REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Apakah kamu termasuk yang berpikir kalau nggak ada sinar matahari berarti nggak butuh tabir surya (sunscreen)? Para ahli dermatologi, anggapan ini adalah jebakan yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Sinar ultraviolet (UV) ternyata tidak mengenal kata libur, meskipun langit sedang kelabu atau air turun membasahi bumi. Kenyataan pahitnya adalah awan mendung sama sekali bukan perisai yang sempurna.
Baca Juga
Cara Membersihkan Wajah Agar Kulit Bersih dan Skincare Meresap Maksimal
Jenis-Jenis Introvert, Ciri, dan Saran dari Pakar Biar Enggak Gampang Stres
Cha Eunwoo Terjerat Kasus Dugaan Penggelapan Pajak Hingga Miliaran
Menurut ahli dermatologi sekaligus pendiri Skin Beyond Borders di Mumbai, India, dr Pravin Banodkar, sinar UV memiliki kemampuan luar biasa untuk menyelinap melalui celah-celah awan yang paling tebal sekalipun. "Sinar ultraviolet tetap menembus awan dan cenderung menyebabkan kerusakan pada kulit. Jadi, kerusakan kulit terus berlanjut bahkan pada hari-hari yang sangat mendung," ujarnya dikutip dari laman Only My Health pada Kamis (22/1/2026).
Faktanya, sekitar 75 hingga 85 persen sinar UV tetap sampai ke permukaan bumi saat hujan, yang berarti risiko kulit mengalami pigmentasi, penuaan dini, hingga kanker kulit hampir sama besarnya dengan saat matahari terik. Risiko ini bahkan meningkat bagi individu dengan kondisi kulit tertentu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dokter Banodkar mengingatkan mereka yang memiliki tahi lalat atipikal, vitiligo, atau albinisme harus ekstra waspada. Tanpa perlindungan, tahi lalat yang rentan bisa berkembang menjadi kondisi ganas atau kanker kulit.
"Penggunaan tabir surya setiap hari menjadi sangat penting, tanpa mempedulikan cuaca," ujarnya.
Jadi, meski kamu merasa sejuk karena rintik hujan, sel-sel kulit mungkin sedang berjuang melawan radiasi yang tak kasat mata. Ancaman pun tidak berhenti saat kamu masuk ke dalam ruangan.