EtIndonesia. Aksi protes nasional di Iran telah memasuki hari ke-23. Pemerintah terus melakukan penindasan dan penutupan informasi terhadap para demonstran. Menurut konfirmasi dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), lebih dari 4.000 orang telah tewas dalam gelombang protes ini, sementara 9.049 kasus kematian lainnya masih dalam proses verifikasi. Namun, berdasarkan laporan sejumlah media, jumlah korban tewas dikhawatirkan telah melampaui 20.000 orang.
Penindasan di Iran Berlanjut, Uni Eropa Siapkan Sanksi Baru dan Pembatasan EksporMenurut statistik awal HRANA, penindasan yang dilakukan otoritas Iran telah menyebabkan 4.029 orang tewas, termasuk 3.786 demonstran, 180 personel keamanan, 28 anak-anak, serta 35 warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi protes.
Selain itu, setidaknya 5.811 orang mengalami luka berat dalam operasi penindasan, sementara jumlah orang yang ditangkap meningkat menjadi 26.015 orang. Di tengah pemblokiran informasi yang ketat di Iran, angka korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Wakil Presiden Komisi Eropa sekaligus Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, pada Selasa (20/1/2026) menyatakan bahwa Uni Eropa mengusulkan pembatasan ekspor baru terhadap komponen yang dapat digunakan Iran untuk memproduksi drone dan rudal. Ia juga menegaskan bahwa Uni Eropa sedang menyiapkan sanksi tambahan sebagai respons atas penindasan brutal Iran terhadap para demonstran.
“Hari ini kami akan mengusulkan sanksi teknis baru yang menargetkan komponen yang dapat digunakan Iran untuk memproduksi drone dan rudal. Langkah ini akan semakin membatasi kemampuan Iran dalam terus mendukung agresi Rusia terhadap Ukraina,” katanya.
“Selain itu, kami juga tengah menyusun sanksi baru terhadap penindasan kejam rezim Iran terhadap para demonstran, guna mendukung tuntutan sah rakyat Iran. Kami sedang secara aktif mengevaluasi langkah-langkah lanjutan yang dapat diambil,” tambahnya.
Iran Melontarkan Ancaman Pribadi terhadap Presiden Trump, Trump Memberi Tanggapan KerasPada Selasa, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, kembali melontarkan pernyataan keras dan secara langsung menyampaikan ancaman terhadap keselamatan pribadi Presiden Trump.
Sebelumnya, Presiden Trump telah menyerukan agar pemerintahan Ayatollah Khamenei yang telah berkuasa hampir 40 tahun diakhiri, serta menegaskan bahwa “Iran sudah saatnya mencari kepemimpinan baru.”
Kapal Induk AS “USS Abraham Lincoln” Melintasi Selat Malaka, Armada Dapat Tiba di Timur Tengah dalam Hitungan HariSementara itu, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya ditempatkan di Laut Tiongkok Selatan, telah melintasi Selat Malaka pada Selasa.
Seorang pejabat Angkatan Laut AS yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa kapal induk tersebut bersama tiga kapal perusak pengawal sedang berlayar ke arah barat.
Meskipun pejabat AS tidak secara eksplisit menyatakan bahwa gugus tempur kapal induk tersebut menuju Timur Tengah, berdasarkan arah pelayaran dan posisinya saat ini, armada tersebut diperkirakan hanya membutuhkan beberapa hari untuk mencapai kawasan Timur Tengah.
Organisasi Perlawanan Kurdi Iran Membentuk Pasukan “Berani Mati” untuk Menggulingkan RezimSeiring dengan penindasan berdarah terhadap protes nasional, sejumlah kelompok perlawanan di Iran menilai bahwa rezim Iran semakin kehilangan kekuasaan dan dukungan rakyat, dan era pemerintahan teokratisnya mendekati akhir.
Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) merupakan organisasi perlawanan Kurdi terbesar dan tertua di Iran. Salah satu unitnya menyebut diri mereka sebagai “pasukan berani mati.”
Wartawan internasional senior Ben Wedeman mengatakan: “Ini hanyalah salah satu dari banyak organisasi yang selama puluhan tahun telah bersiap untuk hari ketika rezim Teheran tumbang.”
Pemimpin KDPI, Mustafa Hijri, menyatakan: “Dukungan Eropa dan Amerika terhadap rakyat Iran sungguh mengharukan, tetapi rakyat tidak akan menggantungkan harapan mereka pada keputusan dan tindakan Presiden Trump atau pemimpin internasional lainnya.”
Seorang perempuan berusia 19 tahun, Farina, melarikan diri dari rumahnya di Iran dan kini menjadi anggota pasukan Kurdi “berani mati”. Ia sedang menjalani pelatihan sebagai penembak jitu.
“Di Iran, kami sama sekali tidak memiliki hak, terlebih lagi sebagai perempuan. Inilah alasan saya bergabung dengan pasukan berani mati: untuk membela hak kami sebagai orang Kurdi dan sebagai perempuan,” ujarnya.
Laporan gabungan oleh Zhao Fenghua, reporter New Tang Dynasty Television.


