REPUBLIKA.CO.ID,CIREBON — Sebuah video yang menampilkan tindakan dua pria saling berciuman di sebuah klub malam di kawasan Jalan Tuparev, Kabupaten Cirebon, memicu kecaman luas. Pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, diminta segera bertindak adanya tindakan asusila tersebut.
Pemerhati sosial dan pendidikan Cirebon, Hera Damayanti, mengaku sangat marah melihat video tersebut. “Ini laki-laki dengan laki-laki, dilakukan di ruang publik, dipertontonkan, dan dibiarkan. Sebagai ibu dan pemerhati pendidikan, saya marah, kecewa, muak,”kata dia, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga
MUI Jabar Minta Aparat Tindak Tegas Dugaan Pesta Gay di Kota Wali Cirebon
HUT ke-56, Pelita Air Tawarkan Diskon 56 Persen Semua Rute Domestik
Mengunjungi Pusat Rehabilitasi dan Pelatihan Orang Utan Sumatera di Jambi
Apabila ditilik dari sejarahnya, dia mengatakan, Cirebon memiliki nilai religius yang melekat kuat karena menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Tanah Jawa. Di Cirebon pun terdapat salah satu wali sanga, yakni Sunan Gunung Jati.“Ini Kota Wali. Ada Sunan Gunung Jati. Jangan samakan dengan Las Vegas. Mau pada kualat atau bagaimana?”kata dia.
Hera pun menyoroti lemahnya pengawasan dan pembiaran terhadap penyimpangan seperti dalam video tersebut. Ia meminta agar Bupati Cirebon, Imron, dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun tangan mengatasi kondisi tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Seorang tokoh masyarakat Kabupaten Cirebon sekaligus pengamat hukum, Qoribullah juga mengaku terkejut dan menyayangkan adanya dugaan pesta LGBT di tempat hiburan malam wilayah Kabupaten Cirebon tersebut. “Pemerintah Kabupaten Cirebon seharusnya peka, mengingat Cirebon dikenal sebagai kota wali dan kota spiritual,”kata dia.
Peziarah di makam Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Rabu (5/6). - (Republika/Fuji E Permana)