Para turis diimbau waspada saat berlibur ke wilayah Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Pasalnya, aksi pencurian dengan modus menyamar sebagai pengemudi ojek online (ojol) tengah marak terjadi.
Kapolsek Kuta Utara, AKP I Ketut Agus Pasek Sudina, mengatakan para pelaku kerap mengincar turis warga negara asing (WNA) yang berada dalam kondisi mabuk usai pulang dari tempat hiburan malam.
“Kebanyakan memanfaatkan kelengahan WNA karena WNA sering mabuk di malam hari, barang-barangnya diabaikan. Makanya terjadi karena ada kesempatan,” katanya di Polres Badung, Jumat (21/3).
Para pelaku melancarkan aksinya dengan menggunakan jaket ojol. Namun, saat diperiksa, mereka tidak memiliki aplikasi mitra ojol. Ada pula pelaku yang sengaja mematikan aplikasi.
Para pelaku kemudian mangkal di sekitar area tempat hiburan malam sambil mengincar turis asing yang tengah berjalan kaki dalam kondisi mabuk.
Pelaku awalnya membuntuti korban sembari berpura-pura menawarkan jasa. Saat korban lengah, pelaku langsung merampas barang berharga milik korban.
“Dilihat dari CCTV, kemarin itu kebanyakan mereka menggunakan jaket-jaket ojol. Kan bisa dibeli di mana saja,” katanya.
Sebulan Ini 16 Pelaku DitangkapPolsek Kuta Utara telah menangkap sekitar 16 pelaku pencurian dengan modus paling banyak menyamar sebagai sopir ojol sejak Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pelaku berjenis kelamin perempuan dan sisanya laki-laki.
Sementara itu, sejak 1 Januari 2026 tercatat enam WNA telah melaporkan kasus pencurian ke Polsek Kuta Utara.
“Masih banyak ini yang masih saya kejar dulu (para pelaku), dipantau dulu. Kalau ada informasi, bantu-bantu lah,” kata Agus Pasek.
Agus Pasek menambahkan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah pencegahan terhadap aksi pencurian dengan modus menyamar sebagai ojol. Polisi berkoordinasi dengan aparat desa adat untuk rutin mengecek identitas para pengemudi ojol yang mangkal di kawasan Kuta Utara.
Selain itu, polisi juga meningkatkan patroli hingga melakukan penangkapan terhadap para pelaku.
“Jadi kita bisa meminimalisasi, setidaknya menakuti orang-orang palsu ini, oknum ojol palsu ini, supaya tidak melakukan aksi,” katanya.





