JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak 74 kasus influenza A subklad K atau yang dikenal dengan flu super telah ditemukan di 13 provinsi di Indonesia. Meski begitu, Kementerian Kesehatan memastikan bahwa kasus penyakit tersebut tetap terkendali dan tren kasusnya menurun.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine menyampaikan, kasus influenza secara nasional menunjukkan tren penurunan pada awal tahun 2026. Kasus virus influenza H3N2 subklad K pun tetap terkendali.
“Influenza H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Untuk H3N2 subklad K telah dilaporkan di 80 negara, termasuk Indonesia. Namun, dari hasil pemantauan, tren kasus di Indonesia telah menurun sehingga masyarakat tidak perlu panik,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Data Kementerian Kesehatan pada periode 1 Januari 2025 sampai 10 Januari 2026 menunjukkan, sebanyak 74 kasus influenza A subklad K telah teridentifikasi dari total 204 spesimen influenza A yang diperiksa. Dari jumlah itu, kasus paling banyak ditemukan di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan dengan masing-masing 18 kasus.
Selain itu, kasus subklad K juga banyak ditemukan di Jakarta (11 kasus), Jawa Barat (10 kasus), Sumatera Selatan (5 kasus), Sumatera Utara (3 kasus), Bali (2 kasus), dan Nusa Tenggara Timur (2 kasus).
Puncak kasus influenza tersebut terjadi pada minggu ke-40 atau akhir September 2025 kemudian menurun sejak minggu ke-44 atau sekitar akhir Oktober 2025. Mulai minggu ke-52 atau akhir Desember 2025 tidak ada lagi laporan baru kasus influenza A subklad K.
Prima menuturkan, sebagian besar pasien influenza yang ditemukan mengalami gejala ringan hingga sedang. Kasus-kasus tersebut juga dapat sembuh dengan sendirinya. Kasus yang berat umumnya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, seperti lansia dan individu dengan penyakit penyerta atau komorbid.
Laporan kematian pasien influenza pun umumnya berkaitan dengan kondisi komorbid yang dimiliki. Individu dengan komorbid punya risiko tinggi saat tertular infeksi, virus, atau bakteri. Penularan tersebut dapat menjadi pencetus yang memperburuk komorbid yang sudah dimiliki.
“Influenza tidak selalu menjadi penyebab kematian utama tetapi dapat menjadi pencetus yang memperburuk kondisi kesehatan yang sudah tidak stabil, terutama pada pasien lansia dengan komorbid,” tutur Prima.
Prime menyebutkan, Kementerian Kesehatan terus melakukan surveilans rutin influenza di fasilitas kesehatan primer, rumah sakit, dan pintu masuk negara. Upaya surveilans atau pemantauan juga dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dan analisis genom virus untuk memastikan jika terjadi perubahan pada karakter virus yang beredar di masyarakat.
Ia pun mengimbau masyarakat tetap mengutamakan pencegahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menggunakan masker ketika sakit, terutama pada kelompok rentan seperti orang dengan komorbid dan lansia. Jika mengalami gejala yang berat harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok berisiko, juga dianjurkan sebagai langkah pencegahan,” kata Prima.
Secara terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (Pamki) Anis Karuniawati mengatakan, vaksin influenza tetap menjadi perlindungan terbaik, terutama untuk mencegah risiko perburukan penyakit dan kematian akibat penularan influenza. Meski varian virus influenza dapat berubah, vaksin tetap bisa memberikan perlindungan yang bermanfaat.
Ia menjelaskan, virus influenza A subklad K bukan virus baru. Varian tersebut merupakan varian influenza musiman yang mengalami mutasi genetik sehingga lebih mudah menular. Influenza terus berevolusi sehingga kemunculan varian baru merupakan hal yang lazim setiap beberapa tahun.
Anis menuturkan, masyarakat seringkali menganggap influenza sebagai penyakit ringan karena gejalanya yang ringan. Gejala umum yang sering muncul, seperti demam, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, serta lemas dan kelelahan.
Meski begitu virus ini tetap perlu diwaspadai. Pada kondisi tertentu penularan influenza dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, dehidrasi berat, serta kematian, khususnya pada kelompok berisiko tinggi.
Adapun kelompok berisiko tinggi tersebut, antara lain, lansia, anak-anak, ibu hamil, individu dengan daya tahan tubuh rendah, serta penderita penyakit kronis, seperti jantung, paru, dan diabetes.
“Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada dan disiplin menjalankan perilaku hidup bersih sehat. Super influenza bukan pandemi baru, melainkan pengingat bahwa influenza tetap merupakan penyakit serius yang tidak boleh diremehkan,” tutur Anis.





