MAKASSAR, KOMPAS — Sebanyak 10 kantong jenazah dibawa turun tim SAR gabungan dari puncak Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Namun, hanya dua kantong yang diisi jenazah utuh.
”Total ada 10 kantong yang ditemukan. Dua telah teridentifikasi. Ada juga yang baru hendak kami evakuasi,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii di Makassar, Jumat (23/1/2026).
Syafii mengatakan, dari total 10 kantong, hanya ada dua jenazah utuh. Mereka teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, pramugari; dan Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Jenazah Deden yang tiba di Posko DVI, Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, Rabu (21/1/2026), sempat sulit dikenali. Namun, pada Kamis, tim DVI menyatakan identifikasi bisa dilakukan.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulsel Komisaris Besar Muhammad Haris mengatakan, jenazah dengan nomor PM 62.B.02 itu cocok dengan antemortem nomor AM 006.
Jenazah, menurut dia, teridentifikasi sebagai Deden Maulana berumur 43 tahun. Alamat lelaki itu ada di Jalan Jati Raya 66H Sofia Nomor 15 RT 005 RW 006 Jati Padang, Pasar Minggu. Hal itu dipastikan lewat sidik jari, properti, dan ciri medis.
Kepala Pusat Indentifikasi Badan Reserse dan Kriminal Polri Brigadir Jenderal (Pol) Mashudi mengatakan, tim berhasil mengidentifikasi jenazah itu dengan memanfaatkan kulit sidik jari.
“Dengan pemeriksaan terhadap sampel sidik jari dan pembanding postmortem, maka kami bisa membandingkan secara manual. Secara saintifik atau keilmuan kami bisa meyakini, bahwa kantong jenazah nomor PM 62.B.02 atas nama Deden Maulana,” katanya.
Dengan temuan dalam 10 kantong jenazah itu, Syafii mengatakan, akan melakukan evaluasi kelanjutan operasi pencarian yang sudah memasuki hari ke tujuh ini.
“Kami akan mendengar masukan dari unsur udara dan darat. Apakah temuan sejauh ini sudah dianggap cukup atau belum? Jika harus diperpanjang, itu bukan sesuatu yang gampang. Personel yang terlibat harus memiliki kemampuan khusus,” katanya.
Syafii mengatakan, semakin hari operasi SAR kian sulit dilakukan. Tak hanya kendala cuaca tapi juga kekhawatiran tim pencari terkontaminasi berbagai hal dari jenazah.
“Karena kalau dilihat dari waktu kejadian rawan terjadi kontaminasi pada tim pencari. Sekarang, personel yang akan melakukan dan setekah melakukan operasi, harus melalui medical check up,” tambah Syafii.
Tak hanya itu, evaluasi juga akan dilakukan setelah kotak hitam (black box) telah ditemukan.
Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi Soerjanto Tjahjono mengatakan, penemuan black box bisa membuat penelusuran penyebab kecelakaan dilakukan lebih tepat.
”Namun, bila kita pandang perlu, saat ini memang ada hasil yang masih ada di dalam operasional penerbangan, kami akan mengeluarkan rekomendasi segera,” kata dia.




