POLITIK Indonesia modern sering kali terjebak dalam desakan waktu yang teramat pendek. Sebagian besar aktor politik hari ini bergerak berdasarkan fluktuasi angka survei mingguan atau riuh rendah percakapan digital yang biasanya menguap sebelum fajar menyingsing.
Dalam lanskap yang serba terburu-buru ini, posisi Megawati Soekarnoputri muncul sebagai anomali yang menuntut cara baca berbeda.
Menjelang usia ke-79 tahun, kehadiran sosok ini bukan sekadar urusan biografi seorang mantan presiden atau ketua umum partai politik.
Keberadaannya merepresentasikan konsep yang mulai langka dalam praktik kekuasaan kontemporer, yaitu orientasi waktu panjang.
Konsep tersebut menempatkan kekuasaan bukan sebagai rangkaian peristiwa taktis yang terputus, melainkan sebagai proses sejarah yang melampaui siklus lima tahunan.
Fenomena pemendekan waktu politik bukan hanya persoalan gaya kepemimpinan, melainkan gejala struktural demokrasi yang kian mencemaskan.
Politik semakin diseret ke dalam logika ekonomi perhatian. Di sana, yang bertahan bukan argumen paling matang, melainkan reaksi paling cepat terhadap isu yang sedang hangat.
Dalam iklim semacam ini, kesabaran sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan dan kehati-hatian dibaca sebagai bentuk kelambanan.
Demokrasi kehilangan kedalaman dimensinya karena segala sesuatu dituntut segera relevan dan segera terukur secara kuantitatif.
Akibatnya, kebijakan publik cenderung berumur pendek, mudah dibalikkan oleh tekanan massa sesaat, dan miskin akan konsistensi historis.
Memahami cara berpikir Megawati memerlukan kesediaan untuk menanggalkan kacamata pragmatisme instan yang sudah terlalu lama mendominasi ruang publik.
Baca juga: Ketika Pilkada Tak Jadi Diutak-atik: Demokrat Terlanjur Basah
Masyarakat sering kali merasa bingung atau bahkan frustrasi melihat keputusan-keputusan yang terkesan lambat atau tidak responsif terhadap tuntutan zaman yang serba instan.
Namun, jika ditarik garis lurus lintas dekade, ketenangan tersebut merupakan hasil dari keyakinan pada daya tahan struktur organisasi.
Megawati tampak sedang mengelola papan catur yang ukurannya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan oleh para pengamat politik harian.
Kekuasaan yang diperoleh melalui ketergesaan atau kompromi yang menggadaikan prinsip dasar dianggap sebagai kerentanan yang akan runtuh saat badai pertama datang.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa organisasi di bawah kepemimpinannya mampu bertahan melewati berbagai guncangan hebat pascareformasi digulirkan.
Dalam kerangka waktu panjang, kekalahan bukanlah akhir dari segalanya dan kemenangan bukan pula tiket untuk bertindak serba mutlak.
Logika semacam ini berbeda dengan kebiasaan umum di Indonesia di mana kekalahan sering dianggap sebagai kehancuran total.
Orientasi temporal yang luas memungkinkan adanya pengendalian emosi politik yang matang sekaligus mencegah munculnya reaksi berlebihan yang kerap merusak tatanan institusi.
Ketabahan dalam mengelola ekspektasi publik menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga marwah kekuasaan agar tidak tergelincir ke dalam reaksi populer yang dangkal.
Transformasi dari seorang putri proklamator menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoriter tidak terjadi dalam semalam.
Perjalanan hidup tersebut ditempa oleh kesabaran dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal maupun internal.
Kekuasaan menuntut kemampuan untuk menunggu tanpa sedikit pun kehilangan arah tujuan strategis yang sudah dipetakan sebelumnya.
Saat banyak politisi lain dengan mudah berpindah haluan demi jabatan menteri atau posisi strategis, Megawati menunjukkan posisi yang konsisten di luar pemerintahan dalam rentang waktu yang sangat lama.
Pilihan tersebut merupakan bentuk investasi pada integritas institusi. Kekuatan entitas politik tidak hanya diukur dari seberapa sering berada dalam lingkaran kekuasaan, melainkan dari seberapa teguh memegang mandat organisasi saat berada di luar lingkaran tersebut.
Jarak dari kekuasaan formal memungkinkan adanya konsistensi perjuangan sekaligus membangun kredibilitas historis yang sulit direkayasa melalui kampanye pencitraan singkat.
Tren global menunjukkan bahwa demokrasi cenderung mengalami pendangkalan makna saat pemimpin hanya berpikir tentang kemenangan elektoral jangka pendek.





