Liputan6.com, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan terkait kondisi sumber daya air global. Dalam laporan yang dirilis pada Selasa, PBB menyatakan bahwa dunia kini sedang memasuki era yang disebut sebagai “kebangkrutan air global,” sebuah kondisi ketika sistem air tidak lagi mampu mendorong kebutuhan manusia dan lingkungan secara berkelanjutan.
Laporan yang diterbitkan Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (United Nations University Institue for Water, Environment, and Health) mengungkapkan bahwa penurunan terhadap cadangan air tanah yang kronis, alokasi air yang berlebihan, degradasi lahan, deforestasi, dan polusi. Seluruh faktor tersebut diperparah oleh dampak perubahan iklim yang semakin ektsrem.
Advertisement
Menurut laporan, berbagai wilayah telah melampaui batas hidrologisnya, yakni ambang kemampuan alam dalam menyediakan dan memulihkan sumber daya air. Akibatnya, istilah-istilah umum yang digunakan seperti “stres air” dan “krisis air,” tidak lagi mencerminkan kenyataan di banyak area, melainkan telah memasuki tahap pascakrisis yang ditandai dengan kerugian permanen dan ketidakmampuan untuk pulih ke tingkat historis.
Penulis utama dalam laporam, Kaveh Madani menilai situasi ini sebagai peringatan keras global. “Laporan ini mengungkapkan kebenaran yang tidak mengenakkan. Banyak wilayah hidup melebihi kapasitas hidrologis mereka, dan banyak sistem air penting telah mengalami kebangkrutan," tuturnya, melansir Antara, Kamis (22/01/2026).
Menurutnya, meski tidak semua negara atau cekungan sungai telah mencapai tahap kebangkrutan air, jumlah sistem utama yang telah melewati ambang batas tergolong signifikan. Hal ini, telah mengubah lanskap risiko global.


