Investasi Fraksionasi Plasma untuk Obat Derivat

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Harga obat yang mahal sering menjadi kendala masyarakat mendapat pengobatan maksimal. Kehadiran SKPlasma dari Korea Selatan yang akan memproduksi produk obat derivat plasma (plasma derived medicinal products/PDMP) di Indonesia menjadi investasi berharga agar harga obat lebih terjangkau.

Para pekerja bangunan sibuk mengerjakan tugas masing-masing di area fasilitas fraksionasi plasma PT SKPlasma Core Indonesia yang berada di kawasan Karawang International Industrial City (KIIC), Karawang, Jawa Barat, pada 18 Desember 2025. Beberapa alat fraksionasi plasma sudah terpasang, begitu pula dengan alat-alat penunjang fasilitas yang lainnya.

Rombongan wartawan diajak berkeliling ke pabrik yang sudah hampir selesai dibangun, mulai dari ruangan fractionation, purification, hingga aseptic filling (pengisian aseptik) dalam proses pengemasan obat. Selain itu, rombongan juga diajak melihat ruangan berpendingin untuk menyimpan darah.

Direktur Teknik PT SKPlasma Core Indonesia Yongjae Yoo menjelaskan, semua fasilitas fraksionasi plasma dengan progres konstruksi yang sudah mencapai 98 persen. Pembangunan fasilitas sudah dimulai sejak tahun 2024. Diharapkan, pabrik tersebut bisa beroperasi pada akhir 2026.

Berdasarkan penjelasan Yongjae, proses fraksionasi plasma untuk menghasilkan PMDP imunoglobulin, albumin, dan faktor VIII dimulai dari pengolahan bahan baku plasma melalui empat tahapan utama atau stasiun produksi. Proses ini berawal dari fraksionasi di mana plasma sebagai material dasar diproses melalui puluhan tahap intermediasi yang melibatkan teknik penetrasi, aktivasi, korelasi, hingga proses presipitasi atau pemisahan.

Baca JugaHarga Obat Mahal Turut Disebabkan Biaya Pemasaran dan Distribusi

Untuk produksi albumin, prosesnya menjadi dasar bagi seluruh produk PMDP dengan menggunakan metode filtrasi penuh, sementara produk imunoglobulin menggunakan metode filtrasi kapiler dalam dua langkah untuk meningkatkan kualitas pemurnian. Setelah fase pemisahan tersebut, proses berlanjut ke likuidasi (stasiun liquefied) untuk menghilangkan hambatan atau kotoran. Selanjutnya tahap kromatografi untuk memastikan keamanan dan sterilitas produk, serta tahap konsentrasi dan formulasi guna menghasilkan final bulk.

Memasuki tahap akhir, produk yang telah menjadi final bulk dipindahkan menuju stasiun pengisian (filling) dan akhirnya ke stasiun pengemasan (packaging) sebelum disimpan di gudang penyimpanan (storage warehouse).

Fasilitas fraksionasi plasma itu dirancang untuk kapasitas proses 600.000 liter plasma darah dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan total area 5 hektar, pabrik dirancang beroperasi sesuai dengan standar good manufacturing practices (GMP) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Pangan dan Obat Korsel (MFDS).

Kemitraan strategis

Sebelumnya, SKPlasma telah mengoperasikan fasilitas manufaktur bersertifikasi GMP di Andong, Korsel. Produk SKPlasma juga telah memperoleh persetujuan GMP lebih dari 10 negara.  

Yongjae mengatakan, fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan obat derivat seperti imunoglobulin, albumin, dan faktor VIII.

PT SKPlasma Core Indonesia merupakan perusahaan patungan antara SKPlasma, bagian dari SK Grup Korea dan Indonesia Investment Authority (INA). Perusahaan tersebut bergerak di bidang manufaktur PMDP, untuk mendukung pembangunan pabrik produk fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia.

Pada Desember 2025, PT SKPlasma Core Indonesia mendapat kredit sindikasi senilai Rp 3,7 triliun dari PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) bersama PT Bank Mega Tbk (MEGA).

”Pembangunan fasilitas fraksionasi plasma ini merupakan langkah penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia melalui pembangunan kapasitas produksi yang berkelanjutan di dalam negeri,” kata Ridha Wirakusumah, Ketua Dewan Direktur INA.

Baca JugaFraksionasi Plasma Cegah Rp 3,5 Miliar Terbuang Percuma Per Tahun

Ridha menambahkan, kerja sama ini lebih dari sekadar pembangunan fasilitas, inisiatif ini membangun fondasi industri, mulai dari kepastian pasokan, standar mutu dan tata kelola produksi, hingga kesiapan infrastruktur. Hal itu diperlukan agar pasien Indonesia memiliki akses berkelanjutan terhadap obat-obatan esensial berbasis plasma.

Presiden Direktur SKPlasma Core Indonesia Ted Roh mengungkapkan, latar belakang kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan dalam upaya penyediaan obat berkualitas. ”Saat ini, salah satu masalah terbesar adalah Indonesia memasukkan 100 persen produk fraksionasi plasma dari luar negeri. Produk fraksionasi plasma sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Populasi penduduk 280 juta orang menjadi kekuatan negara ini,” katanya. 

Di sisi lain, Indonesia membuang hingga 200.000 liter plasma darah setiap tahun, yang berasal dari para pendonor darah. Plasma darah dibuang karena belum ada infrastruktur fraksionasi plasma di Indonesia. Akibatnya, bahan baku bernilai tinggi ini terbuang, padahal seharusnya bisa diolah menjadi obat yang dapat menyelamatkan nyawa pasien.

Ted mengatakan, Indonesia telah mengaktifkan program toll manufacturing paralel dengan fasilitas SKPlasma di Andong. Pada Maret 2025, RSUP Dr Sardjito dan Palang Merah Indonesia (PMI) berhasil mengirimkan batch pertama plasma yang dikumpulkan dari donor Indonesia ke fasilitas SKPlasma di Korea untuk diproses menjadi PMDP. Dua produk obat yang berhasil diproduksi dari plasma donor dan dikembalikan ke Indonesia adalah SK GammaBio (imunoglobulin) dan SK Albumin.

Pada 8 Desember 2025, SKPlasma Core Indonesia meluncurkan dua produk obat derivat tersebut saat peringatan Hari Kesehatan Nasional di Kementerian Kesehatan. SK GammaBio merupakan terapi imunoglobulin berbasis plasma untuk penanganan imunodefisiensi, penyakit otoimun, serta pencegahan dan pengobatan infeksi. Adapun SK Albumin digunakan untuk berbagai kondisi klinis seperti luka bakar, sindrom nefrotik, sirosis hati, dan syok hemoragik.

Baca JugaHarga Obat di Indonesia Mahal, Tata Kelola Pengadaan Obat Perlu Diperbaiki

Menurut Ted, SKPlasma akan membangun kapasitas produksi yang berkelanjutan untuk meningkatkan akses pasien terhadap obat-obatan esensial yang direkomendasikan WHO. ”Kami bukan hanya berbisnis, melainkan juga menciptakan nilai sosial, menolong sesama manusia. Kami juga menciptakan ESG, dengan menyimpan dan menggunakan plasma darah yang selama ini dibuang,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan juga mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjalankan operasional fraksionasi plasma. Pelatihan tenaga kerja dilakukan di Andong. 

”Kami sudah mengirimkan 15 orang untuk mendapat pelatihan. Tahun ini, kami akan mengirimkan lagi untuk pelatihan transfer teknologi kepada para teknisi,” ujar Ted.

Apabila operasional fraksionasi plasma sudah berjalan di Indonesia, harga obat derivat bisa lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. ”Penggunaan albumin di Indonesia cukup besar. Saya yakin dengan manufaktur lokal, harga bisa lebih murah dari obat impor. Selisihnya bisa 8-10 persen lebih murah,” kata Ted.

Produksi obat derivat di Indonesia akan menurunkan biaya dan meningkatkan stabilitas pasokan dengan mengurangi ketergantungan pada obat impor. Apalagi, obat derivat sangat penting bagi pasien yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan untuk imunodefisiensi dan gangguan pendarahan. ”Kami memiliki obat-obat penting yang bisa menyembuhkan lebih banyak orang,” ujarnya.

Baca JugaObat Bahan Alam Berpotensi Jadi Aset Strategis Nasional

Vice President of Investments Indonesia Investment Authority (INA) Andre J Cahyadi menambahkan, bidang kesehatan menjadi salah satu prioritas INA dalam berinvestasi. ”Dengan adanya proyek ini, kami berharap bisa meningkatkan keamanan kesehatan nasional. INA selalu bekerja sama dengan institusi kelas dunia, kami sangat bangga SK memilih kami untuk berpartisipasi membangun proyek ini bersama. Kami melihat SK memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun dalam bisnis ini,” katanya.

Epidemiolog dan pengamat kebijakan kesehatan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan, kerja sama INA dan SKPlasma bukan hanya soal kesiapan pabrik, melainkan juga harus ada sinkronisasi kebijakan antara Kemenkes dan BPOM.   

”Jika ekosistem ini terbentuk, Indonesia secara otomatis akan menjadi gravitasi baru bagi industri biofarmasi di Asia Pasifik, ya. Sebaiknya, investasi ini bukan hanya mengurangi impor, melainkan juga menekankan pada adanya konsep health sovereignty,” tutur Dicky.

Menurut Dicky, investasi ini akan menciptakan ekosistem bioinformatik dan bioproses lokal yang masih menjadi masalah dalam industri farmasi Indonesia. ”Titik kritisnya sebetulnya adalah plasma raw material. Jadi, integrasi horizontal menjadi hal yang penting untuk mencapai kemandirian ini pemerintah harus mereformasi kebijakan donor melalui sistem contract fractionation. Misalnya, PMI atau fasilitas kesehatan harus mampu menyuplai plasma standar industri,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komdigi Tegur Akun X Pengunggah Burger Sayur MBG: Mungkin Ada Pengaduan
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Jadi Saksi Dalam Kasus Tata Kelola Minyak, Arcandra Ungkap Hal Ini
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ibu dan Anak Hilang Terseret Banjir di Tabanan, Tim SAR Polda Bali Sisir Sungai
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Gaya Prabowo Berpidato di WEF Annual Meeting 2026 di Davos Swiss
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
IBFEST Series 10 Hadir di 4 Kota, Telkomsel Cerahkan Literasi AI Generasi Muda
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.