Di Dusun Bumisegoro, Borobudur, Kabupaten Magelang, restoran La Table mengolah bahan pangan yang sebagian besar berasal dari warga sekitar. Dari dapur ini, cerita tentang pangan lokal dirangkai satu per satu mulai dari asal bahan, proses pengolahan, hingga hubungannya dengan manusia dan lanskap budaya di sekitarnya.
Cerita pangan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berangkat dari desa-desa di sekitar Borobudur, dari kebun sayur, kandang unggas, dan lahan pertanian warga. Setiap bahan pangan menempuh perjalanan sebelum akhirnya tiba di dapur—melintasi jalan-jalan desa, jalur antarkecamatan, hingga kawasan wisata yang terus bergerak mengikuti arus pengunjung.
Perjalanan inilah yang kerap luput dari perhatian, padahal menjadi bagian penting dari pengalaman kuliner. Dari Yogyakarta menuju Borobudur, jarak sekitar 34 kilometer memperlihatkan perubahan lanskap yang nyata dari kepadatan kota menuju ruang pedesaan yang lebih tenang. Mobilitas yang stabil dan efisien memungkinkan rantai pangan tetap terjaga, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk tiba tanpa tergesa, siap menikmati pengalaman bersantap secara utuh.
Dalam konteks inilah kendaraan menjadi bagian dari ekosistem pangan, bukan sekadar alat transportasi. Skutik seperti Yamaha NMAX Turbo, misalnya, hadir sebagai penghubung antara kota dan desa—menempuh jalur panjang dengan ritme yang konstan, membawa manusia, bahan, dan cerita menuju satu meja makan. Kenyamanan berkendara dan kestabilan perjalanan memberi waktu bagi pengalaman kuliner untuk dimulai bahkan sebelum pengunjung duduk di kursi restoran.
Dari Dapur, Cerita Pangan DirangkaiMeski berada di kawasan Hotel Le Temple Borobudur, restoran La Table terbuka untuk umum. Pengunjung tidak harus menginap untuk menikmati menu yang disajikan oleh dapur hotel.
Di dapur La Table, Executive Sous Chef Muhammad Khoirul Huda menunjukkan langsung proses memasak menu andalan Filet de Saumon—salmon fillet yang dimasak dengan teknik pan-seared dan disajikan bersama saus krim lemon serta sayuran panggang. Ia menjelaskan, sebagian besar bahan masakan diperoleh dari petani lokal di sekitar Borobudur.
“Kita bekerja sama dengan petani lokal untuk seperti sayuran cabai, terus tomat dan lain sebagainya, terus telur, ayam, semuanya kita bekerja sama dari warga lokal,” kata Huda kepada Pandangan Jogja, Senin (17/11/2025).
Hanya daging impor tertentu yang digunakan untuk menu khusus. Selebihnya, sayur-mayur, telur, dan unggas dipasok langsung oleh warga sekitar. Bagi Huda dan tim, makanan yang sehat adalah makanan yang dihargai sejak dari sumbernya hingga disajikan di atas meja.
Standar, Teknik, dan Tanggung Jawab KetatFilosofi tersebut diterapkan secara konsisten melalui standar pengolahan yang ketat. Untuk menjamin kebersihan dan keamanan pangan, dapur La Table menerapkan standar Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).
Setiap hidangan disajikan dengan tampilan artistik, menggabungkan cita rasa lokal dengan teknik memasak modern. Beberapa menu andalan di antaranya Nasi Bakar Rendang, Le Temple Javanese Salad, dan Pumpkin Soup. Nasi Bakar Rendang terinspirasi dari warung nasi bakar Go Green, usaha kuliner pendahulu yang pernah dimiliki oleh pemilik hotel.
“Resepnya tidak berubah, hanya tampilannya kami tingkatkan sesuai standar fine dining,” jelas Huda.
Ekosistem Borobudur dalam Satu Meja MakanKonsep La Table tidak berhenti pada pengalaman bersantap. Melalui kerja sama langsung dengan petani dan produsen sekitar, restoran ini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Borobudur. Pemilik Hotel Le Temple Borobudur, Jolan Tachet, menekankan pentingnya menjalin relasi jangka panjang dengan warga sekitar.
“Kita ingin perekonomian warga juga tumbuh. Mereka bisa belajar standar hotel bintang lima dan menerapkannya dalam produksi sehari-hari,” tuturnya.
Hotel Le Temple berdiri di kawasan magic line yang menghubungkan Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur. Seluruh desain bangunan, taman, dan relief di hotel dan restoran sengaja dirancang agar memiliki keterhubungan dengan sejarah Borobudur.
Dari perjalanan, bahan pangan, dapur, hingga meja makan, pengalaman di La Table dirancang sebagai satu rangkaian yang utuh. Kuliner tidak dipisahkan dari ruang dan pergerakan yang membentuknya. Pangan lokal tidak hanya hadir sebagai rasa, tetapi sebagai cerita tentang bagaimana manusia, alam, dan mobilitas saling terhubung di kawasan Borobudur.
Liputan Kuliner Berbintang ini didukung oleh Yamaha sebagai bagian dari pembacaan perjalanan dan ekosistem pengalaman di kawasan Borobudur.




