PIDATO Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum atau WEF) di Davos, Swiss, memicu gelombang diskusi global. Dalam orasi yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, Trump melontarkan serangkaian klaim berani terkait kedaulatan wilayah Greenland, aliansi militer, hingga pencapaian ekonomi. Namun, sejumlah lembaga pemeriksa fakta, menemukan ketidaksesuaian signifikan antara pernyataan tersebut dengan data lapangan.
1. Klaim Pengembalian Greenland ke DenmarkDonald Trump kembali menegaskan ambisinya untuk mengambil alih Greenland, wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark. Ia mengeklaim bahwa Amerika Serikat pernah "mengembalikan" Greenland kepada Denmark setelah Perang Dunia Kedua dan menyebut langkah tersebut sebagai sebuah kesalahan.
Faktanya: Klaim ini tidak akurat secara historis. Berdasarkan keputusan pengadilan internasional tahun 1933, Greenland telah ditetapkan sebagai bagian dari Denmark. Meski pada 1941 AS menandatangani perjanjian untuk melindungi Greenland dari Nazi dan membangun pangkalan militer di sana, perjanjian tersebut tidak pernah mencakup pengalihan kedaulatan. Amerika Serikat tidak pernah memiliki Greenland, sehingga tidak ada proses "pengembalian" kedaulatan.
Baca juga : Greenland Jadi Rebutan, Trump Klaim Demi Keamanan AS
2. Kontribusi Biaya Pertahanan NATOTrump mengkritik tajam NATO dengan mengeklaim bahwa Amerika Serikat menanggung hampir 100% biaya aliansi tersebut. Ia juga menyebut negara anggota lain kini membayar 5% dari PDB mereka.
Faktanya: Data menunjukkan bahwa pengeluaran pertahanan AS memang yang terbesar, namun angkanya berkisar di 65% pada 2024 dan diproyeksikan turun ke 62% pada 2025. Terkait angka 5%, itu merupakan target jangka panjang untuk tahun 2035. Saat ini, belum ada satu pun anggota NATO yang mencapai angka tersebut; bahkan Polandia sebagai kontributor rasio tertinggi masih berada di bawah 4,5%.
3. Manfaat NATO bagi Amerika SerikatDalam narasinya, Trump menyebut AS tidak pernah mendapatkan imbalan apa pun dari NATO. Namun, sejarah mencatat hal yang berbeda melalui Pasal 5 Perjanjian NATO tentang pertahanan kolektif.
Baca juga : 5 Poin Kontroversial Pidato Donald Trump di Davos
Faktanya: Pasal 5 justru pertama kali (dan satu-satunya) diaktifkan untuk membantu Amerika Serikat setelah serangan teroris 11 September 2001. Negara-negara anggota NATO, termasuk Denmark dan Inggris, mengirimkan pasukan ke Afghanistan untuk mendukung operasi militer pimpinan AS, dengan risiko korban jiwa yang besar.
4. Klaim Energi Angin di TiongkokSebagai kritikus energi terbarukan, Trump menuding Tiongkok tidak memiliki ladang angin meskipun memproduksi turbin secara masif.
Faktanya: Tiongkok adalah pemimpin dunia dalam energi angin. Ladang Angin Gansu di Tiongkok merupakan salah satu yang terbesar di dunia dan dapat terlihat dari satelit. Pada 2024, produksi energi angin Tiongkok mencapai 997 terawatt-jam, lebih dari dua kali lipat produksi Amerika Serikat.
5. Pajak Minyak Laut Utara InggrisTrump menyebut Inggris mengambil 92% pendapatan dari minyak Laut Utara, yang dianggapnya mempersulit perusahaan energi.
Faktanya: Angka 92% tersebut keliru. Total beban pajak maksimal bagi perusahaan minyak di Inggris (termasuk pajak keuntungan tak terduga) adalah 78%. Selain itu, pajak ini dikenakan atas keuntungan (profit), bukan atas pendapatan (revenue) sebagaimana diklaim oleh Trump.
6. Rekor Investasi US$18 TriliunTerakhir, Trump mengeklaim telah mengamankan komitmen investasi senilai US$18 triliun untuk Amerika Serikat.
Faktanya: Belum ada bukti publik yang mendukung angka tersebut. Data resmi Gedung Putih per November menunjukkan total komitmen investasi baru di angka US$9,6 triliun. Para ahli statistik menunjukkan bahwa banyak dari angka tersebut masih berupa janji yang realisasinya terancam oleh ketegangan diplomatik, termasuk penangguhan ratifikasi kesepakatan dagang oleh Parlemen Eropa akibat isu Greenland.
Rentetan ketidakakuratan ini menimbulkan tantangan bagi diplomasi Amerika Serikat di panggung internasional, di mana data dan fakta menjadi fondasi utama dalam kerja sama antarnegara. (BBC/H-3)
PENAFIAN
Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) berdasarkan hasil kerja reporter. Seluruh isi telah melalui proses penyuntingan, verifikasi fakta, dan penilaian editorial oleh redaksi.




