Ramai Sorotan 32 Ribu Pegawai SPPG akan Jadi ASN, Diaspora Ini Membayangkan Jika Pemerintah Fokus Pendidikan

fajar.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ramainya pembahasan dan protes masyarakat yang heran dengan kebijakan pemerintah ingin mengangkat 32 ribu ASN PPPK bagi pengelola dapur MBG turut membuat diaspora Indonesia di Belanda, Dimas Budi Prasetyo, angkat bicara.

Pria yang diketahui bekerja di Negeri Kincir Angin itu menyampaikan pandangannya. “Membaca berita yang lagi rame ini, saya jadi ingin coba membahas dari perspektif lain,” tulis Dimas dikutip dari keterangan tertulis di akun media sosialnya, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, program MBG membuktikan bahwa pemerintah itu sangat bisa mewujudkan program ketika mereka fokus, total, dan nggak main-main. “Lihat, demi mewujudkan agar MBG jalan, anggaran disediakan dengan berbagai macam cara,” bebernya.

Mulai dari nyunat anggaran bidang lain, sampai hutang ratusan triliun. Pegawai SPPG dan semua yang berhubungan dengan MBG, bisa sejahtera dengan upah yang layak.

“Kemudian pelaksanaanya pun dijalankan meskipun kritik deras mengalir dari berbagai pihak. Mereka terus jalan. Maju tak gentar, ora peduli ambyar,” sindir alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Pemerintah bisa, karena memang fokus dan total untuk menjalankannya.

“Saya bayangin, jika pemerintah punya totalitas yang sama di bidang pendidikan. Kesejahteraan guru diperhatikan dan gajinya. dinaikkan sampai 40 juta. Bayangkan, betapa guru akan fokus benar dalam mengajar,” harapnya.

Jangka panjangnya, murid dan mahasiswa berprestasi akan berlomba dan bercita-cita jadi guru, alih-alih jadi pegawai oil and gas, bekerja di perusahaan multinasional atau bekerja di luar negeri. Karena mereka tahu, jadi guru akan membuat mereka dan keluarganya sejahtera.

Kemudian di kampus, riset didukung penuh dengan kualitas dosen yang juga tak kalah mumpuni. Kesejahteraan dosen juga diperhatikan, sehingga tak ada lagi cerita dosen nyambi jadi ojol untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dia pun jadi ingat perkataan Prof Yohanes Surya, fisikawan kondang yang telah mengantarkan banyak anak-anak Papua juara olimpiade fisika baik nasional dan internasional. Beliau berkata kurang lebih begini redaksinya,

“Tidak ada murid atau siswa yang bodoh. Yang ada hanyalah guru-guru yang tidak bisa mengajar dengan baik.”

Dimas kemudian membayangkan, guru-guru dan dosen-dosen di Indonesia benar-benar pilihan terbaik dari yang terbaik. Gaji mereka puluhan juta, mereka bisa fokus penuh mengajar tanpa khawatir keluarganya kekurangan.

“Tapi, saya kemudian sadar. Pemerintah memang tidak akan totalitas dalam hal ini. Karena bagi mereka, isi perut lebih penting daripada isi kepala. Perut yang terisi penuh, akan lebih mudah dikendalikan,” sindirnya.

Sedangkan isi kepala yang penuh, lanjut Dimas, hanya akan mengancam eksistensi mereka di atas sana yang naik dan menjabat tanpa proses meritokrasi. Cukup modal joget, tampilan sederhana dan berpakaian religius, mereka akan dipilih setiap lima tahun.

“Terakhir, memang benar guyonan warganet soal MBG ini. Nanti MBG baru berhenti kalau panitia hari kiamat sudah terbentuk dan bersiap,” tutup Dimas Budi Prasetyo.

Menanggapi tulisan Dimas, salah satu akun dari seorang guru honorer ikut menyampaikan pandangannya terkait program MBG.

“Saya koordinator pembagian MBG di sekolah. Jujur kalau boleh menolak saya fokus mengajar saja. MBG datang jam saya ngajar, anak-anak ditinggal,” tulis akun tersebut.

Jam istirahatnya pun fokus bagi ke anak-anak. Setelah istirahat harus nata, ngitung, nali. Harus nunggu ompreng sampai diambil. Harus buat dokumentasi tiap hari.

“Kalau ada pengisian data baru tidak peduli hari Minggu dan dengan kalimat, harus segera kirim data paling lambat nanti malam jam 12,” curhatnya.

“Gitu yang mau diangkat p3k mereka2. Dan saya??? ajek honorer. Miris lagi ada yang komentar, kenapa tidak jadi sopir SPPG saja atau tukang cuci ompreng saja? Mau jadi apa anak-anak nantinya kalau semua orang milih jadi tukang cuci ompreng?” tanya akun tersebut. (sam/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim SAR Temukan 6 Korban Pesawat ATR 42-500 di Jurang Gunung Bulusaraung
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
AS-Greenland Mulai Damai, IHSG-Rupiah Berpotensi Cerah Hari Ini
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Diputuskan Presiden Saat Lawatan ke London, Seskab Teddy Jelaskan Proses Awal Prabowo Cabut Izin Perusak Hutan
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasus KDRT Anggota DPRD Kota Kupang Masuki Tahap II, Kejati NTT Sebut Peluang Penahanan Terbuka Lebar
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Cegah Kasus Bunuh Diri, Jembatan di Bali Ini Dipantau CCTV 24 Jam
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.