Bisnis.com, JAKARTA – PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) angkat bicara soal rencana pemerintah dalam menggelontorkan dana senilai Rp101 triliun bagi industri tekstil Tanah Air.
Presiden Direktur Trisula Textile Karsongno Wongsodjaja menerangkan bahwa BELL belum mengetahui secara spesifik bentuk insentif tersebut kepada industri tekstil sehingga belum mampu menakar efeknya terhadap perseroan.
Meskipun begitu, BELL berharap dana tersebut dapat digelontorkan pemerintah untuk meminimalisasi ketergantungan industri tekstil Tanah Air terhadap produk impor sebagai penyedia bahan baku. Harapannya, hal itu dapat lebih efektif dalam mendorong kinerja industri TPT secara umum ke depan.
Selain itu, Karsongno berharap suntikan dana tersebut tidak justru membuat pesaing baru dalam industri TPT Tanah Air, seperti pendirian pabrik baru yang justru membuat persaingan di industri TPT kian ketat.
“Dan juga melengkapi ekosistem supplier yang sudah ada di Indonesia, seperti contohnya menggantikan produk-produk impor yang sekarang ini, industri textile masih harus mengimpor. Tapi bukan sebagai satu pabrik yang menjadi pesaing bagi kami,” katanya dalam paparan publik, Jumat (23/1/2026).
Selain itu, BELL juga menekankan pentingnya perlindungan industri tekstil melalui pengetatan terhadap impor tekstil ilegal ke dalam negeri. Terlebih, pada momentum Natal atau Lebaran saat permintaan pasar terhadap produk tekstil meningkat.
BELL saat ini tengah dalam upaya melepas ketergantungan dengan produk impor. Melalui penguatan R&D lewat Trisula Innovation Center, perseroan berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dari China.
Karsongno menerangkan, melalui Trisula Innovation Center, pihaknya tengah menjalin kolaborasi dengan supplier untuk dapat menciptakan produk-produk dengan nilai tambah baru bagi perseroan.
“Kami ingin agar perlindungan terhadap produk–produk impor ilegal bisa dihilangkan atau dikurangi agar tidak membanjiri pada saat nanti bulan-bulan ramai [pembeli],” katanya.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk membentuk BUMN baru yang didedikasikan khusus untuk sektor tekstil. Langkah strategis ini akan didukung oleh pendanaan jumbo senilai US$6 miliar atau setara dengan Rp101 triliun yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan rencana tersebut usai menggelar rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Hambalang pada Minggu (11/1/2026). Pembentukan entitas pelat merah baru ini bertujuan untuk memperkuat struktur industri tekstil nasional yang tengah menghadapi tekanan tarif global dan persaingan ketat.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan US$6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara," ujar Airlangga usai hadiri IBC Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026)




