Kisah Deni Bertemu Dua Macan Tutul Jawa di Sebuah Gunung di Sukabumi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Perjalanan Deni Mulyana ke sebuah gunung di Sukabumi berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Petani sekaligus kontraktor itu tak menyangka, perjalanannya ke Sukabumi justru mempertemukannya dengan dua macan tutul. Momen langka tersebut ia abadikan dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial TikTok.

Kisah itu bermula saat Deni bersama tiga rekannya berangkat dari Bogor menuju Sukabumi untuk mengecek lokasi proyek. Di sepanjang perjalanan, hujan sempat mengguyur kawasan yang mereka lewati, membuat suasana pegunungan semakin sepi dan berkabut.

Belum sampai tujuan, rombongan Deni tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan seekor kucing besar berwarna hitam yang tengah berjalan di pinggir jalan. Sosok tersebut tak lain adalah macan tutul hitam atau sering disebut macan kumbang. Deni dan rekan-rekannya langsung menghentikan kendaraan, mengeluarkan ponsel, dan merekam pergerakan satwa liar itu.

Dalam video yang diunggah di akun TikTok @Deni.zz95, terlihat macan itu berjalan santai di sekitar semak dan pepohonan. Sesekali, hewan tersebut menoleh ke arah Deni yang tetap berada di dalam mobil. Tak lama kemudian, macan itu menghilang masuk ke dalam hutan.

“Saat di perjalanan, ketemu sosok macan hitam itu di pinggir jalan. Kami lalu berhenti, sambil video,” kata Deni kepada kumparan, Kamis (22/1).

#tanannasional#gunungsalak#penther

Setelah pertemuan pertama itu, Deni kembali melanjutkan perjalanan. Namun kejutan belum berakhir. Tak jauh dari lokasi pertemuan pertama dengan macan hitam, mereka kembali bertemu macan tutul lainnya. Kali ini, warnanya kuning dengan corak totol khas di tubuhnya.

Deni lalu menghentikan mobil dan merekam macan tersebut yang tampak santai berjemur. Ia menyebut, warga di kawasan itu memang kerap melihat macan tutul berkeliaran di pinggir jalan.

“Kalau masalah macan, itu sudah hal biasa sebenarnya. Yang kerja juga sering lihat. Kadang-kadang dia berjemur untuk menghangatkan badan,” ujar Deni.

Meski sering terlihat, Deni memastikan hingga kini belum pernah ada laporan warga diterkam macan. Menurutnya, keberadaan macan tutul justru menjadi tanda bahwa ekosistem di gunung tersebut masih terjaga dengan baik.

#gunungsalak#jagahutan#macantutul#lewatawi18#sukabumibogor

Beberapa gunung di pulau Jawa merupakan habitat macan tutul jawa (Panthera pardus melas), satwa endemik yang dilindungi. Macan tutul jawa telah masuk dalam Daftar Merah IUCN dengan status Critically Endangered atau terancam punah, serta tercantum dalam Appendix I CITES. Satwa ini hanya ditemukan di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakambangan, dan Pulau Sempu.

Secara umum, macan tutul jawa jantan dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 215 cm dari moncong hingga ujung ekor, tinggi 60–65 cm, dan berat rata-rata 52 kg. Sementara betina memiliki panjang sekitar 185 cm dengan berat sekitar 39 kg.

“Macan di situ dilindungi oleh Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), karena itu kan masih kawasan TNGHS juga. Untuk kelestarian flora dan fauna masih sangat terjaga. Saya merasa bangga masih banyak hewan-hewan liar di sana, walau pun ada aktivitas manusia,” tutur Deni.

Di sisi lain, kondisi macan tutul jawa di sejumlah wilayah, sedang menghadapi ancaman serius. Kehilangan habitat, degradasi kualitas hutan, fragmentasi wilayah, perburuan, serta berkurangnya mangsa membuat populasinya kian terdesak. Setelah harimau jawa dinyatakan punah, macan tutul jawa kini menempati posisi puncak rantai makanan di ekosistem hutan Jawa.

Pendataan populasi macan tutul jawa di alam liar pun menjadi persoalan krusial. Untuk mencegah kepunahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor P.56/Menlhk/Kum.1/2016 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa 2016–2026, dengan salah satu target utama meningkatkan populasi satwa tersebut di habitat alaminya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga menegaskan, peran masyarakat desa di sekitar kawasan konservasi sangat menentukan keberlangsungan hidup macan tutul jawa. Kesadaran dan keterlibatan warga menjadi kunci agar satwa liar ini tetap bertahan di tengah tekanan aktivitas manusia.

Bagi Deni, pertemuan singkat dengan dua macan tutul itu bukan sekadar pengalaman langka, melainkan pengingat bahwa hutan masih menjadi rumah bagi satwa-satwa liar yang perlu dijaga bersama.

***

Catatan: Redaksi kumparan tidak menyebut daerah dan/atau lokasi penemuan macan tutul jawa guna melindungi ekosistem dari segala bentuk gangguan dan eksploitasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Video: Kereta Komuter Anjlok di Spanyol, Masinis Tewas
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
El Rumi dan Syifa Hadju Resmi Lamaran, Langkah Awal Menuju Pernikahan
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kemdiktisaintek perkuat vokasi melalui kolaborasi dengan China
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!
• 7 jam lalutheasianparent.com
thumb
Jakarta Diguyur Hujan, Sejumlah Rute Transjakarta Alami Keterlambatan
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.