JAKARTA, KOMPAS– Amerika Serikat secara resmi mengumumkan telah keluar dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Sejumlah pihak pun menyayangkan keputusan tersebut karena selain bisa berdampak pada kesehatan global juga memengaruhi masyarakat Indonesia dan berbagai negara lainnya.
Keputusan penarikan diri AS dari WHO disampaikan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS serta Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat. Penarikan diri tersebut dilakukan karena WHO diduga salah menangani pandemi Covid-19 dan krisis kesehatan global lainnya.
Dalam siaran pers pernyataan bersama Menteri Luar Negeri serta Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS disebutkan, keterlibatan AS dengan WHO di masa depan akan dibatasi secara ketat. Semua pendanaan dan staf AS untuk WHO juga telah dihentikan.
“Kami akan terus bekerja sama dengan negara-negara dan lembaga kesehatan terpercaya untuk berbagi praktik terbaik. Dan melindungi komunitas kita melalui model lebih terfokus, transparan, dan efektif yang memberikan hasil nyata, bukan birokrasi WHO yang gemuk dan tidak efisien,” demikian pernyataan bersama itu.
Keluarnya AS dari WHO juga dikonfirmasi wakil juru bicara PBB Farhan Haq. Surat pengunduran diri AS dari WHO telah diterima tertanggal 22 Januari 2025. Pengunduran diri berlaku satu tahun sejak surat tersebut diterima yang artinya secara resmi berlaku pada 22 Januari 2026.
Kami akan terus bekerja sama dengan negara-negara dan lembaga kesehatan terpercaya untuk berbagi praktik terbaik. Dan melindungi komunitas kita melalui model lebih terfokus, transparan, dan efektif yang memberi hasil nyata, bukan birokrasi WHO yang gemuk dan tidak efisien.
Selama satu tahun sebelum penarikan dirinya, AS masih memiliki kewajiban finansial yang harus dipenuhi kepada WHO. Selama jangka waktu itu, menurut WHO, jumlah tunggakan tersebut lebih dari 130 juta dolar AS. Namun pejabat pemerintah AS membantahnya dengan mengatakan AS tidak lagi memiliki kewajiban sebelum menarik diri sebagai anggota WHO.
Epidemiolog dan peneliti ketahanan kesehatan global dari Griffith University Australia Dicky Budiman, saat dihubungi di Jakarta, pada Jumat (23/1/2026), mengatakan, keluarnya AS dari keanggotaan WHO juga dapat berdampak bagi Indonesia.
Dampak tersebut sebenarnya sudah dirasakan sejak awal keputusan pada awal tahun lalu dengan menarik sejumlah bantuan ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. ”Banyak program yang bersifat technical assistance atau khususnya pada penguatan sistem kesehatan yang melemah,” tuturnya.
Hal itu disebabkan banyak organisasi internasional, termasuk organisasi yang berasal dari AS, seperti Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) dan USAID (Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat) yang memang berperan di program-program penguatan tersebut.
Dicky menambahkan, keluarnya AS dari WHO dikhawatirkan bisa berdampak pada sistem pertahanan global dari ancaman kesehatan. Dengan kondisi tersebut, maka ancaman itu juga bisa merugikan AS itu sendiri.
Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama menyampaikan, sejumlah hal mesti diantisipasi dengan keluarnya AS dari WHO. Terkait pendanaan yang selama ini didapatkan dari AS, maka WHO perlu mencari sumber dana lain serta melaksanakan efisiensi tanpa harus mengurangi produktivitas program kesehatan.
Sementara untuk Indonesia, negara-negara harus bisa menyediakan anggaran untuk proyek-proyek kesehatan masyarakat yang sebelumnya dibiayai oleh organisasi internasional yang didukung AS. Anggaran pemerintah pusat dan daerah harus dialokasikan untuk program kesehatan.
Selain itu WHO diharapkan tetap berkolaborasi dengan badan-badan regional lainnya seperti European CDC dan African CDC untuk mendapatkan data-data kesehatan global. Hal ini juga berlaku bagi Indonesia untuk memperkuat riset kesehatan masyarakat.
” Dengan keluarnya Amerika Serikat dari WHO, maka kontak kesehatan antara Amerika Serikat dari WHO maka kontak kesehatan antara Amerika Serikat dengan negara lain, termasuk Indonesia, menjadi bersifat bilateral. Ini tentu perlu pengaturan yang baik,” ucap Tjandra.
Sejumlah pihak menilai penarikan diri AS dari WHO bisa berdampak pada berbagai hal, terutama terkait dengan program kesehatan global. Ahli hukum kesehatan masyarakat di Georgetown University, Lawrence Gostin dikutip dari Associated Press, menuturkan, keluarnya AS bisa merugikan upaya global dalam penanganan wabah baru.
Keluarnya AS bisa merugikan upaya global dalam penanganan wabah baru.
Selain itu, keputusan tersebut dapat menghambat kemampuan para ilmuwan dan perusahaan farmasi AS dalam mengembangkan vaksin dan obat-obatan untuk masalah kesehatan baru. “Menurut saya, ini adalah keputusan Presiden (Trump) yang paling berakibat fatal dalam hidup saya,” ucapnya.
Adapun WHO merupakan badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang kesehatan. Lembaga ini bertugas mengoordinasikan respons berbagai pihak terhadap ancaman kesehatan global, seperti wabah Mpox, ebola, dan polio. Selain itu, WHO menyalurkan bantuan untuk negara-negara miskin dengan pendistribusian vaksin, obat, dan alat kesehatan.
Kritik terhadap keluarnya AS dari WHO disampaikan pula Ronald Nahass dari Infectious Diseases Society of America. Penarikan diri tersebut dinilai keliru. Dengan keluarnya AS, partisipasi AS dalam pertukaran data, termasuk data influenza internasional akan terhenti.
Padahal data tersebut amat penting untuk menjadi dasar penyesuaian vaksin influenza tahunan. Kondisi tersebut dapat berisiko bagi kesehatan masyarakat global, termasuk masyarakat di AS.
Sementara WHO pun telah menyesalkan keputusan pengunduran diri negara donor terbesar tersebut. Mengutip laporan pendanaan WHO, Amerika Serikat memberikan kontribusi sebesar 1.284 miliar dollar AS selama periode 2022-2023.
Jumlah itu merupakan yang terbesar dibandingkan dengan kontribusi pihak lainnya, seperti Jerman (856 juta dolar AS), Bill and Melinda Gates Foundation (830 juta dolar AS), dan GAVI (481 juta dolar AS). (Kompas.id, 21/1/2025).
Dikutip dari Straits Times, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan agar AS bisa mempertimbangkan kembali keputusan yang diambil. Ia berharap agar AS bisa mempertimbangkan dan bergabung kembali dengan WHO. “Keluar dari WHO bisa merugikan Amerika Serikat dan juga merugikan seluruh dunia,” ujarnya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482124/original/084849800_1769161440-InShot_20260123_162206652.jpg.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482137/original/093928500_1769162105-Screenshot_20260123_162641_Gallery.jpg)