namanya memosisikan diri sebagai brand kendaraan yang dapat merealisasikan impian audiensnya, keinginan memiliki kendaraan listrik yang terjangkau dengan fitur teknologi dan hiburan melimpah yang terdapat pada kendaraan.
Paul A Argenti, dalam Corporate Communication edisi kedelapan, menekankan, reputasi bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh perusahaan. Reputasi adalah hasil agregasi persepsi para pemangku kepentingan terhadap tindakan perusahaan dari waktu ke waktu.
Logo, dalam kerangka ini, hanyalah salah satu artefak yang memicu persepsi.
Argenti memperkenalkan Reputation Framework yang terdiri atas elemen utama, (1) Company Character merupakan realitas perusahaan, nama, merek, symbol, nilai, dan tindakannya, (2) Company Messages bagaimana pesan dibangun dengan platform apa dan persepsi publik menafsirkan realitas tersebut, (3) Constituency Perception yang melibatkan pelanggan, komunitas, pekerja, hingga investor yang membagikan dan menerima informasi satu sama lainnya dalam waktu yang lama.Dari ketiganya menjadi kumpulan persepsi yang tidak dapat dikendalikan perusahaan dengan membuat merek baik melalui logo, pesan, atau serangkaian artefak dengan harapan apa yang mereka upayakan akan membentuk reputasi tertentu.
Logo baru Honda dapat ditempatkan pada elemen company character sebagai simbol yang mewakili arah baru perusahaan.
Namun, apakah simbol ini akan memperkuat reputasi sangat bergantung pada bagaimana publik mempersepsikannya dan apakah persepsi itu konsisten dengan pengalaman nyata mereka terhadap produk dan kebijakan Honda.
Di Indonesia, rebranding Honda disambut optimisme moderat. Media nasional menyoroti perubahan logo sebagai respons terhadap regulasi emisi dan tren kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia tengah mendorong percepatan adopsi EV melalui insentif fiskal dan pengembangan ekosistem baterai nasional.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan pasar EV Indonesia masih pada tahap awal. Infrastruktur pengisian daya belum merata, harga kendaraan listrik relatif tinggi, dan literasi konsumen masih berkembang. Dalam konteks ini, logo baru Honda berpotensi menghadapi kesenjangan makna.
Bagi investor global, logo ini bisa dibaca sebagai komitmen jangka panjang terhadap elektrifikasi.
Bagi sebagian konsumen Indonesia, logo itu mungkin belum terasa relevan dengan kebutuhan sehari-hari mereka. Di sinilah tantangan komunikasi korporat menjadi nyata, bagaimana menyelaraskan pesan global dengan konteks lokal.
Argenti mengingatkan, kita hidup di era hyperconnected, di mana otoritas komunikasi tidak lagi berada sepenuhnya di tangan institusi, melainkan berpindah ke komunitas. Media sosial memungkinkan persepsi menyebar, dipelintir, dan diperkuat dalam hitungan jam.
Perubahan logo perusahaan otomotif sangat rentan terhadap amplifikasi persepsi. Respons positif dapat memperkuat reputasi secara cepat, tetapi respons negatif misalnya tuduhan greenwashing juga dapat viral dan merusak kepercayaan publik.
Sejarah menunjukkan, banyak perusahaan gagal menjaga konsistensi antara simbol dan realita sehingga menuai skeptisisme.
Pada buku Argenti, kasus Weight Watchers atau kegagalan Netflix pada fase Qwikster menjadi contoh, perubahan identitas tanpa dukungan pengalaman yang sepadan bisa berujung pada krisis reputasi. Rebranding Honda berpotensi menghadapi risiko serupa jika transisi menuju EV tidak berjalan sesuai ekspektasi publik.
Rebranding Sebagai Proses, Bukan Peristiwa
Salah satu pelajaran terpenting dari literatur komunikasi korporat adalah rebranding bukanlah peristiwa satu kali, melainkan proses jangka panjang. Logo hanyalah awal perjalanan layaknya pintu masuk.
Setelah itu, publik akan menilai apakah pesan simbolik tersebut diwujudkan dalam kebijakan, inovasi produk, dan perilaku organisasi. Honda, secara strategis, tampak berusaha mengelola proses ini melalui pendekatan integrated corporate communication.
Logo baru tidak hanya muncul pada produk EV, tetapi akan diterapkan secara konsisten pada seluruh lini mulai dari dealer, motorsport, hingga komunikasi korporat secara global.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Argenti tentang konsistensi dan autentisitas sebagai fondasi reputasi. Sering kali, diskursus publik tentang rebranding terlalu fokus pada konsumen dan media, padahal karyawan merupakan pemangku kepentingan kunci.
Argenti menekankan, reputasi eksternal sangat bergantung pada pemahaman dan komitmen internal. Komunikasi internal Honda menjadi krusial agar karyawan memahami makna logo baru dan arah strategis perusahaan.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3620465/original/087377600_1635841743-20211102-Waspada__Cuaca_Ekstrim_Ancam_Jabodetabek-1.jpg)


