Bisnis.com, JAKARTA — Terbatasnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan aset masih menjadi tantangan utama bagi perusahaan asuransi dalam memasarkan produk asuransi properti. Selain faktor literasi, sensitivitas harga dan persepsi bahwa asuransi hanya bersifat pelengkap pembiayaan turut membatasi penetrasi produk di pasar.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebut tantangan tersebut diperparah oleh kompleksitas produk dan ketentuan polis yang kerap sulit dipahami nasabah.
“Selain itu, kompleksitas produk dan wording polis juga kerap menjadi hambatan,” kata Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepada Bisnis, Rabu (21/1/2026).
Menurut Budi, untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan asuransi perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat, menyederhanakan produk, serta meningkatkan kualitas layanan, terutama dalam penanganan klaim agar kepercayaan nasabah dapat terjaga.
Pandangan serupa disampaikan PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo. Perusahaan menilai tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi properti masih perlu terus ditingkatkan. “Oleh karena itu, perusahaan menjawabnya melalui edukasi berkelanjutan, penyederhanaan produk, dan penguatan kemitraan,” tutur Sekretaris Jasindo Brellian Gema Widayana kepada Bisnis, Kamis (22/1/2026).
Berdasarkan data perusahaan hingga November 2025, premi asuransi harta benda Jasindo tercatat sebesar Rp754,17 miliar atau meningkat sekitar 6,4% year on year (YoY).
Baca Juga
- AAUI: Perpanjangan PPN DTP Dongkrak Premi Asuransi Properti
- Lippo (MPPA) Tantang Alfamart-Indomaret Cs, Suntik Ritel Toko Mama
- Jelang Akuisisi INET, Alih Daya (PADA) Tarik Utang Rp165 Miliar dari BCA
Sementara itu, PT Asuransi Asei Indonesia juga menilai rendahnya literasi asuransi properti, terutama di luar kewajiban Kredit Pemilikan Rumah (KPR), masih menjadi tantangan utama dalam pemasaran produk. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, persepsi bahwa asuransi properti hanya merupakan biaya, bukan kebutuhan, serta sensitivitas harga premi di segmen rumah menengah ke bawah turut memengaruhi permintaan.
“Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan asuransi dapat menempuh langkah edukasi melalui mitra bank dan developer bahwa asuransi adalah perlindungan aset jangka panjang,” ucapnya. Selain itu, pengembangan produk modular dinilai penting agar nasabah dapat memilih cakupan sesuai kebutuhan dan kemampuan. “Terakhir adalah dgitalisasi pemasaran dan klaim untuk meningkatkan customer experience dan kepercayaan,” tutup Dody.
Sebagai informasi, AAUI mencatat pendapatan premi lini usaha properti pada kuartal III/2025 mencapai Rp24,75 triliun atau tumbuh 5,4% YoY. Pada periode yang sama, nilai klaim yang dibayarkan justru turun 2,9% menjadi Rp5,42 triliun.





