Ponaryo Astaman: Kilau Trofi FIFA Picu Motivasi Menuju Tahun 2030

tvrinews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Rifiana Seldha

TVRINews, Jakarta

Kilau trofi Piala Dunia FIFA 2026 menyapa Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026. Lebih dari sekadar pameran simbol supremasi sepak bola dunia, kehadiran trofi emas ini menjadi momen emosional, sebuah pengingat bahwa mimpi tampil di panggung tertinggi sepak bola bukan lagi sesuatu yang mustahil bagi Indonesia.

Di tengah antusiasme FIFA World Cup 2026 Trophy Tour, dua sosok penting sepak bola nasional turut berbagi pandangan, yaitu legenda Timnas Indonesia Ponaryo Astaman serta pengamat sepak bola kenamaan Haris Pardede atau Bung Harpa. Keduanya sepakat, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik refleksi sekaligus penyulut harapan besar menuju Piala Dunia 2030.

Trofi yang Menghidupkan Mimpi

Bagi Ponaryo Astaman, kehadiran fisik trofi Piala Dunia memiliki dampak psikologis yang jauh melampaui nilai visualnya. Ia menyebut trofi tersebut sebagai simbol tertinggi dalam sepak bola, sebuah tujuan akhir yang mampu mengubah cara pandang pemain muda Indonesia terhadap mimpi mereka.

“Trofi ini adalah lambang tertinggi di sepak bola itu sendiri,” ujar Ponaryo. 

Menurutnya, melihat langsung trofi Piala Dunia bisa menumbuhkan motivasi dan kesadaran baru bagi generasi muda untuk menekuni sepak bola secara lebih serius dan terarah. “Motivasi buat mereka, kemudian menghidupkan mimpi mereka dan dari situ pasti akan tumbuh energi buat mereka,” ujarnya kepada jurnalis tvrinews.com, saat ditemui di Gedung TVRI Nasional, Kamis, 22 Januari 2026. 

Ia menekankan bahwa anak-anak muda inilah yang kelak akan membawa nama Indonesia di masa depan. Karena itu, pengalaman melihat trofi Piala Dunia bukan sekadar inspirasi sesaat, melainkan pemantik tujuan jangka panjang dalam perjalanan karier mereka.

Asia Tenggara: Gairah Besar, Tantangan Nyata

Ponaryo juga menyoroti posisi Asia Tenggara dalam peta sepak bola dunia. Dari sisi animo dan atmosfer, kawasan ini disebutnya sebagai salah satu yang terbesar secara Asia dan global. Jumlah penduduk yang besar dan tingginya minat terhadap sepak bola menjadi modal penting untuk berkembang.

Namun, ia mengingatkan bahwa gairah saja tidak cukup. Tantangan utama Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih terletak pada infrastruktur, metode kepelatihan, serta konsistensi pembinaan dari level grassroot hingga senior. “Ini yang harus dipelajari oleh negara-negara Asia Tenggara ke negara-negara yang lebih maju,” tegasnya.

Meski begitu, Ponaryo optimistis terhadap potensi Indonesia. Dari sisi bakat, ia menyebut Indonesia sebagai salah satu yang terbaik se-Asia. “Talent kita sebetulnya diakui,” katanya, menegaskan bahwa Indonesia memiliki titik awal yang lebih baik dibandingkan banyak negara lain di Asia Tenggara.

Peluang yang Harus Dijemput

Optimisme serupa disampaikan Haris Pardede. Bicara tentang Ekspansi 48 tim di Piala Dunia 2026 yang akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah. Ada perdebatan antara inklusivitas (memberi peluang negara berkembang) dan risiko penurunan kualitas kompetisi. Ia melihat ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim sebagai peluang strategis, bukan ancaman terhadap kualitas kompetisi. Menurutnya, kebijakan FIFA ini membuka ruang bagi negara-negara yang selama ini nyaris lolos untuk akhirnya mencicipi panggung dunia.

“Dengan bertambahnya peserta Piala Dunia berarti memberikan kesempatan bagi negara-negara yang selama ini hampir lolos atau belum berkesempatan tapi punya peluang untuk lolos,” ujar Bung Harpa saat ditemui pada lokasi yang sama. 

Ia menilai FIFA telah mempertimbangkan berbagai tantangan teknis, sementara publik dunia justru diuntungkan dengan makin luasnya demam Piala Dunia.

Bagi Indonesia, format baru ini menghadirkan harapan yang realistis. Bung Harpa mengingatkan bahwa Indonesia sebelumnya sempat berada di ambang kelolosan. Dengan jatah Asia yang lebih besar, peluang itu dinilainya semakin terbuka menuju edisi-edisi Piala Dunia berikutnya.

Piala Dunia 2030: Harapan, Pembenahan, dan Persatuan

Ketika berbicara tentang Piala Dunia 2030, Bung Harpa menggarisbawahi pentingnya pembenahan menyeluruh. Ia menaruh harapan pada era kepelatihan baru di bawah Pelatih John Herdman, yang baru saja ditunjuk PSSI, sebagai momentum membangun kembali fondasi Timnas Indonesia.

“Lebih belajar dari kesalahan, lebih bersatu lagi fans, federasi dan juga pemain,” ucapnya. Baginya, kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada kualitas teknis, tetapi juga pada persatuan seluruh elemen sepak bola nasional.

Ia bahkan menyebut Piala Dunia sebagai mimpi kolektif menjelang satu abad Indonesia merdeka. Sebuah kebanggaan nasional yang akan memiliki makna historis jika mampu terwujud sebelum 100 tahun kemerdekaan.

Peluang Indonesia menjadi Tuan Rumah?

Tak hanya soal tampil sebagai peserta, wacana Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia juga mencuat. Bung Harpa menilai peluang itu memang belum dekat, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Dengan tren Piala Dunia multi-tuan rumah, Indonesia disebut bisa membuka peluang kerja sama regional di masa depan.

“Mungkin bisa juga kerja sama di tempat rumah bersama,” katanya, menyebut kemungkinan kolaborasi dengan negara-negara seperti Australia atau Malaysia. Menurutnya, gagasan menggelar Piala Dunia di halaman rumah sendiri akan menjadi pencapaian luar biasa bagi Indonesia.

Kilau trofi Piala Dunia di Jakarta mungkin hanya singgah sementara. Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih abadi, yakni mimpi besar membutuhkan visi, pembenahan, dan keberanian untuk percaya. Dari trofi emas itu, harapan Indonesia menuju Piala Dunia 2030 kembali dinyalakan, kali ini dengan keyakinan yang lebih matang.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Viral Warga di Bangka Barat Dilabrak Kades gegara Kritik Menu MBG hingga Ancam Diusir
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Hujan Guyur Jakarta, Warga di Sembilan Wilayah Ini Diminta Waspada
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Profil Agung Surahman, Sekretaris Pribadi Prabowo yang Menikah dengan Aulia Mahardiana, Presiden sampai Nangis
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Memaknai Pergulatan Batin Para Pengacara dalam Terang Kisah Santo Bartolo Longo
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG Ingatkan Potensi Hujan di Sejumlah Kota Besar, Waspada Peningkatan Cuaca Ekstrem
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.