FAJAR, MAROS — Black box pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di sekitar Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, resmi diserahkan oleh Basarnas kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Kamis, 22 Januari 2026 di Kantor Basarnas Makassar, area Bandara Sultan Hasanuddin.
Dalam penyerahan ini, hadir langsung Wamenhub, Sutana, Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman disaksikan Wamenhub Sutana, Gubernur Sulsel, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro,
Danlanud Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Arifaini Nur Dwiyanto dan unsur lainnya.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii, mengatakan memasuki hari kelima operasi pencarian, tim SAR gabungan berhasil menemukan sebuah komponen pesawat yang diduga kuat merupakan black box.
Temuan tersebut telah dikonfirmasi sebagai black box pesawat.
“Alhamdulillah pada hari kelima, tim SAR Gabungan telah menemukan part dari pesawat yang diduga adalah Black Box. Dan saya sudah konfirmasi bahwa benar yang di hadapan kita ini adalah Black Box,” ungkapnya.
Dia pun menyampaiakan terimakasihnya kepada tim SAR gabungan atas capaian ini.
“Saya ucapkan terima kasih, dan menyampaikan rasa hormat serta bangga saya kepada seluruh Tim SAR gabungan yang didominasi teman-teman dari TNI, dari Polri, dan dibantu oleh potensi SAR lainnya. Bahkan teman-teman dari TNI Angkatan Darat langsung dipimpin oleh Bapak Pangdam yang ikut langsung di lapangan,” katanya.
Operasi SAR ini juga kata dia prioritas pada operasi pencarian dan evakuasi terhadap korban pesawat ATR 42 Seri 500 ini.
Untuk operasi ini terus kita laksanakan, dan kita akan evaluasi pada hari ketujuh. Karena memang ketentuannya seperti itu, dan keputusan untuk diperpanjang berapa hari nanti akan kita sampaikan nanti, sambungnya.
“Dengan penemuan Black Box ini, mudah-mudahan dari teman-teman yang dipimpin oleh Kepala KNKT bisa bekerja lebih cepat untuk melakukan assessment,” ungkapnya.
Dia juga mengatakan temuan-temuan lain, ada body part pesawat dan juga ada body part dari tubuh-tubuh korban.
“Itu kita serahkan kepada DVI. Seperti yang saya sampaikan, yang punya kewenangan untuk men-declare terkait dengan korban adalah dari DVI,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan pihaknya bekerja sesuai tugas dan fungsi investigasi keselamatan transportasi.
“Black box ini untuk menjawab teka-teki penyebab kejadian,” katanya.
Dia menjelaskan black box terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang berfungsi merekam percakapan di dalam kokpit, baik antara pilot dan kru maupun komunikasi dengan menara pengawas.
“Satunya lagi adalah flight data recorder yang merekam sekitar 88 parameter data penerbangan. Keduanya inilah yang disebut sebagai black box,” jelasnya.
Dia mengatakan meski black box, namun perangkat tersebut sebenarnya berwarna oranye agar mudah ditemukan di lokasi kecelakaan.
“Warnanya memang oranye supaya mudah dicari,” katanya.
Dia mengatakan identifikasi dan analisis black box bertujuan sebagai pembelajaran agar kecelakaan serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Hasil investigasi KNKT nantinya berupa rekomendasi. Jika dipandang perlu, rekomendasi keselamatan akan dikeluarkan segera,” tegasnya.
Dia menekankan investigasi KNKT tidak didasarkan pada perkiraan, melainkan pada data yang akurat.
“Kami bekerja berdasarkan data yang akurat,” pungkasnya.(rin)



