Armuji Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya mengungkap alasan di balik sikap damai yang diambilnya saat terlibat polemik dengan organisasi masyarakat (ormas) Madas beberapa waktu lalu, tak lain untuk mencegah konflik horizontal antar warga.
Hal itu disampaikan Armuji saat mendampingi Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya, mengisi Program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2026). Wawali menjelaskan, alasan paling mendasarnya adalah kekhawatiran akan konflik horizontal.
“Kalau ini terus seperti itu, saya khawatir adanya terjadi benturan horizontal. Itu yang saya khawatirkan, itu yang saya jaga. Benar-benar saya sebagai pemimpin itu saya jaga,” ucapnya.
“Artinya kita itu kan juga miris kalau ini tidak segera diselesaikan. Saya juga berterimakasih dengan Rektor Unitomo mempertemukan, memberikan suatu ruang mediasi, dan akhirnya kita benar-benar bisa ee saling, saling memaafkan,” katanya.
Cak Ji sapaan akrabnya menjelaskan, persoalan itu bermula saat dirinya mengunjungi Nenek Elina, lansia 80 tahun yang rumahnya digusur dan diratakan jadi tanah oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Dia menjelaskan, fokusnya mengunjungi Nenek Elina sejatinya karena faktor kemanusiaan, bukan untuk menyudutkan ormas tertentu, dalam hal ini Madas.
“Fokus saya sebenarnya itu kan fokus kemanusiaan, di mana nenek yang berusia 80 tahun, mereka rumahnya dirobohkan, mereka diusir secara paksa dan bolak-balik saya bilang oknum kan begitu,” ujar Cak Ji.
Ia menegaskan bahwa sejak awal, tidak pernah membawa isu dalam kontennya itu ke arah suku atau kelompok tertentu.
“Di sosial media saya kan hampir 10 kali saya bilang oknum. Mungkin pada saat itu saya keceplosan bahwa ada logo dan segala macamnya. Tapi intinya begitu ramai di media sosial, seperti itu,” katanya.
Melihat jumlah viewer videonya yang mencapai 33 juta dan masifnya reaksi publik itulah, akhirnya Cak Ji sepakat untuk mengambli jalan tengah dengan Madas kala itu.
“Itu saya, yang lihat sampai 33 juta loh itu. Satu juta sekian komentar itu,” ucapnya.
Ditanya apakah ada arahan/paksaan dari Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya agar dirinya berdamai dengan Madas, Cak Ji menampik. Dia menegaskan bahwa keputusan itu murni dari dirinya sendiri.
“Oh, enggak. Saya enggak komunikasi. Artinya saya dengan sadar, dengan sendirinya,” katanya.
Pada kesempatan itu, Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya memuji keputusan yang diambil wakilnya itu. Menurutnya, apa yang dilakukan Cak Ji cerminan dari seorang pemimpin. Menurutnya, yang paling penting adalah dirinya dan Cak Ji bisa mengayomi Kota Surabaya.
“Keutuhan Surabaya jauh lebih penting daripada harga diri saya. Daripada harga diri saya, Cak Ji. Karena keutuhan bangsa, keutuhan kota ini adalah cita-cita kami sebagai pemimpin. Kalau kami hanya menuruti ego dan kami menuruti kemauan, tapi Surabaya ini hancur karena perang saudara, itu adalah kebodohan dan dosa besar yang kami lakukan,” ujarnya.
Dia juga tak mempermasalahkan kritik yang menyebutnya sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Negeri Seberang terkait permasalahan tersebut.
“Lah saya anggap aku dicap wali kota seberang, Cak Ji wakil wali kota seberang. Memang kita itu kan seberang kali, ada sungai Ketabang itu loh. Lah ya kan kita seberang-seberang, kantor kita memang di situ,” katanya sambil tertawa.(bil/ipg)


