IMF Kerek Proyeksi Pertumbuhan Indonesia

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Dana Moneter Internasional mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Namun, lembaga internasional itu sekaligus memberikan peringatan atas sejumlah risiko domestik yang berpotensi menghambat prospek perekonomian nasional.

Dalam laporan Executive Board Concludes 2025 Article IV Consultation with Indonesia yang terbit Kamis (22/1/2026), Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh sebesar 5,1 persen.

Proyeksi tersebut direvisi naik 0,2 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan IMF pada Oktober 2025 lalu. Direksi IMF menilai, reformasi struktural yang lebih berani, termasuk optimalisasi berbagai perjanjian dagang, berpeluang memperbaiki iklim usaha dan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Baca JugaTahun 2026, Pertaruhan Awal APBN Prabowo

Pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh ekspektasi inflasi yang terkendali serta defisit transaksi berjalan yang tetap terjaga, meskipun lingkungan global masih diliputi ketidakpastian.

Lewat laporan tersebut, IMF memandang Indonesia relatif tangguh dalam meredam dampak tekanan eksternal, baik dari sisi volatilitas pasar keuangan maupun meningkatnya ketegangan geopolitik.

Meski demikian, IMF mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai sejumlah risiko dari dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan belanja negara dan pelaksanaan program-program pemerintah.

“Perubahan kebijakan besar, jika tidak diimplementasikan dengan pengamanan yang cukup kuat, dapat meningkatkan kerentanan,” tulis IMF dalam laporannya.

IMF juga menyoroti peran Bank Indonesia (BI) dalam mendukung kebijakan fiskal pemerintah, khususnya melalui keterlibatan di pasar surat utang negara. Dalam jangka menengah, IMF merekomendasikan pengurangan secara bertahap kehadiran BI di pasar utang pemerintah guna meningkatkan partisipasi sektor swasta serta memperdalam likuiditas pasar.

Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan pemerintah terhadap bank sentral dalam pembagian beban pembiayaan fiskal. “Pelaksanaan belanja publik yang cermat dan peningkatan mobilisasi pendapatan sangat penting,” tulis IMF.

Sementara itu, Dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting Davos 2026 di Swiss, Kamis, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melampaui ekspektasi banyak pihak.

“Saya ingin menegaskan bahwa saya yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sangat mengejutkan banyak orang di dunia,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara konsisten berada di atas 5 persen dalam satu dekade terakhir, disertai inflasi yang terjaga di kisaran 2 persen serta defisit fiskal di bawah 3 persen dari PDB.

Kebijakan moneter

Dalam konferensi pers RDG BI Januari 2026, Rabu (21/1/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI akan terus memperkuat lini lain kebijakan moneternya, yakni untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian.

”Kebijakan ini ditempuh melalui penurunan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan ekspansi likuiditas moneter,” ujar Perry.

Ke depan, BI berkomitmen akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini sembari tetap mencermati ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut.

Baca JugaRupiah di Titik Nadir, Efektifkah Taktik ”Total Football” ala BI?

”Kami memang masih mencermati dan melihat ruang penurunan suku bunga ke depan. Timing-nya tentu saja kami akan (melihat) data dependen. Fokus kami sekarang ini menstabilkan dan membuat rupiah menguat,” lanjut dia.

Di sisi lain, BI akan mengintervensi pasar keuangan dalam jumlah besar, baik dalam transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

”Tidak segan-segan, kami gunakan cadangan devisa untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat,” ujar Perry


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aturan Sentralisasi DHE SDA ke Himbara Belum Terbit, Jadi Berlaku Pekan Ini?
• 22 menit lalubisnis.com
thumb
Presiden Prabowo tandatangani Piagam Dewan Perdamaian di Davos Swiss
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Lukisan Cadas Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Sulawesi Tenggara
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Carlos Parreira Sebut Madura United Semakin Kuat, Jelang Lawan Persija Jakarta
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Manuver Politik PSI untuk Pilpres 2029, Ahmad Ali Siapkan Gibran Hadapi Prabowo, Tuai Kritikan Pedas
• 8 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.