Dunia Ramai-ramai Mulai Berubah, Manusia Makin Dijajah

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) makin masif di kehidupan masyarakat modern sehari-hari. Makin banyak manusia menggantungkan pencarian informasi, tutorial, rekomendasi, melalui layanan chatbot populer seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot.

Bahkan, mesin pencarian tradisional seperti Google Search juga sudah turut diintegrasikan dengan tool AI untuk mempermudah perangkuman informasi sesuai topik yang dicari.


Meskipun populartias AI booming lantaran layanan chatbot, tetapi saat ini AI mulai dikembangkan lebih jauh ke berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, telekomunikasi, transportasi, perbankan, dll.

Terbaru, OpenAI yang merupakan pencipta ChatGPT memiliki ambisi yang lebih besar. Dikutip dari Reuters, Kamis (22/1/2026), OpenAI berupaya meyakinkan pemerintah-pemerintah di seluruh dunia untuk membangun lebih banyak data center dan mendorong penggunaan AI lebih luas di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, dan mitigasi bencana.

Inisiatif tersebut dinamai 'OpenAI for Countries'. Ambisinya adalah memperluas jangkauan produk-produknya untuk mempersempit ketimpangan antara negara-negara dengan akses luas terhadai AI dan negara-negara yang belum memiliki kapasitas AI.

OpenAI menekankan bahwa sistem AI mampu melakukan tugas-tugas yang lebih kompleks dari yang disadari masyarakat kebanyakan. Untuk itu, OpenAI ingin memperluas fungsi dari penggunaan tool AI.

"Sebagian besar negara masih beroperasi jauh di bawah kemampuan yang dimungkinkan oleh sistem AI saat ini," kata OpenAI dalam sebuah laporan yang dibagikan kepada Reuters.

Pilihan Redaksi
  • Kampus Mulai Berubah, Tandanya Sudah Terlihat di Oxford
  • Cara Baru Dapat Penghasilan Tambahan di YouTube 2026

OpenAI memulai inisiatif internasional ini tahun lalu dan menunjuk mantan menteri keuangan Inggris, George Osborne, untuk mengawasi proyek tersebut pada Desember 2025. Osborne dan Chris Lehane, kepala urusan global OpenAI, mempresentasikan proyek ini kepada para pejabat pemerintah pada pekan ini di Davos.

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas yang telah membantu mengukuhkan OpenAI, pencipta ChatGPT, di garis depan perkembangan AI modern. Perusahaan ini terakhir kali bernilai US$500 miliar dan sedang menjajaki penawaran umum perdana (IPO) yang nilainya bisa mencapai US$1 triliun.

Sebelas negara telah mendaftar untuk OpenAI for Countries. Setiap kesepakatan memiliki struktur yang berbeda. Estonia, misalnya, mengintegrasikan alat pendidikan OpenAI, ChatGPT Edu, ke sekolah menengah di seluruh negeri. Di Norwegia dan Uni Emirat Arab, OpenAI bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membangun data center dan menjadi pelanggan pertama mereka.

Pada Rabu (21/1), para eksekutif OpenAI mengatakan mereka berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah di bidang lain, seperti perencanaan bencana. Di Korea Selatan, OpenAI sedang menjajaki kesepakatan dengan otoritas air pemerintah untuk membangun sistem peringatan dan pertahanan bencana air secara real-time terhadap masalah air yang disebabkan oleh perubahan iklim.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Inovasi Telkom Memberdayakan Infrastruktur Hulu ke Hilir

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Melihat Kilau Emas Trofi Piala Dunia FIFA World Cup 2026 Mejeng di Jakarta
• 3 jam lalumerahputih.com
thumb
Pastikan Penanganan Darurat Cepat, Kasatgas Tito Tinjau Pengungsian Aceh Utara
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Usai Resmi Menikah, El Rumi Ajukan Syarat ke Syifa Hadju Jika Ingin Kembali Kerja
• 27 menit lalucumicumi.com
thumb
Tim Sar Masih Proses Evakuasi 6 Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Resmi! Indonesia Gabung ke Dewan Perdamaian untuk Gaza
• 15 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.