Mojokerto: PT Energi Agro Nusantara (Enero) menemukan titik tantangannya pada 2025, usai didirikan sejak 2013. Tantangan ini dihadapi setelah Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan kebijakan pencampuran bahan bakar nabati ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikelola melalui PT Pertamina.
PT Enero yang merupakan anak perusahaan PTPN I produsen bioetanol ini menyambut antusias. Salah satu langkah cepat yang dilakukan Enero adalah dengan pemurnian kandungan etanol yang diproduksi hingga 99,9 persen. Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan, pengembangan bioetanol di PT Enero merupakan komitmen nyata PTPN Group dalam mendukung penuh Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama pada poin swasembada energi dan penguatan sektor ekonomi berbasis kerakyatan.
"PTPN I melalui PT Enero berada di garis depan dalam mewujudkan pilar Asta Cita, khususnya dalam mencapai ketahanan dan swasembada energi nasional. Transisi menuju bioetanol bukan sekadar langkah teknis, melainkan ikhtiar kita bersama untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil. Kami memastikan setiap liter energi hijau yang dihasilkan Enero merupakan kontribusi nyata bagi kedaulatan bangsa dan kesejahteraan para petani tebu di hulu industri ini," tegas Teddy, dalam keterangan tertulis, Kamis, 22 Januari 2026.
Direktur PT Enero Puji Setiyawan mengungkapkan, dalam kebijakan pemerintah yang segera mempersyaratkan kandungan bioetanol 10 persen ke dalam bensin memiliki misi jauh ke masa depan. Selain mengurangi ketergantungan kepada BBM fosil menuju ke sumber energi terbarukan, pemerintah memproyeksikan upaya konversi energi ini berdampak luas kepada kesejahteraan masyarakat. Tak heran jika dalam operasionalnya, PT Enero komitmen dan konsern kepada kelestarian lingkungan, hubungan harmonis dengan masyarakat, dan memberi manfaat lebih luas kepada kehidupan warga sekitar.
"Kami manajemen PT Enero sangat antusias Ketika Pemerintah mengumumkan segera melakukan transisi energi melalui kebijakan mewajibkan blending BBM fosil dengan bioetanol. Bagi kami, ini adalah lompatan ke masa depan bangsa yang mandiri energi. Kami terus berbenah di semua lini, terutama pada pemenuhan kualifikasi yang dipersyaratkan. Ini juga masa depan untuk kemaslahatan bagi masyarakat sekitar Perusahaan," tambah Puji Setiyawan.
Baca Juga :
Produksi BBM Euro 5 Diyakini Bikin Indonesia Lebih MajuPabrik bioetanol PT Enero. Foto: dok Enero.
Enero diproyeksikan untuk mengolah molases
Sejak awal dibangun, pabrik bioetanol PT Enero diproyeksikan untuk mengolah molases (tetes tebu) dari Pabrik Gula Gempolkrep yang merupakan Unit Kerja PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Subholding PTPN Group. Berada satu kawasan dengan PG Gempolkrep, sebanyak 95 persen tenaga kerja PT Enero diisi oleh warga sekitar dengan berbagai posisi sesuai dengan kompetensi dan kariernya.
Tentang kontribusinya kepada kemaslahatan masyarakat, SEVP Business Support PT Enero Faisal Fahlevi mengatakan, sejak awal berdiri pihaknya menjadi bagian tak terpisahkan dalam ekosistem masyarakat sekitar. Ia menyebut keterlibatan warga sekitar sebagai karyawan di PT Enero adalah model dan modal rajutan harmoni dalam menjalankan operasional perusahaan.
"Sebagai Perusahaan BUMN, selain bertanggung jawab langsung kepada pemerintah, PT Enero memiliki tanggung jawab moral yang sangat kuat kepada kemaslahatan masyarakat, terutama warga sekitar sebagai tetangga kami. Sejak awal berdiri, kami rekrut tenaga kerja dari warga sekitar. Rasionya hampir 95 persen. Tentu, posisi dan karirnya sesuai dengan kompetensinya. Kami percaya, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal," kata Reza Fahlevi.
Meskipun mengolah "limbah" pabrik gula, PT Enero juga masih memiliki "limbah" yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Reza menyebut satu nama produk penyubur tanaman bernama PHE, Pupuk Hayati Enero, sebagai produk hilir setelah mengolah molases menjadi bioetanol. Jenis pupuk organik cair yang dihasilkan PT Enero ini, kata Reza, berfungsi sebagai pupuk pengurai dalam memperbaiki struktur tanah pertanian dan perkebunan.
"Produk PHE (Pupuk Hayati Enero) ini, jika diaplikasikan ke lahan secara berkala selama tiga tahun berturut-turut akan bisa memangkas ketergantungan terhadap pupuk anorganik (kimia) sampai 40 persen. Pupuk ini bisa didapatkan para petani untuk kebutuhan retail maupun besar," kata Reza.
Reza menyatakan, membangun komunitas lingkungan yang saling menguntungkan merupakan dedikasi sosial PT Enero. Kejayaan sebuah industry, kata dia, hanya memiliki makna jika memberikan manfaat luas bagi lingkungan sekitarnya. Melalui produk Pupuk Hayati Enero (PHE) yang berasal dari olahan vinasse, perusahaan berupaya memulihkan kesehatan lahan pertanian masyarakat lokal yang selama ini jenuh akibat penggunaan bahan kimia berlebih.
"Kehadiran Enero harus menjadi manfaat nyata bagi banyak pihak, mulai dari petani yang lahannya kembali subur, warga yang mendapatkan akses pekerjaan, hingga negara yang semakin mandiri secara energi. Kami ingin membuktikan Enero adalah katalisator bagi ekosistem energi baru terbarukan yang tidak hanya tangguh secara ekonomi, tetapi juga tulus dalam menjaga kelestarian Bumi Pertiwi," ujar Reza Fahlevi.



