jpnn.com, ACEH TENGAH - Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) melalui Satuan Tugas Kebencanaan melaksanakan misi kemanusiaan ke Desa Kala Segi dan Desa Toweren, Kabupaten Aceh Tengah, berkontribusi dalam penanganan serta pemulihan pascabencana banjir bandang.
Kegiatan itu dipimpin langsung oleh Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan serta melibatkan kolaborasi dengan Posko Rakyat Aceh Tengah dan Ikatan Alumni (ILUNI) FTUI.
BACA JUGA: Ini Daftar Lengkap 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya Imbas Bencana Sumatera
Dalam kunjungan tersebut, FTUI menyalurkan bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Di Desa Kala Segi, bantuan berupa alat tulis dan perlengkapan kebersihan diberikan untuk mendukung pemulihan aktivitas pendidikan dan lingkungan.
BACA JUGA: Kawasan Danau Menjer Berubah Jadi Bangunan Komersil, Warga Khawatir Bencana Longsor
Sementara masyarakat Desa Toweren menerima bantuan mesin pemotong kayu yang diharapkan dapat dimanfaatkan bersama untuk mendukung rehabilitasi infrastruktur serta pemulihan ekonomi warga.
Tidak hanya menyalurkan bantuan, tim Satgas Kebencanaan FTUI juga melakukan pemetaan kebutuhan lapangan dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan lokal.
BACA JUGA: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Shelter Kits untuk Korban Bencana Sumatra
FTUI turut melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang diwakili oleh Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasanbersama Kepala Dinas PUPR Pijas Visara.
Pertemuan tersebut membahas hasil awal dan rencana assessment terkait fenomena sinkhole dan potensi longsor di sejumlah wilayah terdampak.
Diskusi juga menyoroti pentingnya analisis kondisi tanah dan geologi sebagai dasar penguatan mitigasi bencana ke depan.
Selain aspek kebencanaan, pembahasan turut mencakup penataan kawasan di luar wilayah Danau Laut Tawar dengan memperhatikan prinsip keselamatan, tata ruang, dan keberlanjutan lingkungan.
Potensi pengembangan pariwisata Danau Laut Tawar yang terintegrasi dengan perencanaan wilayah juga menjadi salah satu agenda diskusi, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia pemerintah daerah di bidang pariwisata.
Muchsin menyampaikan kesiapan pemerintah daerah untuk memfasilitasi kolaborasi dengan Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI FTUI), khususnya dalam pendampingan teknis dan penerapan mitigasi bencana secara berkelanjutan di Aceh Tengah.
“Kami menyambut baik keterlibatan Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang tidak hanya hadir dengan bantuan kemanusiaan, tetapi juga dengan pendekatan keilmuan dan teknologi,” ucap Muchsin.
“Kolaborasi ini sangat penting untuk memperkuat mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan Aceh Tengah yang lebih aman dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, merupakan salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang menyapu permukiman dan area persawahan warga di empat desa, yakni Toweren Toa, Toweren Uken, Toweren Antara, dan Toweren Uwaq.
Kerusakan fasilitas serta terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat menjadi perhatian utama dalam dialog antara FTUI, warga, dan pengelola posko yang berlangsung di meunasah setempat.
Sementara itu, Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan menekankan pentingnya semangat kebersamaan dalam proses pemulihan pascabencana.
“Mesin dan alat yang disalurkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh masyarakat yang membutuhkan. Pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi, solidaritas, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” tutur Kemas.
Prof. Kemas juga meninjau rumah adat di Desa Toweren yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi masyarakat setempat, sekaligus memerlukan perhatian khusus agar tetap terlindungi dalam proses pemulihan wilayah.
“Akademisi FTUI merencanakan analisis kondisi tanah di sejumlah lokasi terdampak, menyusul kekhawatiran warga terkait kestabilan tanah pascabanjir,” tuturnya.
Beberapa wilayah, seperti Umang Isaq, Serule, serta kawasan Pondok Balek di Kecamatan Ketol, dilaporkan mengalami retakan dan lubang besar yang berpotensi menimbulkan bencana susulan.
Analisis ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi teknis terkait keamanan permukiman dan mitigasi risiko di masa mendatang.
Di saat yang sama, tim peneliti FTUI turut melakukan observasi lapangan dan penyaluran bantuan tanggap darurat di wilayah terdampak lainnya. (mcr4/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... ECIF 2024 Sediakan Peluang Karier Bagi Mahasiswa dan Alumni FTUI
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi



