Bisnis.com, JAKARTA — Penerbitan surat utang berlabel hijau atau obligasi berkelanjutan (sustainable bonds) pada 2026 masih diselimuti ketidakpastian di tengah dinamika global yang berisiko meminggirkan isu iklim. Namun sejumlah tema diestimasi menunjukkan performa kuat karena kebutuhan pembiayaan di sektor terkait.
Analisis Moody’s Ratings yang dikutip Bloomberg mengestimasi total penerbitan obligasi berkelanjutan sepanjang 2026 menembus US$900 miliar, menyamai angka pada 2025.
Obligasi hijau (green bonds) diramal mendominasi pasar surat utang berlabel hijau pada 2026, dengan nilai menembus US$530 miliar. Adapun penerbitan obligasi keberlanjutan diestimasi mencapai US$190 miliar dan obligasi sosial US$115 miliar.
Di sisi lain, Moody’s memperkirakan obligasi transisi akan menikmati momentum karena pasar instrumen berkelanjutan secara keseluruhan berhasil menepis sentimen negatif yang menyasar isu perubahan iklim. Penerbitan obligasi instrumen pada 2026 diproyeksikan mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp678,56 triliun. Nilai ini hampir dua kali lebih besar dibandingkan dengan total penerbitan pada 2024.
“Fokus global pada pembiayaan berkelanjutan untuk menutup kesenjangan investasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang material akan menopang pasokan obligasi berlabel hijau,” tulis para analis Moody’s.
Meski demikian, Moody’s mencatat bahwa tekanan politik serta kekhawatiran terkait keamanan energi dan gangguan perdagangan global berpotensi membuat isu keberlanjutan menjadi prioritas yang lebih rendah bagi sebagian penerbit.
Kendati masih mencakup porsi kecil dari total pasar obligasi berkelanjutan, obligasi transisi dipandang memiliki ruang pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan investor dan pelaku usaha terhadap instrumen berlabel yang dapat menyalurkan modal secara lebih spesifik untuk agenda dekarbonisasi.
Segmen ini juga dinilai mendapat momentum setelah lembaga global seperti International Capital Market Association (ICMA) dan Loan Syndications and Trading Association (LSTA) menerbitkan standar baru pada tahun lalu.
Sebelumnya, perkembangan obligasi transisi dinilai tertahan oleh persaingan dengan produk pembiayaan berkelanjutan lainnya, serta skeptisisme pasar terhadap penggunaan dana oleh sektor bahan bakar fosil, khususnya gas alam.
“Kami memperkirakan sebagian besar instrumen transisi akan diterbitkan oleh perusahaan nonkeuangan di sektor-sektor yang sulit diturunkan emisinya, termasuk minyak dan gas, semen, logam dan pertambangan, kimia, serta penerbangan,” tulis analis Moody’s.
Data Bloomberg Intelligence menunjukkan Jepang menjadi penerbit terbesar obligasi transisi sejak 2021, dengan total penerbitan hampir US$34 miliar atau lebih dari tiga per empat volume global. Selain itu, First Abu Dhabi Bank PJSC pada tahun lalu juga menerbitkan instrumen transisi pertamanya yang selaras dengan pedoman label transisi ICMA, yang digunakan untuk pembiayaan ulang proyek pembangkit listrik tenaga nuklir.
Performa Lesu Akhir 2025Optimisme yang diusung Moody’s terhadap instrumen surat utang yang membiayai dekarbonisasi pada 2026 tampak kontras dengan kinerja pasar keberlanjutan pada penutup 2025. Data Bloomberg Intelligence memperlihatkan bahwa total penerbitan obligasi berkelanjutan mencapai level terendah sepanjang tahun pada Desember 2025.
Pada Desember tahun lalu, penerbitan obligasi berkelanjutan secara total hanya mencapai US$116 miliar, dengan penurunan yang merata di semua kawasan.
“Performa penutupan di akhir tahun cukup lemah, terlebih setelah pasar surat utang keberlanjutan menorehkan rekor performa di sejumlah tema seperti obligasi hijau dan keberlanjutan,” tulis riset BloombergNEF.
Secara tahunan, penerbitan obligasi dan pinjaman hijau global justru mencetak rekor dengan nilai mencapai US$947 miliar pada 2025, menurut data Bloomberg Intelligence. Obligasi hijau, obligasi sosial, obligasi keberlanjutan, serta pinjaman hijau mencatatkan rekor kumulatif tahunan. Sebaliknya, penerbitan sustainability-linked bonds (SLB) dan obligasi transisi menurun dibandingkan dengan 2024, dengan SLB mencatatkan kinerja terlemah sejak 2020.
Di kawasan Asia-Pasifik, perusahaan dan penerbit yang terafiliasi dengan pemerintah menghimpun dana sebesar US$261 miliar melalui utang hijau, naik sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. China dan India menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, seiring dukungan kuat terhadap pengembangan energi terbarukan.
Di China, penerbitan obligasi hijau tercatat mencetak rekor tertinggi dalam sejarah dengan nilai US$138 miliar. Bank-bank besar nasional memimpin penerbitan ini, disusul dengan peluncuran obligasi negara hijau pertama China di London awal tahun ini.
Fenomena greenium atau biaya pinjaman yang lebih rendah pada obligasi hijau paling terasa di Asia-Pasifik. BloombergNEF mencatat bahwa sejumlah penerbit memperoleh diskon lebih dari 14 basis poin hanya dengan menggunakan label hijau pada November lalu. Obligasi hijau umumnya dimanfaatkan untuk membiayai transisi ke energi terbarukan atau transportasi rendah karbon.
BNP Paribas SA dan Credit Agricole SA tercatat sebagai penjamin emisi obligasi hijau terbesar tahun ini. Nilai outstanding obligasi hijau tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 30% dalam lima tahun terakhir dan kini menyumbang sekitar 4,3% dari total penerbitan obligasi global.
Penurunan suku bunga di AS serta kebutuhan pembiayaan ulang diperkirakan dapat mendorong penjualan obligasi hijau global hingga mencapai US$1,6 triliun pada tahun depan, menurut Crystal Geng, pimpinan riset ESG Asia di BNP Paribas Asset Management.




